Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Dalil dan Hadis

Digambarkan dalam Al Quran, ketika majikan putrinya merayu dia, sesungguhnya Nabi Yusuf pun sudah tertarik untuk menerima ajakannya. Bagaimanapun, beliau tetaplah seorang manusia yang memiliki gharizah nau' (naluri seksual atau instinc of race). Namun, karena teguh iman, Yusuf luput dari dosa besar itu, meski ia kemudian harus dipenjara karena fitnah si majikan.

Bayangkan, Nabi saja bisa tergoda untuk nyaris berzina. Bagaimana pula dengan manusia biasa. Apalagi, di jaman ini pintu menuju perzinaan kian terbuka lebar. Berbagai stimulus membombardir manusia setiap detik, sehingga naluri seksual dipacu untuk selalu menuntut pemuasan.

Karena itulah, banyak ayat Quran dan Hadits yang memberi tuntunan untuk menwcegah terjadinya zina, bahkan sejak menjaga pandangan pertama. Allah swt telah mewanti-wanti ummat Islam agar tidak terjebak zina yang terkutuk, sebagaimana diserukan dalam beberapa firman berikut:

1. “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS Al Mukminun 5-6)

2. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (yaitu jilbab sebagaimana yang dimaksud dalam QS. Al Ahzab/33: 59) dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur 30-31)

3. “Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS Al Isra 32).

Banyak pula hadits Nabi saw yang memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi perbuatan zina tersebut, misalnya:

a. Dari Jabir ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah kalian memasuki rumah wanita-wanita yang tidak ada suaminya, karena sesungguhnya setan berjalan pada diri seseorang di antara kalian pada jalannya darah. Kami bertanya: ‘Dan juga engkau?’ Sabdanya: ‘Ya juga saya, akan tetapi Allah menolong aku atas setan itu maka Allah selamatkan aku’.” (HR. Ahmad dan Attirmidzi).

b. Dari Jabir ra, Rasul berkata, “Ingatlah! janganlah seorang laki-laki menginap di sisi seorang wanita dalam satu rumah, kecuali dia menikahinya atau dia mahramnya.” (HR. Muslim).

c. Dari Ibnu Umar ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seorang laki-laki memasuki rumah wanita yang suaminya tidak ada sesudah hariku ini, kecuali bersamanya seorang laki-laki atau dua orang laki-laki.” (HR. Ahmad dan Muslim).

d. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw berpesan, “Tidak halal bagi seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari kiamat berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahramnya, kecuali bersamanya ada mahramnya.” (HR. At-Thabrani dan Al Baihaqi).

e. Dari Abu Umamah ra, Rasulullah saw berkata, “Berhati-hatilah kalian terhadap bersepi-sepian dengan wanita. Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang laki-laki yang bersepi-sepi dengan wanita, kecuali setan masuk di antara keduanya. Niscaya seorang laki-laki berdesak-desakan dengan babi-babi yang bergelimang dengan lumpur atau tanah kotor itu lebih baik baginya daripada ia berdesak-desakan (yaitu) pundaknya bertemu dengan pundak wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani dalam Syu’abil Iman).

f. Dari Ibnu Abbas ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seorang lelaki mendatangi seorang wanita, dan janganlah dia bepergian dengannya, kecuali bersamanya ada mahramnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

g. Dari Ma’qil, Rasulullah saw bersabda, “Niscaya (jika) di kepala seorang laki-laki disisir dengan sisir dari besi sampai kelihatan tulangnya, itu lebih baik daripada wanita yang bukan mahramnya menyentuhnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

h. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berkata, “Bagi setiap anak Adam ada bagiannya dari zina. Maka zinanya kedua matanya adalah memandang, zinanya lidah adalah membicarakan, zinanya kedua telingan adalah mendengar, kedua tangan zinanya adalah memegang, kedua kaki zinanya adalah berjalan dan mulut zinanya adalah mencium.” (HR. Abu Dawud).

i. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berpesan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan menjumpainya tidak ada tempat. Maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lidah adalah membicarakannya, zinanya jiwa adalah berangan-angan dan bersyahwat, sedangkan farji dialah yang membenarkan zina itu atau yang menolaknya.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

j. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berkata, “Apabila seseorang di antara kalian melihat wanita yang menyenangkannya, maka hendaklah dia kembali pulang menemui istrinya…”. (HR. Ibnu Hibban).

