Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Alumni DT BUKBER Lagi

dok. BUKBER tahun lalu
PONPES DT, (Minggu, 05/07/15) Ketua alumni bekerjasama dengan pesantren, menyelenggarakan Buka Bersama (BukBer) yang bertempat di pondok modern Daar Et-Taqwa untuk kesekian kalinya. Acara yang rutin diadakan tiap tahun ini, mengalami pasang-surut. Peserta yang hadir hanya sebagian saja, tapi jika melihat dari daftar hadir, setidaknya tiap-tiap angkatan sudah ada yang mewakilinya.

Meski dengan jumlah yang seadanya ini, acara tetap berlangsung dengan tertib dan lancar. Acara tahunan yang rutin diadakan ketika bulan ramadan ini sifatnya sebagai stimulus bagi para alumni untuk acara setelah idul fitri nanti.

Hasil dari acara Bukber ini akan difollow up ketika kumpulan seluruh alumni, yaitu ketika acara halal bil halal. Poin-poin yang sudah ada, dirumuskan dan didiskusikan lagi, harapannya semua alumni yang lain bisa ikut terlibat dalam menyumbangkan ide-idenya.

Tanggapan positif datang dari peserta bukber, terutama alumni yang baru lulus tahun kemarin. "Seru... Soalnya ya bisa tahu dan kenalan sama alumni-alumni yang udah lama lulus juga." Ungkap Ustadzah Ayul.

Saran dan harapan Ayul, bagi ketua alumni yang baru, cukup sederhana. "Siapapun nanti yang terpilih menjadi ketua, mudah-mudahan lebih baik dan bertanggungjawab. Bisa menyatukan dan menggabungkan seluruh alumni pondok" Pungkas perempuan yang menjadi lulusan terbaik tahun 2015, asal Labuan-Pandeglang ini.

Acara Bukber kali ini hanya diwakili beberapa angkatan saja, jumlah peserta yang hadir kurang lebih berjumlah 20 orang. Semoga semua alumni bisa hadir dan meramaikan kegiatan tahunan ini, terutama ketika acara halal bil halal nanti.

Pimpinan pesantren (mudir) berharap sekali jika para alumni yang dulu belajar di pesantren ini (Daar et-taqwa /red) bisa kembali dan menengok pesantren. "Tidak usah gengsi apalagi malu, niatkan saja untuk bersilaturahmi dengan teman-teman yang lain. Insya Allah ada berkah dan pahala yang kita dapatkan. Gak usah nunggu sukses dulu.... "

Dari hasil bukber kali ini, setidaknya ada dua poin yang menjadi pembahasan. Pertama adalah terkait kapan pelaksanaan Halal bil halal. Kedua, akan diadakan pemilihan ketua alumni yang baru. Masa bakti ketua alumni yang saat ini menjabat sudah hampir selesai, sehingga perlu diadakan pemilihan ketua yang baru.

Adapun acara halal bil halal yang sudah disepakati, yaitu jatuh pada hari sabtu tanggal 25 Juli 2015, semoga bisa berjalan dengan lancar, dan para alumni yang lain bisa turut hadir. Harapan yang kedua, semoga ketua alumni yang selanjutnya (pengganti ketua alumni saat ini; Ajat Sudarjat) bisa menjalankan amanah dengan baik. (Amha/)

Selamat Menikah Trio El-Farisi







Berita bahagia kini datang dari Marhalah El-Farisi Angkatan tahun 2007. Saudari Eva Fahilah telah melepas masa lajangnya pada 06 Januari 2016 dan disusul pula oleh saudara Ahmad Rendi yang telah mempersunting gadis pujaanya asal jawa tengah.

Tak hanya itu pernikahan trio Alfarisi ini begitu instimewa kala disusul oleh Al-Akh Madhari yang resmi melepas masa lajangnnya juga. Semoga menjadi keluarga SAMAWAR ajah pokoknya.









Elmunsih; Resmi Jadi Orang Tua


Selamat untuk keluarga besar elmunsih yang engah berbahagia. Terutama untuk Fitri Damayanti yang saat ini sudah menjadi seorang ibu dengan bayi perempuan yang diberi mana Zahwa Fatimatul Mecca 21 Desember 2014.

Begitupun dengan Tajul Arifin yang resmi menjadi seorang ayah dengan bayi laki-lakinya yang diberi nama Izzatussyakir El-aarif Billah 30 Desember 2014.













