Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Ustadz dan Wali Kelas

Inilah guru-guruku. Keduanya pernah mengajari kami, bahkan salah satu dari foto ini sempat menjadi wali kelas. Banyak ilmu, pengalaman dan lain-lain yang kami dapatkan. Rasanya ucapan terima kasih saja belum cukup untuk membalas semua apa yang sudah mereka berikan kepada kami.

Beliau adalah Ust. Endang Daruqutni dan Ust. Tebe Hasani.



Inilah Wali Kelas Kami

Ketika pertama kali memasuki pesantren, tepatnya pada tahun 2004-2005 kami dipertemukan. Selain dengan teman-teman baru (khusus kelas extention), kami juga memiliki wali kelas baru. Mereka adalah Ustadz Zanial Asyikin dan Ustadzah Raini Umroh.

Peran wali kelas bagi kami sangat membantu. Terlebih jika ada sesuatu yang belum dipahami, kami bisa langsung menanyakan kepada wali kelas.

Ustadz Zenal, biasa kami menyapa, tipe orang yang sangat humoris dan penuh canda tawa. Ada saja gerakan-gerakan unik dan lucu yang diperagakan di depan santri kelasnya. Kami pun sering dibuat tertawa oleh aksi-aksinya.

Berbanding terbalik dengan Ustadzah Raini Umroh. Mungkin karena beliau Ustadzah, jadi lebih pendiam dan harus menampilkan sosok yang berwibawa, tegas dan baik tentunya.

Peran keduanya sangat membantu kami. Jika anak-anak kelas 1 extention kesulitan atau ada masalah, maka tempat adukan ke wali kelas. Kami lebih sering ke Ustadzah Raini, sebab enak dan beliau juga sering menemani kami ketika bermuwajahah (belajar malam bersama).

Tepat pada tahun 2008 kami di wisuda. Kami bisa menyelesaikan tahapan demi tahapan tentu dimulai dari tahap awal. Ya, tahap awal itulah yang paling menentukan dan sangat membantu. Tanpa peran dan bimbingan mereka, kami mungkin tak bisa menyelesaikan hingga akhir.

Foto yang ada di tengah kami berdua, namanya Muhamad Jaelani. Ia tidak sempat menyelesaikan dan memilih keluar. ketika masih duduk di kelas 3 extention.

Meski kami sudah berpisah, tetapi kekeluargaan dan pertemanan ini tak akan pernah putus untuk selamanya. Kita masih sama seperti dulu dan tetap bersahabat.

Terima kasih Ustadzah Raini Umroh dan Ustadz Zanial Asyikin yang sudah membersamai kami di awal. Dengan bimbingan dan petuah ilmu yang sudah diberikan, kami bisa memahami dan mengerti akan pelajaran dan perjalanan hidup ini. []

Berani Hidup, Tak Takut Mati

Dulu, di lorong antara gedung Marhamah dan Rumah Ustadzah, terpasang tulisan di atas dinding yang ditulis di atas triplek. Ukurannya kurang lebih 50 x 20 Cm.

Tulisan itu begitu lekat dalam ingatan kami. Hingga kata-kata dalam tulisan itu terus teringat dan tak pernah lupa. Tulisan kalimat dari papan triplek yang terletak di lorong itu kurang lebih seperti ini bunyinya "Berani hidup tak takut mati, takut mati, jangan hidup.. Takut hidup, mati seklian... kira-kira begitulah bunyi tulisan itu.

Dari informasi yang didapatkan, khususnya dari santri angkatan lama. Mereka mengatakan bahwa tulisan itu dibuat oleh Alm. Ustadz Ugits, begitulah biasanya santri lama memanggil Pendiri dan sekaligus pengasuh pesantren kami yang pertama.

Allahumagfirlahu... alfatihah !

Sepenggal Kisahku; Mana Kisahmu?..

Teruntuk yang pertama sekali ucapan terima kasih saya ucapkan untuk Alm. Ahmad Mugits, S.Ag yang tak lain beliau adalah salah satu inspirasi dalam hidup ini. Berawal dari buku-buku dan tulisan beliaulah semua ini telah saya buktikan nyata adanya. Sempat terbesit dalam hati kecil bahwa "saya ingin menjadi seperti beliau..."

Memang waktu itu semuanya terasa mustahil dan diambang ketidakpastian (hanya sebuah angan-angan). Pasalnya, apa yang saya rasakan ketika lulus dari sekolah Madrasah Tsanawiyah itu muncul kembali. "dulu, saya merasa ragu mau sekolah mana.. jangankan untuk melanjutkan sekolah, untuk sekolah MTs saja orang tua seperti sebelah mata memandangnya."