k. Dari Abu Sa’ied, Rasulullah saw berkaa, “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya, jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya, dan janganlah seorang laki-laki tidur satu selimut dengan sesama laki-laki, jangan pula wanita tidur satu selimut dengan wanita lainnya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Attirmidzi).

l. Dari Buraidah ra, Rasulullah saw mengatakan kepada Ali ra: “Wahai Ali, jangan kau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, maka sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang kedua.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Attirmidzi dan Al Hakim).

m. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya seorang wanita dipandang dari depan (terlihat) dalam bentuk setan, dilihat dari belakang pun dalam bentuk setan, maka apabila seseorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menarik hatinya, hendaklah dia mendatangi istrinya, maka akan dapat menolak apa yang ada di dalam jiwanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

n. Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah saw berkata, “Waspadalah kalian masuk di kalangan wanita.” (HR. Ahmad, Al Bukhari dan Muslim dan An-Nasai).

o. Dari Sa’d bin Mas’ud, Rasulullah saw berkata, “Waspadalah kalian masuk ke kalangan wanita, karena sesungguhnya tidak ada seorang laki-laki yang bersunyi-sunyi (khalwat) dengan seorang wanita yang tidak ada mahramnya, melainkan dia akan bernafsu terhadapnya.” (HR. Al Hakim dalam Kitab Asrarul Hajj).

p. Dari Ali, “Memandang wanita yang cantik adalah satu anak panah dari anak-anak panah iblis yang beracun, maka barangsiapa yang dapat memalingkan pandangan matanya darinya, maka Allah memberikan padanya ibadah yang manis rasanya.” (HR. Al Hakim).

q. Dari Abu Musa ra, Rasulullah saw berkata, “Tidak ada seorang wanita yang tidur bersama seorang wanita lainnya kecuali ia berzina, tidak ada laki-laki yang tidur bersama dengan laki-laki lain kecuali keduanya berzina.” (HR. Atthabrani dalam Al Kabir).

r. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berpesan, “Janganlah seorang laki-laki tidur bersama dalam satu kain dan jangan pula wanita tidur bersama dalam satu kain pula.” (HR. Ahmad dan Sa’ied bin Manshur dalam sunannya).

s. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berpesan, “Seorang lelaki jangan tidur bersama laki-laki lain, kecuali bapak dan anaknya.” (HR. Al Hakim dalam Attarikh).

Pendidikan Kenapa Mahal

Tahun 2012 terasa begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mulai dari presiden sampai menteri pendidikannya pun berbeda pula. Harapan awal adalah semoga tahun ini akan lebih baik. 

Namun, amat disayangkan oleh semua rakyat, justru permasalahan pendidikan tak kunjung usai. Malah saat ini permasalahan pendidikan sangat kompleks dan menjadi-jadi, sehingga tak tahu harus memulai dari mana untuk memecahkannya, mirip benang yang kusut.

Saya menjadi pesimis dengan keadaan Indonesia yang semerawut dan kacau balau seperti sekarang ini. Jika pendidikan sudah tidak ada yang memberikan jaminan kepada masyarakat dan khususnya kepada Negara, mau dibawa ke mana masa depan generasi Indonesia ini?? 

Padahal, sudah sangat jelas Undang-Undang dasar telah menuliskan “pendidikan itu ialah hak segala bangsa” dan tujuan dari pendidikan adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” bukan malah menguras dan memeras rakyat indonesia. 

Jika tujuan awal itu telah hilang maka sudah bisa diprediksikan nantinya akan menjadi seperti apa generasi Indonesia ini. Korupsi itu terjadi karena kost/biaya yang ia keluarkan untuk memperoleh jabatan tidak sedikit jumlahnya. Biaya kampanye, biaya iklan dan lain-lain, sehingga akhirnya yang tertanam dalam dirinya adalah bagaimana ia mengembalikan uang yang telah ia keluarkan. 

Jika hal ini dibiarkan maka semuanya tak akan pernah usai dan terselesaikan. Solusinya sangat sederhana, yaitu hilangkan budaya atau kebiasaan buruk dengan suap menyuap dan kurangi kost/biaya khususnya dalam jabatan peenting di pemerintahan, akan tetapi lebih mengutamakan pada kualitas dan integritasnya. Bukan malah  popularitas yang diutamakan.