Penyakit Hati : Cinta Dunia

Salah satu rahasia kesuksesan Rasulullah Saw adalah terbebas dari penyakit hubbuddunya atau cinta dunia. Hingga akhir hayatnya, kemuliaan nama beliau tidak memiliki cacat sedikitpun, karena beliau bersih dari penyakit hati tersebut.

Rasulullah Saw bersabda, ”Akan terjadi masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat Islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.” Lalu, seorang sahabat bertanya, ”Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian banyak. Namun, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit Wahn.” Sahabat bertanya lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang engkau maksud dengan Wahn itu?” Rasulullah menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menyampaikan kepada kita bahwasanya kecintaan berlebihan terhadap hal-hal duniawi bisa menjadi penyebab kehancuran seorang muslim secara khusus dan umat Islam secara umum.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin yang dihormati dan disegani berbagai peradaban besar dunia. Namun, beliau sama sekali tidak dikotori dengan kecintaan pada dunia.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin besar yang hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah sosok pengusaha yang dititipi limpahan dunia oleh Allah Swt, namun hal itu tidak membuat beliau diperbudak oleh dunia.

Jika orang sudah mencintai sesuatu, maka dia cenderung akan diperbudak oleh apa yang dicintainya itu. Misalnya adalah saat kita punya sandal yang bagus dan mahal, kita akan merasa bangga walau status sandal itu adalah pinjaman atau kreditan. Setiap kali kita bepergian, pandangan kita banyak tertuju kepada sandal itu dan sangat khawatir terinjak oleh orang lain. Ketika memasuki masjid, maka kita akan sangat berhati-hati menyimpannya.

Jika ada penitipan barang, kita pun bersegera menitipkannya karena takut ada yang mencurinya. Jika tidak ada tempat penitipan, maka kita akan mencari tempat atau posisi shalat yang berdampingan dengan tempat kita menyimpan sandal, dan mengenyampingkan shaf paling depan yang masih kosong. Seperti inilah gambaran seseorang yang diperbudak dunia.

Ciri-Ciri Orang yang Cinta Dunia
Pertama, seperti rata-rata orang yang jatuh cinta, pecinta dunia pun akan membicarakan terus-menerus tentang segala apa yang dicintainya kepada orang lain. Topik pembicaraan dan arah aktifitas yang dilakukannya adalah untuk hal duniawi. Manakala seseorang senang membicarakan hal-hal yang dicintainya dari pagi hingga pagi lagi, maka kemungkinan besar penyakit itu telah menggerogoti hatinya.

Kedua, pecinta dunia tidak pernah merasa tenang karena dunia telah mencuri hatinya. Perasaan tidak puas bercampur dengan perasaan was-was. Akhirnya, hidupnya pun ikut berantakan.

Meski dunia juga lekat dengan kehidupan Rasulullah Saw, namun hal itu tidak berhasil mencuri hati beliau. Saat Rasulullah Saw memiliki baju bagus dan ada orang yang menyukainya, maka beliau memberikannya. Beliau tidak merasa keberatan untuk memberikan apa yang beliau miliki dan beliau sukai. Beliau punya kuda yang sangat bagus. Jika ada orang lain yang membutuhkannya, maka beliau akan memberikannya dengan ringan. Beliau tidak pernah berpikir apalagi berbuat aniaya.

Ketiga, penyakit cinta dunia akan menimbulkan penyakit-penyakit lain seperti penyakit sombong, dengki, serakah, dan lain sebagainya. Seorang pecinta dunia tidak akan merasa puas. Ia tidak akan sanggup menyaksikan orang lain yang memiliki segala sesuatu melebihi dirinya. Timbul rasa iri dengki di dalam hatinya.

Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan atau keberhasilan. Dia menjadi orang yang serakah, tidak mau berbagi dengan orang lain. Andaikan bisa, maka dunia ini akan dia tempati sendirian saja.

Orang yang serakah akan stres memikirkan satu ekor domba yang dimiliki tetangganya. Padahal dia sudah punya 100 ekor domba di kandang di belakang rumahnya. Hatinya tidak tenang. Ia berpikir keras bagaimana agar satu ekor domba milik tetangganya itu menjadi miliknya sehingga menggenapi jumlah dombanya menjadi 100 ekor.

Tidak ada salahnya kita meniru tukang parkir yang memiliki rumus untuk tidak bersikap sombong dan tidak merasa takut kehilangan sesuatu. Berapa pun banyaknya kendaraan yang diparkir di tempatnya, tidak dia pandang sebagai miliknya. Karena dia sadar bahwa semuanya adalah titipan.

