Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Agenda 2015


baru


Pada datang ya.. 
jangan sampai TERLEWATKAN



Alumni DT BUKBER Lagi

dok. BUKBER tahun lalu
PONPES DT, (Minggu, 05/07/15) Ketua alumni bekerjasama dengan pesantren, menyelenggarakan Buka Bersama (BukBer) yang bertempat di pondok modern Daar Et-Taqwa untuk kesekian kalinya. Acara yang rutin diadakan tiap tahun ini, mengalami pasang-surut. Peserta yang hadir hanya sebagian saja, tapi jika melihat dari daftar hadir, setidaknya tiap-tiap angkatan sudah ada yang mewakilinya.

Meski dengan jumlah yang seadanya ini, acara tetap berlangsung dengan tertib dan lancar. Acara tahunan yang rutin diadakan ketika bulan ramadan ini sifatnya sebagai stimulus bagi para alumni untuk acara setelah idul fitri nanti.

Hasil dari acara Bukber ini akan difollow up ketika kumpulan seluruh alumni, yaitu ketika acara halal bil halal. Poin-poin yang sudah ada, dirumuskan dan didiskusikan lagi, harapannya semua alumni yang lain bisa ikut terlibat dalam menyumbangkan ide-idenya.

Tanggapan positif datang dari peserta bukber, terutama alumni yang baru lulus tahun kemarin. "Seru... Soalnya ya bisa tahu dan kenalan sama alumni-alumni yang udah lama lulus juga." Ungkap Ustadzah Ayul.

Saran dan harapan Ayul, bagi ketua alumni yang baru, cukup sederhana. "Siapapun nanti yang terpilih menjadi ketua, mudah-mudahan lebih baik dan bertanggungjawab. Bisa menyatukan dan menggabungkan seluruh alumni pondok" Pungkas perempuan yang menjadi lulusan terbaik tahun 2015, asal Labuan-Pandeglang ini.

Acara Bukber kali ini hanya diwakili beberapa angkatan saja, jumlah peserta yang hadir kurang lebih berjumlah 20 orang. Semoga semua alumni bisa hadir dan meramaikan kegiatan tahunan ini, terutama ketika acara halal bil halal nanti.

Pimpinan pesantren (mudir) berharap sekali jika para alumni yang dulu belajar di pesantren ini (Daar et-taqwa /red) bisa kembali dan menengok pesantren. "Tidak usah gengsi apalagi malu, niatkan saja untuk bersilaturahmi dengan teman-teman yang lain. Insya Allah ada berkah dan pahala yang kita dapatkan. Gak usah nunggu sukses dulu.... "

Dari hasil bukber kali ini, setidaknya ada dua poin yang menjadi pembahasan. Pertama adalah terkait kapan pelaksanaan Halal bil halal. Kedua, akan diadakan pemilihan ketua alumni yang baru. Masa bakti ketua alumni yang saat ini menjabat sudah hampir selesai, sehingga perlu diadakan pemilihan ketua yang baru.

Adapun acara halal bil halal yang sudah disepakati, yaitu jatuh pada hari sabtu tanggal 25 Juli 2015, semoga bisa berjalan dengan lancar, dan para alumni yang lain bisa turut hadir. Harapan yang kedua, semoga ketua alumni yang selanjutnya (pengganti ketua alumni saat ini; Ajat Sudarjat) bisa menjalankan amanah dengan baik. (Amha/)

Ustadz dan Wali Kelas

Inilah guru-guruku. Keduanya pernah mengajari kami, bahkan salah satu dari foto ini sempat menjadi wali kelas. Banyak ilmu, pengalaman dan lain-lain yang kami dapatkan. Rasanya ucapan terima kasih saja belum cukup untuk membalas semua apa yang sudah mereka berikan kepada kami.

Beliau adalah Ust. Endang Daruqutni dan Ust. Tebe Hasani.



logo elmunsih baruu


Sartini, Selamat Menikah

Selamat menikah Sartini (tini), marhalah elmunish 2008. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, sesuai dengan rumusan KHI (kompilasi hukum islam).



Selamat Menikah Trio El-Farisi







Berita bahagia kini datang dari Marhalah El-Farisi Angkatan tahun 2007. Saudari Eva Fahilah telah melepas masa lajangnya pada 06 Januari 2016 dan disusul pula oleh saudara Ahmad Rendi yang telah mempersunting gadis pujaanya asal jawa tengah.

Tak hanya itu pernikahan trio Alfarisi ini begitu instimewa kala disusul oleh Al-Akh Madhari yang resmi melepas masa lajangnnya juga. Semoga menjadi keluarga SAMAWAR ajah pokoknya.









Elmunsih; Resmi Jadi Orang Tua


Selamat untuk keluarga besar elmunsih yang engah berbahagia. Terutama untuk Fitri Damayanti yang saat ini sudah menjadi seorang ibu dengan bayi perempuan yang diberi mana Zahwa Fatimatul Mecca 21 Desember 2014.

Begitupun dengan Tajul Arifin yang resmi menjadi seorang ayah dengan bayi laki-lakinya yang diberi nama Izzatussyakir El-aarif Billah 30 Desember 2014.













4 Cara Mudah Hidup Bahagia

Hidup di dunia yang hanya sebentar ini tidak akan pernah lepas dari goncangan dan godaan. Karena goncangan, kita bisa jadi menangis. Karena godaan, kita bisa jadi terlena. Dan selama kita masih hidup di dunia, maka kita tidak akan pernah bisa mengharapkan untuk tidak pernah merasakan sakit. Tapi karena sakit itulah, maka kita bisa menemukan indahnya kenikmatan Allah.

Orang beriman bukanlah orang yang tidak pernah sedih. Orang beriman bukan orang yang tidak pernah marah. Orang beriman bukan orang yang tidak mungkin tergelincir. Tapi orang beriman adalah orang yang selalu berusaha menyandarkan segala permasalahan dan kebutuhannya hanya kepada Allah.