Jangan hanya karena banyak uang kemudian dipilih menjadi ketua pimpinan. Jangan hanya karena popularitasnya dan tenar kemudian dipilih menjadi pemimpin. Tetapi, yang harus dipilih adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk memimpin dan betul-betul pemimpin yang sesungguhnya, tangguh, percaya diri dan memiliki prinsip serta taat terhadap agama secara baik dan benar.

Lebih penting adalah yang memiliki integritas, kapabilitas dalam dirinya. Siapakah mereka itu? Apakah masih ada orang yang seperti itu saat ini? Penulis yakin bahwa masih ada orang yang demikian.[]

Manusia Dan Tugasnya

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al-Baqarah [02] :30)

Sejak dahulu para pakar telah mencoba meneliti perihal makhluk yang bernama manusia dengan berbagai teori yang bersumber dari logika. Para Filsuf mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung terus menerus mencipta (uncountable creator). Para sahli ilmu sosial mengatakan bahwa manusia adalah makahluk yang cenderung berkumpul (zoon politicon) sehingga merasa tersiksa kalau diasingkan dari pergaulan antarmanusia. Sedangkan ahli jiwa mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang yang punya perasaan (felling), makhluk yang berpikir (thinking), dan berkeingingan (willing). Dan para ahli biologi mengatakan bahwa manusia itu tersusun dari unsure-unsur hayati.

Menurut Charles Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera (1859) dengan kata lain menegaskan bahwa manusia itu masih satu rumpun dengan kera. Evolusi yang dialami oleh kera-kera itu sekian juta tahun mengubahnya menjadi manusia seperti sekarang ini, dengan segala kelengkapan indrawi. Teori Drwin sampai pada saat ini masih menjadi perdebatan dan sangat bertentangan dengan kitab al-Qur’an yang menjadi pedoman umat islam, dalam al-Qur’an dijelaskan bagaimana manusia diciptakan oleh Allâh SWT.

Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa manusia itu memiliki banyak nama yaitu : Insân, Ins, Nas, Unas, Basyar, Banî Adam, dan Zuriat Adam. Allâh menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk yang teramat sempurna. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Proses Penciptaan Manusia
Allâh menciptakan manusia dari tanah, selanjutnya dari setetes sperma yang “hidup”dan bertemu dengan indung telur kemudian melakukan pembuahan di dalam perut seorang Ibu, sehingga jadilah manusia. Al-Qur’an menjelaskan penciptaan manusia dengan sejelas-jelasnya, “Kami jadikan dia sebagai mani dalam simpanan yang aman (rahim), lalu kami jadiakan mani itu segumpal darah, dari segumpal darah itu kami jadikan daging, kemudian kami jadikan kerangka tulang dan akhirnya kami bungkus tulang itu dengan daging. (Qs. Al-mu’minun : 12-14). Proses penciptaan manusia dalam rahim diawali dengan perjanajian antara ruh dengan Allâh swt, yang berisi tentang persaksian bahwa Allâh adalah sebagai Rabb.

Seperti dalam Surat Al-Arâf [07] ayat 172 dijelaskan. “ Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “bukankah aku ini tuhanmu? “mereka menjawab : “betul (engkau tuhan kami), kami menjadi saksi.” (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan : “sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang yang lemah terhadap ini (keesaan tuhan).

Telah jelas bahwa al-Qur’an sendiri telah menjelaskannya, akan tetapi bila terdapat beberapa hal yang belum diketahui oleh manusia, itu berarti ilmu yang dimiliki oleh manusia belum sampai dengan apa yang ada didalam al-Qur’an, karena sesungguhnya ilmu manusia tak akan mampu untuk memikirkan ciptaan Allâh swt.
Sebenarnya inilah yang harus kita akui, tidak semestinya menggugat al-Qur’an dan mengatakan apa-apa yang ada dalam al-Qur’an tidak rasional. Hati-hatilah dengan perkataan kita terhadap kalâmullâh karaena ilmu kita belum sampai untuk memikirkan ciptaan-ciptaanya.