Dia pun yakin bahwa kendaraan-kendaraan itu akan diambil kembali oleh para pemiliknya. Dia merasa hanyalah dititipi sementara oleh pemiliknya. Dia tidak merasa sombong, padahal di tempatnya ada banyak kendaraan mewah berderet. Saat pemiliknya akan mengambil kembali kendaraan itu, maka dengan lapang dada dia akan menyerahkannya.

Segala sesuatu di dunia ini yang kita anggap milik kita, sebenarnya adalah milik Allah Swt. Dia menitipkannya kepada kita. Allah Swt pasti akan mengambilnya kembali. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah mutlak milik Allah Swt. Kita hanya diamanahi untuk mengurusnya.

Semua yang sempat kita miliki di dunia akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti di hadapan Allah Swt. Apakah uang yang sempat kita miliki, kita belanjakan di jalan Allah atau tidak? Apakah selama kita di dunia menunaikan kewajiban zakat atau tidak? Apakah rumah yang kita tinggali digunakan untuk kepentingan ibadah ataukah tidak?

Kita tidak perlu merasa hina karena tinggal di rumah yang sederhana dengan furniture yang tidak bagus. Kita tidak perlu merasa kecil hati hanya karena memiliki sedikit pakaian dalam lemari kita. Kita tidak perlu merasa hina karena Islam mengajarkan bahwa kekuatan dan nilai seseorang tidak diukur pada kekayaan duniawinya, melainkan pada kekayaan hati dan jiwanya atau ketakwaannya kepada Allah Swt.

Perbedaan Pecinta Allah dan Pecinta Dunia
Jangan sampai kita diperbudak oleh keinginan duniawi semata yang hanya mengikuti dorongan hawa nafsu. Kita harus memiliki keinginan terhadap sesuatu yang Allah lebih sukai dan ridhai.

Di situlah letak perbedaan antara pecinta dunia dengan pecinta Allah Swt. Keduanya memang sama-sama sibuk untuk mengejar apa yang diinginkannya. Tapi bisa jadi dalam mengejar dunia, pecinta Allah-lah yang lebih sibuk daripada pecinta dunia. Karena bagi pecinta Allah, setiap hal yang dilakukannya di dunia adalah ibadah.

Ketika mengejar dunia, seorang pecinta Allah akan sangat menjaga nilai kemuliaannya sehingga dia mendapatkan dirinya lebih berharga dari dunianya. Jika dunianya habis, maka tidak akan hilang kemuliaan dari dirinya. Saat mendapatkan dunianya, seorang pecinta Allah akan mendistribusikannya untuk kepentingan akhiratnya. Dia akan mendorong orang lain agar sejahtera dengan kekayaan miliknya.

Sebaliknya, seorang pecinta dunia akan membelanjakan apa yang dimilikinya sekehendak nafsunya. Ia hanya akan mendahulukan kesenangan dan tidak peduli sama sekali terhadap orang lain.

Seorang pecinta dunia akan semangat mencari kekayaan namun tidak berempati apalagi sekedar peduli jika perilakunya merugikan orang lain. Ia menghalalkan berbagai cara. Kedhaliman yang dia lakukan tidak ia sesali. Dengan demikian, kedudukan pecinta dunia ini adalah lebih hina daripada dunianya. Buktinya adalah dia hanya bisa menjadi budak dari dunia yang dimilikinya.

Sumber : smstauhid.com

Undangan; Marhani & Tazki


Selamat menikah, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, wa barakah...

Marhani Erawan 

dan 

Tazkiatun Nafis

Tanggal
16 Nov 2014 M / 24 Muharram 1436 H

Tempat
Kp. Pasir Limus, Ds. Pasir Limus, Kec. Pamarayan


---oOo---


Menikah Muda, Itu Pilihan

Pada tulisan yang sebelumnya, saya sempat menyinggung salah satu sahabat saya yang ingin menikah muda. Tetapi sahabat saya yang satunya lagi mereka sudah sama-sama mendapatkan restu dan ridho dari orang tuanya, hanya saja mereka belum mau buru-buru. Alasannya sederhana, menikah itu hanya bukan mencari kesenangannya tetapi bagaimana setelah menikah??

Kedua sahabat saya ini memang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai pernikahan. Mungkin sahabat yang ngebet ingin nikah memiliki pandangan bahwa menikah itu pembawa rizki. Dengan menikah tentu rizkinya kan ditambah, semangatnya pula bertambah karena ada yang memotivasi, melayani serta berbagi, sang istrilah tentunya.