Orang beriman selalu bahagia dan enteng menjalani hidup karena dia TAAT, ISTIQOMAH, RENDAH HATI, dan BAIK SANGKA.

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menghina mereka, mereka membalas dengan ucapan doa ‘Salam’ (QS Al Furqon 63).”

Sesungguhnya setan tidak pernah dan tidak akan pernah mampu menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah Jala Jalalluh (Q.S. An-Nahl : 99).

Ada orang yang taat, tapi menjalani ketaatannya tidak istiqomah. Apalagi buruk sangkanya selalu dituruti. Sudah pasti hidupnya menderita. Kenapa? Karena orang yang buruk sangka maka dunia seluas ini seakan menjadi sempit baginya. Jalan ke sana, ketemu orang yang wajahnya kusut sedikit, dia sudah mikir, “pasti dia begini, pasti dia begitu”. Melihat orang yang tiba-tiba tertawa di depannya, mendadak hatinya langsung kemrungsung, “dia pasti begini, dia pasti begitu”. Orang yang kerjanya buruk sangka itu capek, ikhwah.

Kalau dia taat, istiqomah, baik sangka, tapi tidak rendah hati, maka hidupnya juga tidak mungkin bahagia. Bagaimana mungkin orang yang sombong bisa bahagia? Orang yang sombong, tidak tahan celaan. Tidak tahan hinaan. Terlebih lagi, dia tidak tahan pujian.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘ala kullihaal…” Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang bisa memberi dan mencabut kenikmatan. Kadang, saat Allah kasih kita sakit gigi. Bisa sampai berhari-hari kita mengeluhkan sakit giginya saja. Berobat kemana-mana. Muka dan hati kusut berhari-hari. Seakan-akan kalau giginya itu gak sembuh, maka hidupnya sudah gak nyaman, gak betah, gak suka, gak ridho.

Dia lupa, bahwa Allah masih menjaga jantungnya, agar tetap berdegub, jadi dia masih bisa hidup, darahnya masih bisa mengalir. Dia lupa, bahwa Allah masih menyehatkan kaki dan tangannya, agar bisa berjalan ke dokter dan tangannya masih bisa ngusapin pipinya yang lagi sakit gigi itu. Dia lupa sama nikmat Allah yang lain.

SubhaanAllah… Semoga Allah selalu kasih kita nikmat sehat yang manfaat. Aamin Allahumma aamin.

Sumber : smstauhiid.com

Penyakit Hati : Cinta Dunia

Salah satu rahasia kesuksesan Rasulullah Saw adalah terbebas dari penyakit hubbuddunya atau cinta dunia. Hingga akhir hayatnya, kemuliaan nama beliau tidak memiliki cacat sedikitpun, karena beliau bersih dari penyakit hati tersebut.

Rasulullah Saw bersabda, ”Akan terjadi masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat Islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.” Lalu, seorang sahabat bertanya, ”Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian banyak. Namun, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit Wahn.” Sahabat bertanya lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang engkau maksud dengan Wahn itu?” Rasulullah menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menyampaikan kepada kita bahwasanya kecintaan berlebihan terhadap hal-hal duniawi bisa menjadi penyebab kehancuran seorang muslim secara khusus dan umat Islam secara umum.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin yang dihormati dan disegani berbagai peradaban besar dunia. Namun, beliau sama sekali tidak dikotori dengan kecintaan pada dunia.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin besar yang hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah sosok pengusaha yang dititipi limpahan dunia oleh Allah Swt, namun hal itu tidak membuat beliau diperbudak oleh dunia.

Jika orang sudah mencintai sesuatu, maka dia cenderung akan diperbudak oleh apa yang dicintainya itu. Misalnya adalah saat kita punya sandal yang bagus dan mahal, kita akan merasa bangga walau status sandal itu adalah pinjaman atau kreditan. Setiap kali kita bepergian, pandangan kita banyak tertuju kepada sandal itu dan sangat khawatir terinjak oleh orang lain. Ketika memasuki masjid, maka kita akan sangat berhati-hati menyimpannya.

Jika ada penitipan barang, kita pun bersegera menitipkannya karena takut ada yang mencurinya. Jika tidak ada tempat penitipan, maka kita akan mencari tempat atau posisi shalat yang berdampingan dengan tempat kita menyimpan sandal, dan mengenyampingkan shaf paling depan yang masih kosong. Seperti inilah gambaran seseorang yang diperbudak dunia.

Ciri-Ciri Orang yang Cinta Dunia
Pertama, seperti rata-rata orang yang jatuh cinta, pecinta dunia pun akan membicarakan terus-menerus tentang segala apa yang dicintainya kepada orang lain. Topik pembicaraan dan arah aktifitas yang dilakukannya adalah untuk hal duniawi. Manakala seseorang senang membicarakan hal-hal yang dicintainya dari pagi hingga pagi lagi, maka kemungkinan besar penyakit itu telah menggerogoti hatinya.

Kedua, pecinta dunia tidak pernah merasa tenang karena dunia telah mencuri hatinya. Perasaan tidak puas bercampur dengan perasaan was-was. Akhirnya, hidupnya pun ikut berantakan.

Meski dunia juga lekat dengan kehidupan Rasulullah Saw, namun hal itu tidak berhasil mencuri hati beliau. Saat Rasulullah Saw memiliki baju bagus dan ada orang yang menyukainya, maka beliau memberikannya. Beliau tidak merasa keberatan untuk memberikan apa yang beliau miliki dan beliau sukai. Beliau punya kuda yang sangat bagus. Jika ada orang lain yang membutuhkannya, maka beliau akan memberikannya dengan ringan. Beliau tidak pernah berpikir apalagi berbuat aniaya.

Ketiga, penyakit cinta dunia akan menimbulkan penyakit-penyakit lain seperti penyakit sombong, dengki, serakah, dan lain sebagainya. Seorang pecinta dunia tidak akan merasa puas. Ia tidak akan sanggup menyaksikan orang lain yang memiliki segala sesuatu melebihi dirinya. Timbul rasa iri dengki di dalam hatinya.

Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan atau keberhasilan. Dia menjadi orang yang serakah, tidak mau berbagi dengan orang lain. Andaikan bisa, maka dunia ini akan dia tempati sendirian saja.

Orang yang serakah akan stres memikirkan satu ekor domba yang dimiliki tetangganya. Padahal dia sudah punya 100 ekor domba di kandang di belakang rumahnya. Hatinya tidak tenang. Ia berpikir keras bagaimana agar satu ekor domba milik tetangganya itu menjadi miliknya sehingga menggenapi jumlah dombanya menjadi 100 ekor.

Tidak ada salahnya kita meniru tukang parkir yang memiliki rumus untuk tidak bersikap sombong dan tidak merasa takut kehilangan sesuatu. Berapa pun banyaknya kendaraan yang diparkir di tempatnya, tidak dia pandang sebagai miliknya. Karena dia sadar bahwa semuanya adalah titipan.

Dia pun yakin bahwa kendaraan-kendaraan itu akan diambil kembali oleh para pemiliknya. Dia merasa hanyalah dititipi sementara oleh pemiliknya. Dia tidak merasa sombong, padahal di tempatnya ada banyak kendaraan mewah berderet. Saat pemiliknya akan mengambil kembali kendaraan itu, maka dengan lapang dada dia akan menyerahkannya.

Segala sesuatu di dunia ini yang kita anggap milik kita, sebenarnya adalah milik Allah Swt. Dia menitipkannya kepada kita. Allah Swt pasti akan mengambilnya kembali. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah mutlak milik Allah Swt. Kita hanya diamanahi untuk mengurusnya.

Semua yang sempat kita miliki di dunia akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti di hadapan Allah Swt. Apakah uang yang sempat kita miliki, kita belanjakan di jalan Allah atau tidak? Apakah selama kita di dunia menunaikan kewajiban zakat atau tidak? Apakah rumah yang kita tinggali digunakan untuk kepentingan ibadah ataukah tidak?

Kita tidak perlu merasa hina karena tinggal di rumah yang sederhana dengan furniture yang tidak bagus. Kita tidak perlu merasa kecil hati hanya karena memiliki sedikit pakaian dalam lemari kita. Kita tidak perlu merasa hina karena Islam mengajarkan bahwa kekuatan dan nilai seseorang tidak diukur pada kekayaan duniawinya, melainkan pada kekayaan hati dan jiwanya atau ketakwaannya kepada Allah Swt.

Perbedaan Pecinta Allah dan Pecinta Dunia
Jangan sampai kita diperbudak oleh keinginan duniawi semata yang hanya mengikuti dorongan hawa nafsu. Kita harus memiliki keinginan terhadap sesuatu yang Allah lebih sukai dan ridhai.

Di situlah letak perbedaan antara pecinta dunia dengan pecinta Allah Swt. Keduanya memang sama-sama sibuk untuk mengejar apa yang diinginkannya. Tapi bisa jadi dalam mengejar dunia, pecinta Allah-lah yang lebih sibuk daripada pecinta dunia. Karena bagi pecinta Allah, setiap hal yang dilakukannya di dunia adalah ibadah.

Ketika mengejar dunia, seorang pecinta Allah akan sangat menjaga nilai kemuliaannya sehingga dia mendapatkan dirinya lebih berharga dari dunianya. Jika dunianya habis, maka tidak akan hilang kemuliaan dari dirinya. Saat mendapatkan dunianya, seorang pecinta Allah akan mendistribusikannya untuk kepentingan akhiratnya. Dia akan mendorong orang lain agar sejahtera dengan kekayaan miliknya.

Sebaliknya, seorang pecinta dunia akan membelanjakan apa yang dimilikinya sekehendak nafsunya. Ia hanya akan mendahulukan kesenangan dan tidak peduli sama sekali terhadap orang lain.

Seorang pecinta dunia akan semangat mencari kekayaan namun tidak berempati apalagi sekedar peduli jika perilakunya merugikan orang lain. Ia menghalalkan berbagai cara. Kedhaliman yang dia lakukan tidak ia sesali. Dengan demikian, kedudukan pecinta dunia ini adalah lebih hina daripada dunianya. Buktinya adalah dia hanya bisa menjadi budak dari dunia yang dimilikinya.

Sumber : smstauhid.com

Marhani dan Tazki













Bersama Pak Udin; Guru Matematika

Ketika sedang asyik berkumpul dengan teman-teman seangkatan dan beberapa kawan dari kamar sebelah, tiba-tiba ada pesan tingkat masuk. Pesan singkat itu masuk kira-kira pukul 19.30. Isi pesan singkatnya seperti ini “Ass. Amir apa kabar? Di mana posisi?

Karena nomer HP-nya tidak ada di kontak, dengan cepat saya pun membalas pesan tersebut. “Alhamdulillah baik, punteun sareung saha..” Pake bahasa sunda, prediksi saya teman dari rumah di kampung. Setelah agak lama, barulah Short Massage System (SMS) balasan itu datang. “Udin Said. Dari hari jumat di jogja. Sekarang ke malioboro. Masih di jogja..?

Sempat merasa bersalah, kaget, dan bercampur senang juga. Ternyata, SMS tersebut dari guru matematika kami, ketika di Madrasah Aliyah PONPES Daar et-Taqwa. Pak Udin, begitulah kami biasa menyapa beliau. Semasa diajar matematika semuanya pasti pernah merasakan cubitannya Pak Udin, termasuk saya.

Bapak mah ikhlas nyubit.. enggak butuh balasan..” Demikian ucap pak Udin kalau sudah mencubit kami. Kami dicubit karena tidak mengerjakan tugas yang diminta oleh beliau, atau lupa mengerjakan tugas. Pokoknya macem-macem alasan yang dibuat, meskipun akhirnya cubitan itu tetap mendarat di tangan kami.

Kadang, kalau ingat masa-masa itu sering senyum-senyum sendiri. Lucu dan unik, kalau mengenang kisah bersama Guru Matematika asal Nangerang - Petir.