Sesungguhnya berbicara tentang manusia tanpa instrumen iman kepada Allâh, sama artinya membicarakan sesuatu yang rumit dan cenderung tanpa jawaban yang pasti. Manusia adalah makhluk yang memiliki “unsure ke-illâhian”, maka tidak mungkin mendalami manusia tanpa melibatkan sang penciptanya.

Tugas Berat
Allâh menciptakan manusia dengan beberapa tujuan, selain tujuan untuk beribadah dan menjadi khalîfah di muka bumi sekaligus untuk menjaga bumi agar selalu konsisten berputar  pada porosnya. Selain itu manusia juga diperintahkan utuk mencari kehidupan yang layak bagi hidupnya di alam semesta ini.

Tugas manusia sebagai khalîfah dimuka bumi ini tak semudah membalikan tangan karena manusia yang Allâh karuniai dengan akal pikiran ini, memiliki karakter yang berbeda-beda. Selain itu, tugas manusia sendiri adalah menjaga alam agar tetap baik dan bukan pula sebaliknya. Alam bisa memberikan potensi yang baik bagi manusia bila saja manusia bisa mengolahnya dengan baik dan benar. Tentunya manfaat itu akan dirasakan oleh manusia itu sendiri.

Bukan menghancurkan dan memanfaatkannya untuk kepentingan sepihak tanpa memikirkan akibat yang akan diterima oleh manusia yang lain. Pemanasan global (global warming) ialah salah satu bentuk keserakahan manusia yang menguras manfaat alam ini tanpa memperdulikan akibat yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kerusakan di bumi pada abad ini adalah akibat dari kelalaian manusia terhadap tugasnya sebagai pengemban amanah.

Sebagai contoh adalah dalam penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi) yang berlebihan akan menghasilkan emisi gas buang, berupa arbon mono-oksida (co2) yang membuat lapisan ozon di kutub utara semakin menipis. Akibatnya suhu dibelahan kutub utara naik sebesar 1-3 derajat celcius, es di kutub utara mencair menyebabkan naiknya permukaan air laut. Terjadi perubahan iklim yang ekstrim, perbedaan antara musim hujan dan musim panas menjadi tidak jelas, dan lain sebagainya.

Menurut para pemerhati lingkungan baik individu maupun institusi/kelembagaan, menyimpulkan bahwa hal ini terjadi akibat kerusakan dan perubahan ekosistem yang luar biasa akibat perlakuan tidak ramah terhadap sumber-sumber daya alam yang selama ini menjadi tumpuan pendapatan ekonomi. Penebangan hutan dan pemanenan hasil alam dilakukan dengan cara yang tidak sehat, bahkan melanggar norma sehingga terjadi kerusakan lingkungan.

Fakta terjadinya kerusakan alam saat ini tidak dapat dipungkiri, terutama di Indonesia, kerusakan yang terjadi akhir-akhir ini terjadi akibat dari keruakan alam yang sangat berdampak terhadap kehidupan manusia. Disamping itu, setiap tahun bahwa negara kita menghasilkan jutaan ton sampah yang tak terkelola dengan baik, ditambah dengan adanya banjir. Ditambah lagi dengan udar di kota-kota besar telah tercemar akibat indusri dan buruknya system trasnsportasi.

Bila kita telaah lebih lanjut, permasalahan yang kini dihadapi oleh umat manusia pada umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai sebuah proses dinamika alam. Kedua, sebagai akibat perbuatan manusia itu sendiri. Kedua bentuk kejadian di atas mengakibatkan ketidaksimbangan pada ekosistem dan ketidaknyamanan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna.

Jika dibandingkan dengan yang pertama, jelas kalah. Kerusakan yang terjadi diseluruh belahan dunia tak lain adalah akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Kini sebagian penduduk dunia ini sudah menyadarinya dan mengusung jargon “Go Green”. Langkah ini dipandang mampu untuk mengurangi kerusakan alam yang telah terjadi. Namun, jumlah orang yang sadar terhadap lingkungan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang merusaknya.

Epilog
Manusia sebagai pengemban amanah, penjaga dan khalifah hendaknya memperhatikan apa - apa yang menjadi tanggung jawabnya di muka bumi ini. Tak selamanya menguras manfaat yang ada di dalam isi bumi ini, melalinkan menjaganya agar terus berputar dengan semestinya, dan jangan sampai membuatnya “oleng”. Semua ini dikembalikan pada kita (manusia) sendiri karena manusialah yang diberikan kekuasaan untuk mengurusnya, apalagi sudah jelas-jelas mengetahuinya.