Bagi sahabat saya yang satunya lagi menikah itu harus betul-betul mapan. Ketika menikah semuanya sudah ada, dan tinggal menikmatinya. Punya pekerjaan tetap, rumah, dan kendaraan pribadi, barulah menikah. Mungpung masih belum banyak pikiran, jadi fokus mempersiapkan semuanya dulu untuk masa depan. Kalau bisa biaya resepsi pun dari uang sendiri, bukan dari orang tua.

Bagi saya pribadi, menikah itu pilihan. Jika sudah siap dengan segala konsekuensinya ya kenapa tidak. Toh semuanya sama-sama baik, dan tujuannya juga baik. Bagi yang mampu menikah muda dengan modal nekat ya monggo, pasalnya banyak yang berhasil juga. Bagi yang memilih mapan dulu juga ya tak masalah. Diserahkan kepada individu masing-masing.

Dalam sebuah kelas, Ustad Hasyim menyampaikan kepada kami, bahwa apabila seorang anak itu sudah baligh maka orang tua sudah tidak berkewajiban mengurusnya, begitulah ilmu fiqihnya. Kata Ust. Hasyim. Tetapi karena ada hubungan sosiologis lah maka (anak) sampai kuliah pun kebanyakan masih dibiayai oleh orang tua. Padahal jika sudah baligh, sudah bisa menentukan hidupnya sendiri.

Kalau boleh memilih, saya lebih sepakat dengan sahabat yang pertama. Meski terlihat berat dan penuh tantangan tetapi inilah rahasia Allah. Seberapa besar dan seberapa kuat kita menyandarkan diri kepada Allah. Saya yakin, orang yang menikah muda apalagi modal nekad biasanya sandarannya adalah Allah, dan biasanya hidupnya sukses. “Tenang, kita punya Allah, semuanya kita serahkan padaNya..” mereka dengan mantap dan penuh keyakinan mengatakannya.

Disinilah tantangan yang sesunguhnya. Belum lagi pihak dari orang tua yang merasa ragu, bahkan menolak untuk menyerahkan anak perempuannya kepada lelaki yang bermodalkan nekad karena Allah. Lagi-lagi disinilah kendala pertamanya. Kendala yang kedua, tak sedikit kaum hawa juga yang mau diajak demikian, karena masih ragu dengan nasib masa depannya. “Bagaimana masa depan saya nanti..? kebanyakan perempuan mencari lelaki yang sudah mapan.

Padahal, kemapanan belum tentu identik dengan kebahagiaan. Rasanya terlalu rendah bila kita mengukur kebahagiaan itu dengan sebuah materi. Saya paling tidak sepakat dengan hal ini. Harta itu penting tetapi bukan yang utama. Karena pada dasarnya yang dibawa mati hanyalah amal.

Saya tidak memilih menikah muda, karena sebagai seorang anak yang baik, tugas saya adalah membahagiakan orang tua dulu. Saya lebih memilih orang tua, karena merekalah yang selalu ada buat saya, teutama Ibu.

Urusan jodoh, pernikahan, semuanya saya serahkan kepada Allah SWT. Terpenting saat ini, jadi anak sholeh dulu. Saya yakin, karena pegangan saya QS. An-Nur : 26, silakan buka dan baca. Semoga bermanfaat []

Inilah Wali Kelas Kami

Ketika pertama kali memasuki pesantren, tepatnya pada tahun 2004-2005 kami dipertemukan. Selain dengan teman-teman baru (khusus kelas extention), kami juga memiliki wali kelas baru. Mereka adalah Ustadz Zanial Asyikin dan Ustadzah Raini Umroh.

Peran wali kelas bagi kami sangat membantu. Terlebih jika ada sesuatu yang belum dipahami, kami bisa langsung menanyakan kepada wali kelas.

Ustadz Zenal, biasa kami menyapa, tipe orang yang sangat humoris dan penuh canda tawa. Ada saja gerakan-gerakan unik dan lucu yang diperagakan di depan santri kelasnya. Kami pun sering dibuat tertawa oleh aksi-aksinya.

Berbanding terbalik dengan Ustadzah Raini Umroh. Mungkin karena beliau Ustadzah, jadi lebih pendiam dan harus menampilkan sosok yang berwibawa, tegas dan baik tentunya.

Peran keduanya sangat membantu kami. Jika anak-anak kelas 1 extention kesulitan atau ada masalah, maka tempat adukan ke wali kelas. Kami lebih sering ke Ustadzah Raini, sebab enak dan beliau juga sering menemani kami ketika bermuwajahah (belajar malam bersama).