Alhamdulliah, esok paginya. Setelah bersih-bersih asrama, saya langsung meminjam motor dan menuju tempat di mana pak Udin menginap. Berbekal alamat yang dikirimkan tadi malam, saya pun langsung menuju tekape.

Sempat kelewatan, dan bertanya ke penduduk juga. Setelah diberitahu dan tanya ke tukang becak, tak butuh waktu lama, saya pun menemukan penginapan Pak Udin dan kawan-kawan dari serang. Sempat bingung ketika berada di depan resepsionis. Tetapi setelah menanyakan tamu yang menginap malam tadi, saya pun mendapatkan informasinya.

Setelah naik dilantai tiga, dengan mudah saya temukan sosok Pak Udin. Kebetulan waktu itu pintu kamarnya terbuka. Saya pun langsung menuju ke arah beliau. Setelah agak mendekat, barulah Pak Udin  keluar kamar, dan kami pun bersalaman tepat di depan kamar tempat beliau menginap. Tak lupa saya mencium tangan Pak Udin sebagai ta’dzim al-ustadz (memuliakan guru).

Kami pun ngobrol, tanya seputar kabar, dan yang paling seru ketika bercerita tentang masa lalu, cerita di Pondok dahulu. Tak lupa saya meminta petuah dan wejangan dari beliau, sebagai motivasi dan penyemangat. Alhamdulilah Pak Udin memberikan petuah dan doanya.

Tak terasa, waktu itu cukup singkat. Obrolan kami harus selesai ketika panitia sudah memberikan informasi kepada rombongan untuk bersiap-siap. Pertemuan yang singkat ini pun harus kami akhiri. Sambil menuju ke mobil, saya sempatkan untuk berpose sebentar dengan Pak Udin, buat kenang-kenangan.

Sambil menunggu yang lain belanja batik dadakan, saya pun sempat ngobrol dengan Ustadz Mustofa dan istrinya. Pak Udin juga sampai ikut memilah dan memilih. Tapi karena harganya kurang cocok dan juga waktunya sudah mau berangkat, akhirnya tidak jadi membeli.

Sebelum kembali ke dalam bis, dan sebelum berpisah dengan Pak Udin, saya sempatkan untuk bersalaman, tak lupa saya cium tangan beliau untuk yang kedua kalinya. Semoga menjadi berkah dan menjadi ‘suntikan’ motivasi. Tak lama, bis yang ditumpangi rombongan berangkat dan meninggalkan saya di depan Tasik Jogja Hotel.

Saya pun ke tempat parkir dan langsung menuju sepeda motor berplat AG. Secepat kilat saya meninggalkan hotel pagi itu.
_______
) punteun, sareung saha (Bhs. Sunda; maaf, dengan siapa)

Undangan; Marhani & Tazki


Selamat menikah, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, wa barakah...

Marhani Erawan 

dan 

Tazkiatun Nafis

Tanggal
16 Nov 2014 M / 24 Muharram 1436 H

Tempat
Kp. Pasir Limus, Ds. Pasir Limus, Kec. Pamarayan


---oOo---


Syarat Menikah, s3 Dulu..

Kang kapan sampean nikah..?” salah satu kawan nyeletuk. Dengan nada datar saya pun menjawabnya “belum ke pikiran.. hehehe… ” dengan cepat dan sigap saya langsung mengalihkan topik ke yang lain. Sebetulnya, ketika ditanya seperti itu, dalam hati kecil ini tidak bisa dibohongi untuk meng-iya-kan supaya bisa cepat. Teman yang lain hampir semuanya sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya dua anak.

Dari satu sisi menikah itu memang sebuah solusi. Apalagi jika sudah siap (baca; mampu) maka menikah pun sangat dianjurkan. Tetapi bagi yang belum siap, menikah harus menunggu waktu yang tepat dan pas.

Salah satu sahabat saya, ia sudah sangat serius untuk menikah. Meskipun kuliahnya belum selesai, dan baru tugas akhir. Pokoknya setelah ia wisuda langsung ijab qabul, itulah rencana yang saat ini ia buat. Orang tua perempuan sudah memberikan  ”golden ticket” semua saudaranya sudah pada tahu, tinggal minta doa restu dan ridhanya dari orang tuanya saja.

Hebat bukan? ia memang berani betul..!! Akhirnya saya tahu kenapa ia bisa demikian. Karena beberapa orang yang ia temui kebanyakan menikah muda, sehingga dari sanalah semangat dan keinginan itu terbangun. Bahkan sepupunya juga demikian, dan malah mereka sekarang sukses, senang dan tak kalah penting mereka “dunianya” berlimpah.

Memang perjuangan di awal sangat sulit. Tetapi karena ketekunan berdua dan sudah komitmen dengan pilihan mereka, akhirnya kini berakhir dengan bahagia. Kuncinya hanya satu, yaitu berani. “Katanya..”

Bahkan tadi siang pun (04/07/13) dukungan untuk menikah ia dapatkan dari calon saudaranya. Sebetulnya kami tidak sengaja bertamu ke rumahnya, tetapi karena kebetulan lewat rumahnya kami pun menyempatkan diri untuk bersilaturahmi. Banyak hal yang kami obrolin, salah satunya tentang menikah muda.

Dari percakapan itu saya memetik beberapa poin penting. Terutama persiapan yang harus disiapkan sebelum menikah. Syaratanya adalah S3.

PertamaSiap mengalami perubahan. Maksudnya adalah perubahan yang tadinya sendiri kini berdua dan selalu ada yang menemani. Jangan takut ketika bangun pagi ada seseorang disebelah kita. Perubahan yang tak kalah pentingnya adalah perubahan diri dari yang ke kanak-kanakan menjadi lebih dewasa dan lebih berwibawa.

KeduaSiap menerima pasangan kita dengan apa adanya., bukan karena ada apanya. Kekurangan yang ada pada diri pasangan kita harus siap diterima, apapun itu. Jangan menikahi seseorang karena kelebihannya, sebab ketika kelebihan itu hilang pada dirinya maka kita kecewa. Tetapi jika kita menikahi seseorang berdasarkan kekurangannya tentu kita akan lebih mencintainya dengan apa adanya.