Kini tak hanya di Jakarta saja terjadi banjir, tetapi hampir di daerah lain pun ikut-ikutan kena banjir ketika musim hujan turun. Semua kejadian-kejadian alam ini, pastilah ada kaitainnya dengan manusia. Dalam al-Qur’an Allâh berfirman : “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rûm [30] : 41)

Dalam ayat lain Allâh menjelaskan bahwa manusia tidak merasa bahwa kerusakan itu dilakukan oleh tangan-tangan mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka itu melakukan perbaikan. “Artinya : dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan." Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs. Al-Baqarah (02) : 11-12)

Agama harus dipahami dalam arti yang lebih luas dan dijadilan basis manusia dalam berprilaku terhadap lingkungannya, sehingga manusia tidak memperlakukan dunia ini seenaknya saja dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan nasib dunia ini.  "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'râf [07]: 96).

Jika manusia sadar betul akan semua tindak dan tanduknya sebagai khalîfah, tentu yang ia lakukan adalah menjaga dunia seutuhnya. Semua ini akan terwujud bila umat muslim berlandaskan dengan tuntunan yang di gariskan oleh Allâh dan Rasûlnya.[]

Amir Hamzah
Santri dan Mahasiswa UII

Merugi

Setiap manusia Allâh swt berikan waktu yang sama, yaitu 24 jam. Terkadang banyak manusia yang menggunkan kesempatan itu dibiarkan begitu saja. Ada yang malas-malasan padahal ia tahu jika hari esok akan menghadapi ujian. Ada lagi yang memakai waktunya dihabiskan untuk bermain, alasannya karena dunia ini hanya tempat bermain-main. Taubat bisa nanti saja, kalau sudah tua barulah bertaubat. Orang-orang sepeprti ini sungguh keterlaluan, ia menganggap enteng urusannya. Padahal ia tidak tahu bahwa selama ini yang memberikan kenikmatan itu adalah Allâh. Sungguh orang yang demikian adalah orang yang merugi.

 “Demi masa sesungguhnya manusia berada dalam  kerugian, melainkan orang-orang yang mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (QS. Al-‘asr : 1-3)

Dari ayat di atas, jika kita telaah bersama berarti posisi manusia dalam keadaan merugi, yaitu mereka merugi diakibatkan oleh perbuatannya sendiri. Manusia terjerat masalah karena ulahnya sendiri. Misalnya saja, tidak menjaga mulutnya ketika berbicara, sehingga banyak saudaranya yang membenci dirinya. Jadi, sangat jelas bahwa mereka merugi karena perbuatanya sendiri.

Mari kita telaah kembali ayat al-Qur’an di atas. Disana terdapat pengecualian, jika kita berbuat baik, saling menasehati dan saling mengingatkan maka kerugian itu bisa dihindari. Kenapa demikian? Karena dengan kebaikanlah kita bisa terselamatkan, dengan saling menasehati kita bisa mengingatkan orang yang belum baik supaya menjadi lebih baik. Dengan demikian, berarti setiap kesalahan yang dilakukan oleh orang lain bisa kita cegah. Jika salah satu ada yang lupa maka yang satu mengingtkan, begitu seterusnya dan sebaliknya. Mengingatkan dengan penuh kelembutan seperti Allâh swt dan Rasûlullâh ajarkan tentunya.

Dalam Al-Qur’an Allâh swt memerintahkan kita untuk menyeru kepada kebaikan, (ta’muruna bil ma’ruf) dengan cara yang santun dan indahlah maksudnya. Tujuannya adalah mengajarkan dengan kelembutan dalam mengingatkan manusia, bukan dengan cara kekerasan. Bagaimana mungkin Allâh swt menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang lain, sedangkan diri kita belum baik. Berarti secara lembut Allâh swt mengingatkan kita untuk menjadi orang baik dulu, setelah itu baru ke orang lain.