Selepas dari MAN, perasaan yang demikian itu muncul kembali. Sehingga untuk menghilangkan perasaan yang seperti itu sangat sulit, bahkan tidak cukup waktu yang singkat. Semua perjuangan itu kurang lebih satu tahun lamanya, dan akhirnya semua perasaan itu hilang total.

Permasalahan yang selanjutnya adalah saya harus memulai dari awal lagi dan mencoba merangkai dari titik yang paling terkecil, yaitu semangat dan niat. Alhamdulilah, berkat semangat yang saya miliki perlahan saya mulai bangkit kembali dan menata masa depan.

Perjalanan Hidup Dimulai
Ketika angket diajukan kepada saya, maka masa depan itu saya dipertaruhkan. Jujur pada saat itu semua pikiran terasa tak menentu, satu sisi saya ingin mengejar apa yang menjadi cita-cita, tetapi jika dibenturkan dengan keadaan ekonomi keluarga semua itu terasa tidak mungkin. Pikiran saya tidak menentu, angket yang tadinya sudah dipegang dan akan saya tulis kemana saya setelah lulus?? tidak saya isi...

Setelah melalui perenungan yang mendalam, akhirnya angket tersebut saya isi dengan penuh keyakinan dan perasaan yakin bahwa jalan hidup saya adalah kuliah. Bismillah saya niatkan dan saya serahkan sepenuhnya kepada allah. Terbukti ketika ada informasi terkait kuliah, maka saya mencoba mencarinya dengan detail. Saya sempat daftar ke STAN-jaksel, STID Moh. Natsir-bekasi, Mahad An-nuaimi-kebayoran lama, jakbar, dan Khoiru Ummah di Bogor.

Semuanya nihil, tak ada satupun yang lolos. Di STAN sempat masuk kedalam tahap pengumpulan nilai tertinggi, tetapi ketika uji berkas dan kelayakan umur, kenyataan pahit itu harus saya terima. Umur saya sudah expaired dari ketetapan yang sudah dibuat oleh kampus STAN.

Karena di STAN buntu, akhirnya saya mencoba menghubungi salah satu guru matematika. Beliau punya link ke ma'had an-nuaimy yang terletak di jakarta barat, tepatnya di daerah kebayoran lama. Pencarian dan pengecekan pun saya lakukan, alhasil semuanya lancar dan berjalan sesuai dengan rencana. Disini saya sampai menyelesaikan pengujian yang memkan waktu tiga hari lamanya, dan seminggu kemudian pengumuman hasil seleksi resmi diumumkan. Tetapi sayang nama saya tidak ada didalam kelompk tersebut.

Setelah mengalami jalan buntu tersebut, akhirnya saya pun pulang kerumah dan mencoba tawaran saudara untuk mengajar di salah satu SDIT Khoiru Ummah yang terletak di daerah leuwiliang Bogor. Hari Jum'at pagi saya berangkat, dengan bermodal alamat yang ia kasih saya pun dengan yakin mencoba menemuinya. Tepat sebelum sholat jum'at saya tiba di kp. kalong 4. tempat dimana khairu ummah berada. Setelah saya coba cek dan observasi secara mendalam, hingga harus menginap semalaman disana.

Tak bisa dipungkiri ternyata hati saya berkata lain, hati ini merasa tidak yakin seolah hati ini berkata jalan hidup kamu bukan berada disini. Dengan halus dan bahasa yang lembut saya mencoba memberikan jawaban yang tepat, bahwa "saya belum merasa pas disini, saya harus belajar lagi dan mendalami ilmu saya lagi, lain kali insya allah kalau sudah siap dengan senang hati saya kembali ke sini". begitulah tutur saya.

Akhirnya pencarian saya yang ketiga kalinya belum berbuah. Terpaksa saya akhirnya kembali pulang kerumah dan konsultasi dengan ustadz-ustadz yang dipesantren. Alhamdulilah, ketika saya silaturahmi ke pesantren ada salah satu alumni yang kuliah di STID Muh. Nantsir dan mencoba menunjukan jalan untuk saya. Esok harinya kami berangkat ke Bekasi, pasalnya pendaftaran sudah mepet banget.

Kami tiba di Bekasi sore, karena kecapekan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Esok paginya barulah kami menuju jakarta pusat lebih tepatnya ke salemba, dimana letak pusat pendaftaran mahasiswa baru. Setelah menunggu beberapa jam ternyata kedatangan saya terlambat, karena pendaftaran terakhir itu kemarin. Dengan besar hati dan lapang dada saya terima semua kenyataan tersebut. "mungkin ini bukan jalan hidup saya.." Kami kembali ke bekasi dan saya tinggal di Bekasi selama satu minggu, setelah itu barulah saya pulang ke rumah dengan tangan kosong.