KetigaSiap memiliki keturunan. Karena cepat ataupun lambat maka kita akan memperoleh keturunan (anak). Dengan adanya keturunan itulah lengkap sudah kebahagiaan kita. Peran kita (laki-laki) tak lagi sebagai seorang suami, tetapi berubah menjadi seorang ayah untuk anak-anak. Di sinilah peran kita bertambah dan sangat diperlukan. Sosok ayah yang baik, rajin, peduli, bertanggungjawab, dan menyayangi keluarga tentu menjadi idaman semua orang. Semoga bermanfaat [zah]

Semoga bermanfaat..

Menikah Muda, Itu Pilihan

Pada tulisan yang sebelumnya, saya sempat menyinggung salah satu sahabat saya yang ingin menikah muda. Tetapi sahabat saya yang satunya lagi mereka sudah sama-sama mendapatkan restu dan ridho dari orang tuanya, hanya saja mereka belum mau buru-buru. Alasannya sederhana, menikah itu hanya bukan mencari kesenangannya tetapi bagaimana setelah menikah??

Kedua sahabat saya ini memang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai pernikahan. Mungkin sahabat yang ngebet ingin nikah memiliki pandangan bahwa menikah itu pembawa rizki. Dengan menikah tentu rizkinya kan ditambah, semangatnya pula bertambah karena ada yang memotivasi, melayani serta berbagi, sang istrilah tentunya.

Bagi sahabat saya yang satunya lagi menikah itu harus betul-betul mapan. Ketika menikah semuanya sudah ada, dan tinggal menikmatinya. Punya pekerjaan tetap, rumah, dan kendaraan pribadi, barulah menikah. Mungpung masih belum banyak pikiran, jadi fokus mempersiapkan semuanya dulu untuk masa depan. Kalau bisa biaya resepsi pun dari uang sendiri, bukan dari orang tua.

Bagi saya pribadi, menikah itu pilihan. Jika sudah siap dengan segala konsekuensinya ya kenapa tidak. Toh semuanya sama-sama baik, dan tujuannya juga baik. Bagi yang mampu menikah muda dengan modal nekat ya monggo, pasalnya banyak yang berhasil juga. Bagi yang memilih mapan dulu juga ya tak masalah. Diserahkan kepada individu masing-masing.

Dalam sebuah kelas, Ustad Hasyim menyampaikan kepada kami, bahwa apabila seorang anak itu sudah baligh maka orang tua sudah tidak berkewajiban mengurusnya, begitulah ilmu fiqihnya. Kata Ust. Hasyim. Tetapi karena ada hubungan sosiologis lah maka (anak) sampai kuliah pun kebanyakan masih dibiayai oleh orang tua. Padahal jika sudah baligh, sudah bisa menentukan hidupnya sendiri.

Kalau boleh memilih, saya lebih sepakat dengan sahabat yang pertama. Meski terlihat berat dan penuh tantangan tetapi inilah rahasia Allah. Seberapa besar dan seberapa kuat kita menyandarkan diri kepada Allah. Saya yakin, orang yang menikah muda apalagi modal nekad biasanya sandarannya adalah Allah, dan biasanya hidupnya sukses. “Tenang, kita punya Allah, semuanya kita serahkan padaNya..” mereka dengan mantap dan penuh keyakinan mengatakannya.

Disinilah tantangan yang sesunguhnya. Belum lagi pihak dari orang tua yang merasa ragu, bahkan menolak untuk menyerahkan anak perempuannya kepada lelaki yang bermodalkan nekad karena Allah. Lagi-lagi disinilah kendala pertamanya. Kendala yang kedua, tak sedikit kaum hawa juga yang mau diajak demikian, karena masih ragu dengan nasib masa depannya. “Bagaimana masa depan saya nanti..? kebanyakan perempuan mencari lelaki yang sudah mapan.

Padahal, kemapanan belum tentu identik dengan kebahagiaan. Rasanya terlalu rendah bila kita mengukur kebahagiaan itu dengan sebuah materi. Saya paling tidak sepakat dengan hal ini. Harta itu penting tetapi bukan yang utama. Karena pada dasarnya yang dibawa mati hanyalah amal.

Saya tidak memilih menikah muda, karena sebagai seorang anak yang baik, tugas saya adalah membahagiakan orang tua dulu. Saya lebih memilih orang tua, karena merekalah yang selalu ada buat saya, teutama Ibu.

Urusan jodoh, pernikahan, semuanya saya serahkan kepada Allah SWT. Terpenting saat ini, jadi anak sholeh dulu. Saya yakin, karena pegangan saya QS. An-Nur : 26, silakan buka dan baca. Semoga bermanfaat []

Neraka Saqar

Demi malam ketika telah berlalu, demi subuh apabila mulai terang...

Apakah kalian tahu apakah Neraka Saqar itu? Ya Neraka Saqar adalah neraka bagi kita. Neraka Saqar adalah sebagai peringatan dari Allah. Ingat setiap orang bertangungjawab atas dirinya sendiri atas apa yang pernah ia perbuat.

Di dalam alquran disebutkan bahwa ada sebagian yang tidak mendapatkan Neraka Saqar, siapakah mereka? Mereka yang oleh Al-Quran disebutkan sebagai "Ashabul Yamin" yaitu golongan kanan. Yaitu mereka yang masuk ke dalam Syurga Allah.

Apa yang menyebabkan kamu masuk kedalam Neraka Saqar?? Mereka menjawab dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak memberi makan orang miskin bahkan kami selalu ghibah (membicarakan kejelekan orang lain) serta mendustakan hari pembalasan, hingga akhirnya kematian itu menimpa kami.

Semuanya tak ada lagi yang bisa kami perbuat, semuanya sudah menjadi 'bubur' (terlambat).