Kadar Keimanan
Kita sadari bahwa kadang-kadang kadar keimanan itu selalu naik turun “al-Iimânu yazidu wa yankus” banyak hal yang melatarbelakangi semua ini. Sebagai mahasiswa tentu banyak godaan  dan ajakan yang tidak mendidik. Bahakan jika tidak pintar memilih teman, yang ada bisa-bisa kita malah tejebak dan terjerumus. Kadar keimanan itu berubah karena disebabkan perubahan waktu juga. Setiap orang memiliki titik jenuh, dari kejenuhan itulah berakibat kepada kadar keimanan kita sendiri.

Terlebih sebagai seorang kepala keluarga misalnya. Seorang bapak memiliki tugas untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Tentu sangat sulit untuk bagi sang bapak dalam menjaga keimanan itu agar selalu konsisten (istiqomah). Ketika kadar iman kurang stamina, apa lagi ketika sedang dirundung banyak masalah, maka dorongan untuk berbuat tidak baik semakin bertambah. Oleh karena itu maka keimanan yang betul-betul kuat harus kita miliki. Agar dalam kondisi apapun tetap bisa terjaga.

Waktu bagaikan pedang, kalau salah menggunakannya maka kita akan terbunuh oleh pedang. Tentunya kalu tidak ingin menjadi korban maka kita harus benar-benar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Rasûlullâh saw selalu mengingatkan kepada umatnya, bahwa orang yang beruntung adalah orang yang menjadikan hari esoknya lebih baik dari hari kemarin. Seharusnya kita sadar betul apa yang disampaikan Nabi Muhamad saw. karena jika kita gali makna sebenarnya tentu sangat dalam dan juga mampu menjadi landasan hidup.

Jika kita mau memperhatikan pesan dari Rasûlullâh ini, sebenarnya sudah mencakup semua hal. Mulai dari masalah hidup setiap hari yang sepele hingga yang paling berat pun akan ketemu solusinya. Setiap manusia yang lahir akan mengalami pertambahan usia dengan bertambahnya usia ini maka bertambah pula pengetahuan dan pemahaman keilmuan nya pula, akan teapi justru yang menjadi masalah adalah makin tua makin menjadi seperti istilah “tua-tua keladi” inilah yang dialami oleh generasi muslim saat ini. Banyak yang mengerti agama namun jauh dai nilai-nilai agama.

Dalam al-Qur’an Allâh menangguhkan orang-orang yang enggan untuk menyembahnya, Allâh berikan apa yang mereka minta [istijrad] akan tetapi tunggu saja apa yang akan mereka terima karena ini adalah istijrad dari Allâh swt. Berhati-hatilah dengan apa yang kita lakukan dan apa yang kita perbuat untuk Allâh, apakah perintah Allâh telah kita jalankan dengan benar dan sesuai dengan anjuran Allâh itu. Kalau tidak sesuai dan jauh dari ketentuanNya kemudian apa yang kita pinta selalu Allâh kabulkan jangan-jangan kita termasuk orang yang mendapatkan istijrad dari Allâh. Naudzubillahi min dzalik…

Belajar dari musibah
Indonesia, tidak henti-hentinya dilanda bencana. Ini adalah bukti bahwa Allâh memeberikan ujian dan memberikan teguran kepada makhluknya. Sebab diantara sekian banyaknya penduduk Indonesia yang mengaku muslim ternyata hanya sebagian saja yang menjalankan perintah Allâh swt.

Kalau kita mau jujur dengan apa yang kita perbuat terhadap Allâh dalam  sehari, seminggu, sebulan, bahkan setahun. Jika kita renungkan pastilah labih banyak yang meninggalkan daripada melakukan perintahNya. Apakah kita sudah benar menjalankan perintah Allâh? seberapa seringkah kita melalaikan kewajiban kita? Tampaknya semua individu tidak berani menjawabnya.

Dari kesalahan-kesalahan inilah Allâh mengingatkan kita semua untuk mendekatkan diri, apalagi sampai melupakannya. Allâh lebih senang kepada hambanya yang selalu menyebut-nyebut namanya, berdzikir dan lidahnya selalu basah dengan kalimat Allâh. Akan tetapi, ketika hambanya lupa terhdapa Allâh, tentulah Allâh memberikan teguran dengan melalui perantara tentara-tentaranya agar dapat ingat kembali.