Tepat pada tahun 2008 kami di wisuda. Kami bisa menyelesaikan tahapan demi tahapan tentu dimulai dari tahap awal. Ya, tahap awal itulah yang paling menentukan dan sangat membantu. Tanpa peran dan bimbingan mereka, kami mungkin tak bisa menyelesaikan hingga akhir.

Foto yang ada di tengah kami berdua, namanya Muhamad Jaelani. Ia tidak sempat menyelesaikan dan memilih keluar. ketika masih duduk di kelas 3 extention.

Meski kami sudah berpisah, tetapi kekeluargaan dan pertemanan ini tak akan pernah putus untuk selamanya. Kita masih sama seperti dulu dan tetap bersahabat.

Terima kasih Ustadzah Raini Umroh dan Ustadz Zanial Asyikin yang sudah membersamai kami di awal. Dengan bimbingan dan petuah ilmu yang sudah diberikan, kami bisa memahami dan mengerti akan pelajaran dan perjalanan hidup ini. []

Sepenggal Kisahku; Mana Kisahmu?..

Teruntuk yang pertama sekali ucapan terima kasih saya ucapkan untuk Alm. Ahmad Mugits, S.Ag yang tak lain beliau adalah salah satu inspirasi dalam hidup ini. Berawal dari buku-buku dan tulisan beliaulah semua ini telah saya buktikan nyata adanya. Sempat terbesit dalam hati kecil bahwa "saya ingin menjadi seperti beliau..."

Memang waktu itu semuanya terasa mustahil dan diambang ketidakpastian (hanya sebuah angan-angan). Pasalnya, apa yang saya rasakan ketika lulus dari sekolah Madrasah Tsanawiyah itu muncul kembali. "dulu, saya merasa ragu mau sekolah mana.. jangankan untuk melanjutkan sekolah, untuk sekolah MTs saja orang tua seperti sebelah mata memandangnya."

Selepas dari MAN, perasaan yang demikian itu muncul kembali. Sehingga untuk menghilangkan perasaan yang seperti itu sangat sulit, bahkan tidak cukup waktu yang singkat. Semua perjuangan itu kurang lebih satu tahun lamanya, dan akhirnya semua perasaan itu hilang total.

Permasalahan yang selanjutnya adalah saya harus memulai dari awal lagi dan mencoba merangkai dari titik yang paling terkecil, yaitu semangat dan niat. Alhamdulilah, berkat semangat yang saya miliki perlahan saya mulai bangkit kembali dan menata masa depan.

Perjalanan Hidup Dimulai
Ketika angket diajukan kepada saya, maka masa depan itu saya dipertaruhkan. Jujur pada saat itu semua pikiran terasa tak menentu, satu sisi saya ingin mengejar apa yang menjadi cita-cita, tetapi jika dibenturkan dengan keadaan ekonomi keluarga semua itu terasa tidak mungkin. Pikiran saya tidak menentu, angket yang tadinya sudah dipegang dan akan saya tulis kemana saya setelah lulus?? tidak saya isi...

Setelah melalui perenungan yang mendalam, akhirnya angket tersebut saya isi dengan penuh keyakinan dan perasaan yakin bahwa jalan hidup saya adalah kuliah. Bismillah saya niatkan dan saya serahkan sepenuhnya kepada allah. Terbukti ketika ada informasi terkait kuliah, maka saya mencoba mencarinya dengan detail. Saya sempat daftar ke STAN-jaksel, STID Moh. Natsir-bekasi, Mahad An-nuaimi-kebayoran lama, jakbar, dan Khoiru Ummah di Bogor.

Semuanya nihil, tak ada satupun yang lolos. Di STAN sempat masuk kedalam tahap pengumpulan nilai tertinggi, tetapi ketika uji berkas dan kelayakan umur, kenyataan pahit itu harus saya terima. Umur saya sudah expaired dari ketetapan yang sudah dibuat oleh kampus STAN.

Karena di STAN buntu, akhirnya saya mencoba menghubungi salah satu guru matematika. Beliau punya link ke ma'had an-nuaimy yang terletak di jakarta barat, tepatnya di daerah kebayoran lama. Pencarian dan pengecekan pun saya lakukan, alhasil semuanya lancar dan berjalan sesuai dengan rencana. Disini saya sampai menyelesaikan pengujian yang memkan waktu tiga hari lamanya, dan seminggu kemudian pengumuman hasil seleksi resmi diumumkan. Tetapi sayang nama saya tidak ada didalam kelompk tersebut.