Sumber : QS Al-Mudatsir ayat : 33-48

Inilah Wali Kelas Kami

Ketika pertama kali memasuki pesantren, tepatnya pada tahun 2004-2005 kami dipertemukan. Selain dengan teman-teman baru (khusus kelas extention), kami juga memiliki wali kelas baru. Mereka adalah Ustadz Zanial Asyikin dan Ustadzah Raini Umroh.

Peran wali kelas bagi kami sangat membantu. Terlebih jika ada sesuatu yang belum dipahami, kami bisa langsung menanyakan kepada wali kelas.

Ustadz Zenal, biasa kami menyapa, tipe orang yang sangat humoris dan penuh canda tawa. Ada saja gerakan-gerakan unik dan lucu yang diperagakan di depan santri kelasnya. Kami pun sering dibuat tertawa oleh aksi-aksinya.

Berbanding terbalik dengan Ustadzah Raini Umroh. Mungkin karena beliau Ustadzah, jadi lebih pendiam dan harus menampilkan sosok yang berwibawa, tegas dan baik tentunya.

Peran keduanya sangat membantu kami. Jika anak-anak kelas 1 extention kesulitan atau ada masalah, maka tempat adukan ke wali kelas. Kami lebih sering ke Ustadzah Raini, sebab enak dan beliau juga sering menemani kami ketika bermuwajahah (belajar malam bersama).

Tepat pada tahun 2008 kami di wisuda. Kami bisa menyelesaikan tahapan demi tahapan tentu dimulai dari tahap awal. Ya, tahap awal itulah yang paling menentukan dan sangat membantu. Tanpa peran dan bimbingan mereka, kami mungkin tak bisa menyelesaikan hingga akhir.

Foto yang ada di tengah kami berdua, namanya Muhamad Jaelani. Ia tidak sempat menyelesaikan dan memilih keluar. ketika masih duduk di kelas 3 extention.

Meski kami sudah berpisah, tetapi kekeluargaan dan pertemanan ini tak akan pernah putus untuk selamanya. Kita masih sama seperti dulu dan tetap bersahabat.

Terima kasih Ustadzah Raini Umroh dan Ustadz Zanial Asyikin yang sudah membersamai kami di awal. Dengan bimbingan dan petuah ilmu yang sudah diberikan, kami bisa memahami dan mengerti akan pelajaran dan perjalanan hidup ini. []

Berani Hidup, Tak Takut Mati

Dulu, di lorong antara gedung Marhamah dan Rumah Ustadzah, terpasang tulisan di atas dinding yang ditulis di atas triplek. Ukurannya kurang lebih 50 x 20 Cm.

Tulisan itu begitu lekat dalam ingatan kami. Hingga kata-kata dalam tulisan itu terus teringat dan tak pernah lupa. Tulisan kalimat dari papan triplek yang terletak di lorong itu kurang lebih seperti ini bunyinya "Berani hidup tak takut mati, takut mati, jangan hidup.. Takut hidup, mati seklian... kira-kira begitulah bunyi tulisan itu.

Dari informasi yang didapatkan, khususnya dari santri angkatan lama. Mereka mengatakan bahwa tulisan itu dibuat oleh Alm. Ustadz Ugits, begitulah biasanya santri lama memanggil Pendiri dan sekaligus pengasuh pesantren kami yang pertama.

Allahumagfirlahu... alfatihah !

Pesan Kuliah Etiquette

Setiap selesai imtihan (ujian) pertengahan dan akhir smester kami biasanya ada kuliah etiquette. Jadi setiap tahunnya kami menerima kuliah ini dua kali.

Isi pesan yang disampaikan oleh pengasuh (mudir) dan diikuti dengan pesan dari guru (Wali Kelas) hampir sama. Jangan lupa untuk melakukan kegiatan yang baik di pesantren sering dilakukan ketika di rumah.

Pesan ini bertujuan supaya di rumah tetap menjalani kehidupan seperti di pesantren. Jangan karena sudah di rumah semuanya jadi bebas, sebab tidak ada peraturan atau pun disiplin.

Berdisiplin itu wajib, di manapun kita berada dan kapanpun. Pesan inilah yang disampaikan oleh guru-guru kami ketika mengikuti kuliah etiquette.

Dengan pesan ini kami seolah diingatkan terus - menerus, hingga kamipun kembali ke pesantren lagi. Menjalani hidup disiplin seperti biasanya. "Kelak kalian akan rindu dengan pesantren... hidup dipesantren itu sungguh nikmat.." Ucapan ini terbukti, dan inilah yang penulis alami. Jika tidak percaya, silakan tanya ke alumni yang lain.

Salam hangat...


Portal Pencegah Zina

Digambarkan dalam Al Quran, ketika majikan putrinya merayu dia, sesungguhnya Nabi Yusuf pun sudah tertarik untuk menerima ajakannya. Bagaimanapun, beliau tetaplah seorang manusia yang memiliki gharizah nau' (naluri seksual atau instinc of race). Namun, karena teguh iman, Yusuf luput dari dosa besar itu, meski ia kemudian harus dipenjara karena fitnah si majikan.

Bayangkan, Nabi saja bisa tergoda untuk nyaris berzina. Bagaimana pula dengan manusia biasa. Apalagi, di jaman ini pintu menuju perzinaan kian terbuka lebar. Berbagai stimulus membombardir manusia setiap detik, sehingga naluri seksual dipacu untuk selalu menuntut pemuasan.