Coba bayangkan, jika di seluruh dunia; jumlah penduduk bermilyar-milyar ini tak ada seorangpun yang menyembah Allâh semuanya lalai akan semua perintah Allâh, kira-kira apa yang akan terjadi ? apa jadinya jika tak ada satupun yang mengumandangkan adzan ketika waktu shalat tiba? Pastilah Allâh akan langsung mengirimkan sebuah bencana, bahkan kiamat pun juga bias terjadi.

Tanda-tanda Qiyamat sudah tiba. Misal, kerusuhan dimana-mana. Jika kita perhatikan hampir di setiap Negara ada kerusuhan, awalnya masalah itu kecil tapi kemudian menjadi besar dan tak kunjung selesai. Hingga titik temunya sulit ditemukan, karena tak ada yang mau mengalah.

Tak hanya itu, bahwa anatara laki-laki dan perempuan sulit untuk dibedakan. Laki-laki menyerupai perempaun dan sebaliknya. Sehingga kejadian-kejadian ini dikait-kaitkan dengan Qiyamat. Padahal hanya Allâh lah yang mengetahui semuanya, manusia tak berhak mendahului ketentuan Allâh karena dialah yang maha mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Penutup
Alangkah baiknya jika kita kembalikan kepada Allâh jangan sampai kita melupakan semua perintah dan berusaha menjauhi larangan-larangannya. Syetan selalu mencari teman untuk menemaninya di Neraka kelak. Jadi, jangan sampai kita menjadi salah jalan dan terperosok kedalam jalan mereka dan menjadi pengikut setia syetan.

Tawaran-tawaran syetan sangat menggiurkan dan mampu melupakan semua urusan, termasuk urusan akhirat. Banyak orang yang sewaktu dekat dengan Allâh, ia meminta dalam doanya kekayaan. Akan tetapi setelah ia kaya, ternya ia lupa bahwa semua itu adalah pemberian Allâh. Ia merasa semua itu adalah hasil dari jerih payahnya dan hasil keringatnya sendiri, bukan dari Allâh.

Padahal ketika masih ingat dengan Allâh ia sempat berucap janji jika aku punya harta yang banyak aku akan tambah taat dalam menyembah Mu. Ternyata ia lupa semuanya, karena tertutupi oleh ajakan syetan. Jangankan meningkatkan ketaatan, infaq, dan sedekah pun tidak. Naudzubillâh min dzalik

Jika kita beristiqomah dalam menjalankan ketaqwaan, pastilah semua masalah dan godaan ini bukanlah sesuatu yang sulit. Syetan itu masuk dan membisikan ajakan-ajakan yang menyimpang dari jalan Allâh swt ketika kita lemah. Ajakan Allâh terkadang sulit dilakukan sedangkan ajakan syetan justru malah terasa ringan dan selalu mendapatkan kemudahan.

Sadarlah bahwa efek dari semua itu adalah sebuah hukuman yang akan membuat kita menyesal selamanya. Jangan sampai ketika sudah berada di alam kubur barulah kita tersadar. Marilah kita niatkan secara bulat dengan tekad yang kuat bahwa kita akan melawan semua ajakan syetan itu. Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang kuat dan selalu Allâh berikan kemudahan dalam menjalankan semua perintahnya dan menjauhi segala larangan-larangannya. WAllâhu’alam. []

Amir Hamzah
Lembaga Pengabdian Masyarakat

Se Anak Santri

Assalamualaikum Wr.Wb
Apa kabar para bloger indonesia semoga anda semua di berikan kesehatan selalu Amienn???
Pada hari ini saya hanya ingin berbagi sedikit cerita, tentang kehidupan saya selama di pesantren.

Pada  tanggal 27 juli 2007,masuk lah saya dalam sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren pada hari itu saya sangat senang sekali, karna saya akan jauh dari orang tua tanpa memikirkan masalah dan resiko apa yang saya akan tangani pada waktu itu juga,pada waktu itu saya berangkat tepatnya pada jam satu siang,dan saya tiba pada jam dua siang,ketika saya sudah tiba di pesantren saya bingung apa yg harus saya lakukan,tidak lama kemudian orang tua saya pamit untuk pulang dan beliau hanya menitipkan uang sebesar 10.000 Rp,kepada sy.

hemm.... tanpa berfikir lebih sy pun mencium tangan ibu saya dan masuk lah sy ke dlm kmr baru sy,ketika itu sy hanya biasa diam terpaku kna gx ada satu orang pun yg sy kenal dan ketika itu ada seorang santri yang bernama hikmat yang mengajak sy untuk bermain volly bersama snatri2 lama,hemmmm wlopun sy malu dan gugup pd waktu itu krna aku tdk bsa bermain volly tapi hikmat terus memaksa sy,lalu dgn menahan malu sy pun ikut dlm kebahagiaan santri lama.