Pada waktu itu semuanya sudah terasa sulit, hampir saja putus harapan. Tak ada lagi yang dapat saya lakukan, dan semuanya sudah percuma. Semua perguruan tinggi sudah tidak membuka pendaftaran mahasiswa baru, dan terpaksa saya harus mendekap dirumah selama berbulan-bulan. Tak banyak yang saya lakukan ketika berada di rumah, selain membantu orang tua dan mencoba mengembangkan bakat saya untuk di manfaatkan kepada orang lain.

Hari-hari saya terasa mati dan stagnan. Tak ada yang dapat saya lakukan untuk merubah masa depan ini. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk mencoba membangkitkan semangat dari dalam diri sendiri dan mencoba berfikir positif. "ciptakan seribu motivasi untuk membuat dirimu bangkit..." Dari situ hari-hari saya digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang positif, saya awali mulai dari yang terkecil hingga yang besar. Setiap selesai sholat saya membaca al-Qur'an lengkap dengan artinya.

Hingga kejadian yang merubah masa depan saya berubah menjadi seperti ini. Saya mencoba mencari ayat-ayat al-Qur'an dari kelipatan 5 tiap surat, karena terlalu banyak akhirnya saya ubah ke kelipatan 10 per surat. Akhirnya pada surat an-nisa ayat 100 saya menemukan ayat yang merubah mindset, keberanian, dan seluruh hidup saya. Merinding badan saya ketika membaca ayat tersebut lengkap dengan artinya.. sungguh bukan seperti biasanya, saya merasa disetrum dan seolah dicager seperti hape.

Ayat itu mengubah semuanya, saking kagum dengan ayat tersebut akhirnya ayat itu saya jadikan motto hidup dan sekaligus menjadi penyemangat. Sampe-sampe ayat tersebut saya tulis dan saya jadikan kaligrafi pada dinding rumah, tulisan tersebut sampai sekarang masih tertulis jelas. Hingga keajaiban tuhan itu datang, tuhan mengirimkan jalan melalui perantara makhluknya.

Pagi itu sungguh tidak disangka, kakak kelas yang dulu PKL di tempat kami berkunjung silaturahmi kerumah. Momentum ini saya manfaatkan untuk bertanya tentang perkuliahan dan beasiswa  di Yogyakarta dimana tempat beliau kuliah. "Teh.. kalo beasiswa di jogja banyak gak sih.." tanyaku. "oh.. banyak, asal kita mau cari aja. ya dikampus teteh juga ada.." teteh menegaskan padaku. Hasil percakapan tersebut tidak saya sia-siakan, dengan begitu akhirnya saya tanyakan alamat beliau dengan lengkap dan saya catat betul perjalanan ke jogja naik apa dan ongkosnya berapa, tak lupa saya juga bilang bahwa "teh insya allah saya nyusul kesana.."

Dengan bermodal alamat lengkap tersebut, serta keberanian yang saya miliki, akhirnya saya beranikan untuk ngomong ke orang tua. "bu.. amir mau kuliah.. kuliahnya ke Jogja. disana banyak beasiswa.." tuturku pada ibu. "heh.. jauh amat. nek saha nu nga biayaan??" - heh.. jauh banget, mau siapa yang ngebiayaain ??jawab ibu.

Saya coba meyakinkan ibu yang seolah tidak percaya dengan keputusan ini. "bu.. yang penting Amir bisa ke Jogja saja sudah cukup, nanti kalau disana gak dapat kuliah ya terserah, Amir mau kerja atau apa kek... yang penting ibu mau ngasih izin buat berangkat kesana?".

Walaupun dengan berat hati, ibu akhirnya memberikan izin dan merelakan saya pergi. Tak lupa ibu memberi sangu kalau tidak salah 500rb untuk berangkat ke Yogyakarta. 

Elmunsih678; Selamat Berpuasa Ramadhan Ke1434 H

Sebentar lagi ramadhan tiba, hanya tinggal menghitung jari-jemari saja. Untuk itu, dalam rangka menyambut datangnya bulan yang mulia ini, saya pribadi dan mewakili atas nama keluarga besar elmunsih678 mengucapkan "selamat berpuasa Ramadhan 1434 H untuk seluruh muslimin dan muslimat yang berada di penuju dunia. Lebih khusus kepada ponpes tercinta, Ponpes Modern Daar Et-Taqwa." 