Karena itulah, banyak ayat Quran dan Hadits yang memberi tuntunan untuk menwcegah terjadinya zina, bahkan sejak menjaga pandangan pertama. Allah swt telah mewanti-wanti ummat Islam agar tidak terjebak zina yang terkutuk, sebagaimana diserukan dalam beberapa firman berikut:

1. “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS Al Mukminun 5-6)

2. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (yaitu jilbab sebagaimana yang dimaksud dalam QS. Al Ahzab/33: 59) dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur 30-31)
3. “Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS Al Isra 32).
Banyak pula hadits Nabi saw yang memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi perbuatan zina tersebut, misalnya:
a. Dari Jabir ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah kalian memasuki rumah wanita-wanita yang tidak ada suaminya, karena sesungguhnya setan berjalan pada diri seseorang di antara kalian pada jalannya darah. Kami bertanya: ‘Dan juga engkau?’ Sabdanya: ‘Ya juga saya, akan tetapi Allah menolong aku atas setan itu maka Allah selamatkan aku’.” (HR. Ahmad dan Attirmidzi).
b. Dari Jabir ra, Rasul berkata, “Ingatlah! janganlah seorang laki-laki menginap di sisi seorang wanita dalam satu rumah, kecuali dia menikahinya atau dia mahramnya.” (HR. Muslim).
c. Dari Ibnu Umar ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seorang laki-laki memasuki rumah wanita yang suaminya tidak ada sesudah hariku ini, kecuali bersamanya seorang laki-laki atau dua orang laki-laki.” (HR. Ahmad dan Muslim).
d. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw berpesan, “Tidak halal bagi seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari kiamat berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahramnya, kecuali bersamanya ada mahramnya.” (HR. At-Thabrani dan Al Baihaqi).
e. Dari Abu Umamah ra, Rasulullah saw berkata, “Berhati-hatilah kalian terhadap bersepi-sepian dengan wanita. Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang laki-laki yang bersepi-sepi dengan wanita, kecuali setan masuk di antara keduanya. Niscaya seorang laki-laki berdesak-desakan dengan babi-babi yang bergelimang dengan lumpur atau tanah kotor itu lebih baik baginya daripada ia berdesak-desakan (yaitu) pundaknya bertemu dengan pundak wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani dalam Syu’abil Iman).
f. Dari Ibnu Abbas ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seorang lelaki mendatangi seorang wanita, dan janganlah dia bepergian dengannya, kecuali bersamanya ada mahramnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
g. Dari Ma’qil, Rasulullah saw bersabda, “Niscaya (jika) di kepala seorang laki-laki disisir dengan sisir dari besi sampai kelihatan tulangnya, itu lebih baik daripada wanita yang bukan mahramnya menyentuhnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
h. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berkata, “Bagi setiap anak Adam ada bagiannya dari zina. Maka zinanya kedua matanya adalah memandang, zinanya lidah adalah membicarakan, zinanya kedua telingan adalah mendengar, kedua tangan zinanya adalah memegang, kedua kaki zinanya adalah berjalan dan mulut zinanya adalah mencium.” (HR. Abu Dawud).
i. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berpesan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan menjumpainya tidak ada tempat. Maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lidah adalah membicarakannya, zinanya jiwa adalah berangan-angan dan bersyahwat, sedangkan farji dialah yang membenarkan zina itu atau yang menolaknya.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
j. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berkata, “Apabila seseorang di antara kalian melihat wanita yang menyenangkannya, maka hendaklah dia kembali pulang menemui istrinya…”. (HR. Ibnu Hibban).
k. Dari Abu Sa’ied, Rasulullah saw berkaa, “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya, jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya, dan janganlah seorang laki-laki tidur satu selimut dengan sesama laki-laki, jangan pula wanita tidur satu selimut dengan wanita lainnya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Attirmidzi).
l. Dari Buraidah ra, Rasulullah saw mengatakan kepada Ali ra: “Wahai Ali, jangan kau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, maka sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang kedua.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Attirmidzi dan Al Hakim).
m. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya seorang wanita dipandang dari depan (terlihat) dalam bentuk setan, dilihat dari belakang pun dalam bentuk setan, maka apabila seseorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menarik hatinya, hendaklah dia mendatangi istrinya, maka akan dapat menolak apa yang ada di dalam jiwanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
n. Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah saw berkata, “Waspadalah kalian masuk di kalangan wanita.” (HR. Ahmad, Al Bukhari dan Muslim dan An-Nasai).
o. Dari Sa’d bin Mas’ud, Rasulullah saw berkata, “Waspadalah kalian masuk ke kalangan wanita, karena sesungguhnya tidak ada seorang laki-laki yang bersunyi-sunyi (khalwat) dengan seorang wanita yang tidak ada mahramnya, melainkan dia akan bernafsu terhadapnya.” (HR. Al Hakim dalam Kitab Asrarul Hajj).
p. Dari Ali, “Memandang wanita yang cantik adalah satu anak panah dari anak-anak panah iblis yang beracun, maka barangsiapa yang dapat memalingkan pandangan matanya darinya, maka Allah memberikan padanya ibadah yang manis rasanya.” (HR. Al Hakim).
q. Dari Abu Musa ra, Rasulullah saw berkata, “Tidak ada seorang wanita yang tidur bersama seorang wanita lainnya kecuali ia berzina, tidak ada laki-laki yang tidur bersama dengan laki-laki lain kecuali keduanya berzina.” (HR. Atthabrani dalam Al Kabir).
r. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berpesan, “Janganlah seorang laki-laki tidur bersama dalam satu kain dan jangan pula wanita tidur bersama dalam satu kain pula.” (HR. Ahmad dan Sa’ied bin Manshur dalam sunannya).
s. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berpesan, “Seorang lelaki jangan tidur bersama laki-laki lain, kecuali bapak dan anaknya.” (HR. Al Hakim dalam Attarikh).

Dalil dan Hadis

Digambarkan dalam Al Quran, ketika majikan putrinya merayu dia, sesungguhnya Nabi Yusuf pun sudah tertarik untuk menerima ajakannya. Bagaimanapun, beliau tetaplah seorang manusia yang memiliki gharizah nau' (naluri seksual atau instinc of race). Namun, karena teguh iman, Yusuf luput dari dosa besar itu, meski ia kemudian harus dipenjara karena fitnah si majikan.

Bayangkan, Nabi saja bisa tergoda untuk nyaris berzina. Bagaimana pula dengan manusia biasa. Apalagi, di jaman ini pintu menuju perzinaan kian terbuka lebar. Berbagai stimulus membombardir manusia setiap detik, sehingga naluri seksual dipacu untuk selalu menuntut pemuasan.