Setelah mengalami jalan buntu tersebut, akhirnya saya pun pulang kerumah dan mencoba tawaran saudara untuk mengajar di salah satu SDIT Khoiru Ummah yang terletak di daerah leuwiliang Bogor. Hari Jum'at pagi saya berangkat, dengan bermodal alamat yang ia kasih saya pun dengan yakin mencoba menemuinya. Tepat sebelum sholat jum'at saya tiba di kp. kalong 4. tempat dimana khairu ummah berada. Setelah saya coba cek dan observasi secara mendalam, hingga harus menginap semalaman disana.

Tak bisa dipungkiri ternyata hati saya berkata lain, hati ini merasa tidak yakin seolah hati ini berkata jalan hidup kamu bukan berada disini. Dengan halus dan bahasa yang lembut saya mencoba memberikan jawaban yang tepat, bahwa "saya belum merasa pas disini, saya harus belajar lagi dan mendalami ilmu saya lagi, lain kali insya allah kalau sudah siap dengan senang hati saya kembali ke sini". begitulah tutur saya.

Akhirnya pencarian saya yang ketiga kalinya belum berbuah. Terpaksa saya akhirnya kembali pulang kerumah dan konsultasi dengan ustadz-ustadz yang dipesantren. Alhamdulilah, ketika saya silaturahmi ke pesantren ada salah satu alumni yang kuliah di STID Muh. Nantsir dan mencoba menunjukan jalan untuk saya. Esok harinya kami berangkat ke Bekasi, pasalnya pendaftaran sudah mepet banget.

Kami tiba di Bekasi sore, karena kecapekan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Esok paginya barulah kami menuju jakarta pusat lebih tepatnya ke salemba, dimana letak pusat pendaftaran mahasiswa baru. Setelah menunggu beberapa jam ternyata kedatangan saya terlambat, karena pendaftaran terakhir itu kemarin. Dengan besar hati dan lapang dada saya terima semua kenyataan tersebut. "mungkin ini bukan jalan hidup saya.." Kami kembali ke bekasi dan saya tinggal di Bekasi selama satu minggu, setelah itu barulah saya pulang ke rumah dengan tangan kosong.

Pada waktu itu semuanya sudah terasa sulit, hampir saja putus harapan. Tak ada lagi yang dapat saya lakukan, dan semuanya sudah percuma. Semua perguruan tinggi sudah tidak membuka pendaftaran mahasiswa baru, dan terpaksa saya harus mendekap dirumah selama berbulan-bulan. Tak banyak yang saya lakukan ketika berada di rumah, selain membantu orang tua dan mencoba mengembangkan bakat saya untuk di manfaatkan kepada orang lain.

Hari-hari saya terasa mati dan stagnan. Tak ada yang dapat saya lakukan untuk merubah masa depan ini. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk mencoba membangkitkan semangat dari dalam diri sendiri dan mencoba berfikir positif. "ciptakan seribu motivasi untuk membuat dirimu bangkit..." Dari situ hari-hari saya digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang positif, saya awali mulai dari yang terkecil hingga yang besar. Setiap selesai sholat saya membaca al-Qur'an lengkap dengan artinya.

Hingga kejadian yang merubah masa depan saya berubah menjadi seperti ini. Saya mencoba mencari ayat-ayat al-Qur'an dari kelipatan 5 tiap surat, karena terlalu banyak akhirnya saya ubah ke kelipatan 10 per surat. Akhirnya pada surat an-nisa ayat 100 saya menemukan ayat yang merubah mindset, keberanian, dan seluruh hidup saya. Merinding badan saya ketika membaca ayat tersebut lengkap dengan artinya.. sungguh bukan seperti biasanya, saya merasa disetrum dan seolah dicager seperti hape.

Ayat itu mengubah semuanya, saking kagum dengan ayat tersebut akhirnya ayat itu saya jadikan motto hidup dan sekaligus menjadi penyemangat. Sampe-sampe ayat tersebut saya tulis dan saya jadikan kaligrafi pada dinding rumah, tulisan tersebut sampai sekarang masih tertulis jelas. Hingga keajaiban tuhan itu datang, tuhan mengirimkan jalan melalui perantara makhluknya.