Singkat kata singkat cerita 6 thn sudah sy hidup di pesnatren,dan meninggalkan kenangan2 bersama teman2 sy yg sudah tdk lanjut di pesantren,dan kini sy sadar bahwa hidup itu tdk semudah yg kita pikirkan seperti membalikan telapak tangan,dan berapa beruntungnya sy bisa hidup di pesantren yg insya allah masa depan bisa terjamin,di bandingkan hidup di luar pesnatren yg tdk bisa menjamin masa depan sy,mungkin allah telah memberikan anuegrah kpd sy krna sy msh bisa hidup di pesantren dan mendapatkan ilmu2 yang bermanfaat bagi kehidupan sy,kini tinggal menghiung bulan sy keluar pesnatren dan menjadi alumni yg selama ini aku nanti-nantikan.

Bagi para Bloger cbnr'y cerita ini belum selesai samapai di sini adj msh bnyak pengalaman yg sy ingin ceritakan,tapi sy ada tugas lain nhe mngkin kalau ad wktu sy lnjtkan cerita anak pesantrennya ok???

See You Letter Next Time....
Wassalamualaikum ???????

Muhamad Ardilah 
sumber catatan DISINI

“TEROR” Ujian Nasional (UN)

UJIAN Nasional (UN) menjadi momok yang paling menakutkan bagi kami. Saat itu saya bersekolah di swasta. Hal ini mungkin akan lain ceritanya jika saya sekolah di negri. Dengan segala keterbatasan dan guru yang seadannya kami menghadapi UN dengan perasaan harap-harap cemas. Untuk membeli buku soal panduan UN terbaru saja kami tidak mampu. Ditambah lagi dengan perpustakaan sekolah yang sangat minim koleksi bukunya.

Lengkap sudah penderitaan kami ketika itu. Tetapi dengan kekurangan dan keterbatasan itu tidak membuat kami putus asa. Bimbingan belajar (bimbel) rutin kami lakukan setelah jam sekolah selesai. Dengan bermodalkan referensi soal-soal yang sudah lawas kami tetap setia belajar. Guru kamilah yang tak henti-hentinya menyampaiakn bahwa hasil itu diperoleh setelah ada upaya yang telah dikerjakan (upaya).

Satu sisi, guru kami memberikan semangat. Tetapi sisi yang lain beliau juga membuat kami merinding. Guru kami menyampaikan bahwa tidak ada pengulangan bagi siswa yang tidak lulus UN. Bagi siswa yang tidak lulus harus mengulang tahun depan. Kami pun merasa merinding mendengarnya. Salah satu teman mengatakan, lebih baik bertemu dengan setan ketimbang tidak lulus UN. Serem banget...

Yang menentukan hasil bukan lah manusia. Apapun nanti hasil usaha kami akan tetap diterima dengan lapang dada. Toh sudah berusaha dengan sebisa mungkin dan persiapan yang seadanya. Harapan kami saat itu hanya satu, yaitu lulus UN. Perasaan kami diantara percaya atau tidak, diantara optimis dan pesimis ketika UN tiba.

Perasaan yang kami alami dulu tentu dirasakan pula oleh siswa dan siswi saat ini. Bedanya dulu “teror” itu begitu kuat, dan siswa-siswinya dulu kuat-kuat. Jadi “teror” yang tidak lulus harus mengulang tahun depan tidak begitu berarti bagi kami. Lain halnya dengan sekarang, banyak diberitakan di media masa bahwa ada yang sampai nekat bunuh diri gara-gara UN. Ada juga yang pingsan sebelum UN dan lain sebagainya.

Kenapa siswa dan siswi sekarang lebih penakut ketimbang siswa-siswi dahulu. Padahal sudah jelas ada jaminan bagi yang tidak lulus bisa mengulang. Tak hanya itu, kelulusan saat ini tidak ditentukan dengan nilai UN. Jika sudah belajar dengan “baik” dan “benar” kenapa harus takut dengan UN??. [zah]