Karena itulah, banyak ayat Quran dan Hadits yang memberi tuntunan untuk menwcegah terjadinya zina, bahkan sejak menjaga pandangan pertama. Allah swt telah mewanti-wanti ummat Islam agar tidak terjebak zina yang terkutuk, sebagaimana diserukan dalam beberapa firman berikut:

1. “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS Al Mukminun 5-6)

2. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (yaitu jilbab sebagaimana yang dimaksud dalam QS. Al Ahzab/33: 59) dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur 30-31)

3. “Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS Al Isra 32).

Banyak pula hadits Nabi saw yang memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi perbuatan zina tersebut, misalnya:

a. Dari Jabir ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah kalian memasuki rumah wanita-wanita yang tidak ada suaminya, karena sesungguhnya setan berjalan pada diri seseorang di antara kalian pada jalannya darah. Kami bertanya: ‘Dan juga engkau?’ Sabdanya: ‘Ya juga saya, akan tetapi Allah menolong aku atas setan itu maka Allah selamatkan aku’.” (HR. Ahmad dan Attirmidzi).

b. Dari Jabir ra, Rasul berkata, “Ingatlah! janganlah seorang laki-laki menginap di sisi seorang wanita dalam satu rumah, kecuali dia menikahinya atau dia mahramnya.” (HR. Muslim).

c. Dari Ibnu Umar ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seorang laki-laki memasuki rumah wanita yang suaminya tidak ada sesudah hariku ini, kecuali bersamanya seorang laki-laki atau dua orang laki-laki.” (HR. Ahmad dan Muslim).

d. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw berpesan, “Tidak halal bagi seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari kiamat berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahramnya, kecuali bersamanya ada mahramnya.” (HR. At-Thabrani dan Al Baihaqi).

e. Dari Abu Umamah ra, Rasulullah saw berkata, “Berhati-hatilah kalian terhadap bersepi-sepian dengan wanita. Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang laki-laki yang bersepi-sepi dengan wanita, kecuali setan masuk di antara keduanya. Niscaya seorang laki-laki berdesak-desakan dengan babi-babi yang bergelimang dengan lumpur atau tanah kotor itu lebih baik baginya daripada ia berdesak-desakan (yaitu) pundaknya bertemu dengan pundak wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani dalam Syu’abil Iman).

f. Dari Ibnu Abbas ra, “Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seorang lelaki mendatangi seorang wanita, dan janganlah dia bepergian dengannya, kecuali bersamanya ada mahramnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

g. Dari Ma’qil, Rasulullah saw bersabda, “Niscaya (jika) di kepala seorang laki-laki disisir dengan sisir dari besi sampai kelihatan tulangnya, itu lebih baik daripada wanita yang bukan mahramnya menyentuhnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

h. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berkata, “Bagi setiap anak Adam ada bagiannya dari zina. Maka zinanya kedua matanya adalah memandang, zinanya lidah adalah membicarakan, zinanya kedua telingan adalah mendengar, kedua tangan zinanya adalah memegang, kedua kaki zinanya adalah berjalan dan mulut zinanya adalah mencium.” (HR. Abu Dawud).

i. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berpesan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan menjumpainya tidak ada tempat. Maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lidah adalah membicarakannya, zinanya jiwa adalah berangan-angan dan bersyahwat, sedangkan farji dialah yang membenarkan zina itu atau yang menolaknya.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

j. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berkata, “Apabila seseorang di antara kalian melihat wanita yang menyenangkannya, maka hendaklah dia kembali pulang menemui istrinya…”. (HR. Ibnu Hibban).

k. Dari Abu Sa’ied, Rasulullah saw berkaa, “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya, jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya, dan janganlah seorang laki-laki tidur satu selimut dengan sesama laki-laki, jangan pula wanita tidur satu selimut dengan wanita lainnya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Attirmidzi).

l. Dari Buraidah ra, Rasulullah saw mengatakan kepada Ali ra: “Wahai Ali, jangan kau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, maka sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang kedua.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Attirmidzi dan Al Hakim).

m. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya seorang wanita dipandang dari depan (terlihat) dalam bentuk setan, dilihat dari belakang pun dalam bentuk setan, maka apabila seseorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menarik hatinya, hendaklah dia mendatangi istrinya, maka akan dapat menolak apa yang ada di dalam jiwanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

n. Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah saw berkata, “Waspadalah kalian masuk di kalangan wanita.” (HR. Ahmad, Al Bukhari dan Muslim dan An-Nasai).

o. Dari Sa’d bin Mas’ud, Rasulullah saw berkata, “Waspadalah kalian masuk ke kalangan wanita, karena sesungguhnya tidak ada seorang laki-laki yang bersunyi-sunyi (khalwat) dengan seorang wanita yang tidak ada mahramnya, melainkan dia akan bernafsu terhadapnya.” (HR. Al Hakim dalam Kitab Asrarul Hajj).

p. Dari Ali, “Memandang wanita yang cantik adalah satu anak panah dari anak-anak panah iblis yang beracun, maka barangsiapa yang dapat memalingkan pandangan matanya darinya, maka Allah memberikan padanya ibadah yang manis rasanya.” (HR. Al Hakim).

q. Dari Abu Musa ra, Rasulullah saw berkata, “Tidak ada seorang wanita yang tidur bersama seorang wanita lainnya kecuali ia berzina, tidak ada laki-laki yang tidur bersama dengan laki-laki lain kecuali keduanya berzina.” (HR. Atthabrani dalam Al Kabir).

r. Dari Jabir ra, Rasulullah saw berpesan, “Janganlah seorang laki-laki tidur bersama dalam satu kain dan jangan pula wanita tidur bersama dalam satu kain pula.” (HR. Ahmad dan Sa’ied bin Manshur dalam sunannya).

s. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berpesan, “Seorang lelaki jangan tidur bersama laki-laki lain, kecuali bapak dan anaknya.” (HR. Al Hakim dalam Attarikh).