Pagi itu sungguh tidak disangka, kakak kelas yang dulu PKL di tempat kami berkunjung silaturahmi kerumah. Momentum ini saya manfaatkan untuk bertanya tentang perkuliahan dan beasiswa  di Yogyakarta dimana tempat beliau kuliah. "Teh.. kalo beasiswa di jogja banyak gak sih.." tanyaku. "oh.. banyak, asal kita mau cari aja. ya dikampus teteh juga ada.." teteh menegaskan padaku. Hasil percakapan tersebut tidak saya sia-siakan, dengan begitu akhirnya saya tanyakan alamat beliau dengan lengkap dan saya catat betul perjalanan ke jogja naik apa dan ongkosnya berapa, tak lupa saya juga bilang bahwa "teh insya allah saya nyusul kesana.."

Dengan bermodal alamat lengkap tersebut, serta keberanian yang saya miliki, akhirnya saya beranikan untuk ngomong ke orang tua. "bu.. amir mau kuliah.. kuliahnya ke Jogja. disana banyak beasiswa.." tuturku pada ibu. "heh.. jauh amat. nek saha nu nga biayaan??" - heh.. jauh banget, mau siapa yang ngebiayaain ??jawab ibu.

Saya coba meyakinkan ibu yang seolah tidak percaya dengan keputusan ini. "bu.. yang penting Amir bisa ke Jogja saja sudah cukup, nanti kalau disana gak dapat kuliah ya terserah, Amir mau kerja atau apa kek... yang penting ibu mau ngasih izin buat berangkat kesana?".

Walaupun dengan berat hati, ibu akhirnya memberikan izin dan merelakan saya pergi. Tak lupa ibu memberi sangu kalau tidak salah 500rb untuk berangkat ke Yogyakarta. 

Reuni Angkatan 2006 Ke Dartaq

Petir - Minggu, (05/10/14) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1435 H, Angkatan 2006 yang dipelopori oleh Akh Andriani selaku ketua dan Ukt Lia Fitriani, mengadakan acara reuni di Pondok Pesantren Modern Daar Et-Taqwa, Cigodeg, Petir - Serang.

Ada beberapa agenda yang dirancang oleh angkatan 2006 pada kesempatan kali ini. Selain untuk temu kangen, tujuan inti dari acara ini yaitu untuk silaturahmi ke Pondok Dartaq tercinta,

Karena kesempatan untuk datang semua sangat kecil, hanya beberapa saja yang bisa datang untuk berkumpul. Adapun angkatan 2006 yang hadir diantaranya : Ukh. Novi, Ukh. Yeni, Ukh. Lia, Ukh. Nur Hasnah, Ukh. Neneng, Ukh. Maria Ulfah, Akh. Andi Sugiarto, Akh. Mahtum , Akh. Ceply dan Akh. Indra.

Dari foto-foto yang diunggah ke facebook, selain silaturahmi ke pondok tercinta dan ziaroh kubur, angkatan 2006 juga sempat kumpul di rumah Teh Obay, dan makan bareng juga. Tampak keakraban dan kebersamaan itu terasa begitu indah. Serasa mengulang memori kebersamaan ketika masih menjadi santri.

Harapan dari Ust. Asja Rifai, S.Ag selaku Mudir Al-Ma'had, silaturahmi ini bisa tanamkan untuk seterunya. Lebih menyenangkan dan seru jika semua alumni (setiap angkatan. Red) yang datang bisa ikut hadir. Ditambah lagi bisa ikut reuni seluruh alumni, biasanya diadakan setelah idul fitri.

Salah satu dari angkatan 2006, ketika diwawancarai mengungkapkan, "ketika kami menjadi santri di pesantren, terasa ada banget suasana kekeluargaan yang kuat dan didikan yang keras, tapi dari kekeluargaan dan didikan itu kami tetap bisa merasakannya saat ini".

"Ada sedikit perbedaan, pondok yang dahulu dengan yang sekarang, kebersihan dan disiplin santri perlu diperbaiki lagi, kurang ketat". Paparnya. [Ah]

Pesan Berharga Dari Permen

Saya pacu sepeda motor bebek yang saya kendarai secepat mungkin. Bukan tanpa alasan saya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kala itu saya mengejar waktu dan berburu tiket kereta api. Saat itu sedang musim liburan, dan pada tanggal itu juga saya harus berangkat ke Jogja. Jika tidak cepat-cepat memesan tiket pasti kehabisan.

Sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba bermasalah. Gas nya sudah tidak berfungsi dan jalannya tersendat-sendat. Ini pasti bensin nya habis, tebak saya dalam hati. Dalam posisi itulah saya berusaha mencari tempat jualan bensin eceran. Tepat di warung penjual bensin eceran itu pula sepeda motor itu terhenti.