Tak terasa bulan yang kita nanti-nantikan kini telah hadir dihadapan. Untuk itu, mari kita sama-sama menigngkatkan amal ibadah, serta terus istiqama dalam menjalaninya. Meski nanti sudah lewat bulan ramadhannya amalan itu harus tetap kita jaga. Itulah orang yang betul-betul mendapatkan makna dari Ramadhan yang sesungguhnya.

Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambut ramadhan tahun ini? jika belum maka persiapkan dari sekarang, mungpung masih ada waktu sebelum hari H. Banyak hal yang harus dipersiapkan dalam menyambut ramadhan ini, terutama persiapan fisik, mental, nafsu, harta dan ilmu.

Sebab jika semua ini tidak dipersiapkan, banyak hal yang baru akan kita temui ketika berpuasa. Jika bekal ini sudah dipersiapkan matang inya allah puasanya matang. Dan semoga puasanya diterima oleh Allah swt. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja.

Jika demikian, Allah tidak butuh dengan puasa kita. Sebab puasa tidak hanya menjalankan tugas formal, melainkan esensi dan nilai-nilai dalam puasa itu sendiri yang harus kita dapatkan. Salam Hangat!! (Zah).[]

Hari Pendiidkan Nasional

Tepat pada tanggal 02 Mei kita memperingati sebagai hari pendididkan. Biasanya diperingati dengan rangkaian upacara oleh seluruh praktisi pendidikan (guru). Sebenarnya apa sih tujuan dan manfaat dari hari pendidikan ini? Hanya sebatas upacarakah? Jika demikian, mengapa sampai saat ini negri ini masih berkutat dalam “masalah filosofis pendidikan”.

Jika pendidikan yang digagas ini mencerdaskan, tetapi kenyataannya malah berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika dengan belajar membuat seseorang menjadi cerdas, lalu kenapa kita tidak cerdas-cerdas. Pendidikan model apa yang dibutuhkan sebenarnya? Jika pendidikan di sekolah hanya mengajarkan intelektualitas semata lalu dimana pendidikan moral diajarkan?

Pendidikan karakter adalah jawabannya. Tetapi pendidikan karakter yang seperti apa? Karakter apakah yang sebetulnya dimaksudkan? Pelajaran aqidah akhlaq seharusnya sudah cukup. Hanya saja dari segi materinya harus diperbaharui, supaya lebih kontekstual. Jadi aqidahnya dapat dan begitu juga dengan akhlaqnya.

Masalah Kurikulum
Permasalahan yang saat ini menjadi perdebatan adalah kurikulum. Seberapa pentingkah kurikulum? Apakah kurikulum menentukan kecerdasan peserta didik? Bukankah itu hanya sebatas cara atau metode untuk guru dalam pencapaian hasil belajar secara tertulis dan itu hanya sebatas intelektualitas. Jika gurunya cerdas, saya kira tidak butuh akan kurikulum.

Apakah kurikulum 2013 yang saat ini digembor-gemborkan itu memiliki nilai yang lebih? Misalnya saja lebih menegdepankan sisi psikomotor dan apeksi peserta didik. Saya kira sama saja, dan tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dalama artian hanya sebatas itu. Pendidikan karakter yang dimaksudkan hanya sebatas itu; masih ambigu.

Otaknya cerdas, tetapi prilakunya tidak cerdas sama saja bohong. Ini tugas siapa? Tugas sekolah atau bukan?.. jika sekolah mampu menciptakan seseorang menjadi cerdas, seharusnya mampu juga menjadian peserta didiknya linear dengan kecerdasaanya. Otaknya cerdas, akhlaqnya juga cerdas. Kurikulim yang seperti ini seharunya ada.

Fenomena korupsi merupakan salah satu contoh yang begitu tampak jelas di hadapan kita. Orang-orang yang berdasi dan duduk sebagai wakil rakyat tentu secara intelektualitas mereka cerdas, tetapi apakah prilaku mereka juag cerdas?? Jawabannya sudah pasti tidak! Tugas pendidikan seharunya tidak sebatas mendidik dari tidak tahu menjadi tahu, tetapi harus lebih.

Dunia pendidikan sering menjadi bulan-bulanan permasalahan. Ketika ada seseorang yang melakukan kesalahan tentu akan berimbas kepada asal pendidikannya. Padahal apakah itu ada korelasinya? Padahal pendidikan lingkunganlah yang mencetak dan menjadikannya seperti itu. Pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat atau lingkungan harus memiliki peran yang sama, tugas yang sama. Sehingga prilakunya akan terbentuk dengan baik. Jika ada cacat dari salah satunya maka bisa jadi akan memberikan pengaruh. []