Setelah dibuka dan dicek, ternyata betul. Bensin nya kering kerontang. Saya langsung membeli bensin. Kebetulan penjaga warung nya langsung paham. Langsung membawa satu botol bensin yang isinya satu liter, tak lupa di tangan kirinya menggenggam corong yang sudah disambung dengan selang.

Selesai menuangkan bensin, uang pecahan sepuluh ribu saya serahkan kepada ibu penjaga warung. Sebentar ia masuk dan keluar lagi. Di tangan ibu itu ada uang kembalian dan dua buah permen yang didominasi dengan warna merah. Uang itu saya terima dan dimasukan kedalam kantong, saya penasaran dengan dua buah permen tadi.

Begitu saya lihat, ternyata ada tulisan yang membuat saya merasa diingatkan. Ternyata tulisan yang ada di permen itu bisa memberikan dampak yang positif. Tulisan dari dua permen itu "sabar... dan belum terlambat"

Dua permen ini sengaja saya simpan dan akhirnya saya abadikan. Ternyata sesuatu yang bentuknya sekecil ini mampu memberikan dampak yang sangat besar. Kala itu saya sedang terburu-buru dan mengejar tiket kereta supaya tidak kehabisan. Tapi setelah membaca dua tulisan dari permen tersebut, saya pun langsung tersadar.


Kerasukan Film

Aurora, Colorado, Denver Amerika Serikat (20/7/2012) dini Hari, film terbaru Batman “The Dark Knight Rises”, menelan korban 12 orang tewas dan 71 orang terluka yang tiga diantaranya warga Negara Indonesia, akibat tabung gas yang dilempakan beserta tembakan senjata oleh seorang pemuda berusia 24 tahun, James Eagan Holmes yang terinspirasi karakter  Joker si jahat dalam Film Batman.

Peristiwa tersebut, bukan yang pertama kali terjadi, banyak kasus kerasukan Film sebelumnya yang juga telah banyak menelan korban, bagi kita peristiwa ini tentunya harus dapat menjadi bahan pelajaran yang berharga, tontonan bagaimana pun bentuknya perlu secara selektif mungkin kita memilihnya, tentu kita masih teringat dengan kasus banyak anak-anak yang menganiaya temannya karena terinspirasi acara televisi Smack Down, belum lagi kasus tindakan asusila akibat melihat tontonan yang tidak senonoh.

Sebagai bangsa yang beradab tentunya tontonannya pun harus beradab, tontotan yang disajikan mesti berorientasi membangun budi pekerti dan akhlakul karimah, dalam hal ini setiap pemilik stasiun TV, produser, sutradara film dan orang-orang yang terlibat di dalamnya mesti memiliki tanggung jawab moral terhadap efek dari tontonan yang yang mereka sajikan di masyarakat, dalam hal ini sebagai kaum muslimin tentu kita meyakini kaidah-kaidah keislaman yang layak menjadi tolak ukurnya.

Sadar atau tidak, film atau acara-acara televisi yang lainnya (meskipun disebut dialog) pada prinsipnya melakukan indoktrinasi pesan-pesan kepada pemirsanya, karena komunikasi TV bersifat searah (monolog) yang mengharuskan pemirsa untuk secara  seksama menyaksikannya tanpa ada timbal balik komunikasi dari pemirsa, apa lagi dalam suasana gelap seperti di bioskop,  yang secara halus dan perlahan mempengaruhi pemikiran dan emosi kejiwaan pemirsa dan pengaruhnya akan semakin nyata jika tidak memiliki  filter yang baik dalam menerima setiap pesan yang disampaikannya.

Tanggung Jawab Insan Media
Karakter tokoh yang dipersonifikasikan dalam film, dapat mempengaruhi cara pandang dan perilaku pemirsa, apabila karakter jahat divisualisasikan secara berlebihan, pemirsa bisa saja terobsesi dengan karakter jahat yang ditampilkannya, dalam hal ini tekad syetan untuk menyesatkan manusia sudah terbantukan dengan personifikasi karakter-karkter jahat tersebut dalam film termasuk dalam informasi-informasi criminal yang secara detail peristiwa disajikan media, syetan hanya tinggal sedikit berusaha memprovokasi manusia untuk melakukan kejahatan sedangkan cara melakukannya sudah dicontohkan, oleh karenanya wajar saja jika sampai terjadi kerasukan film. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى، فَلْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ»

Sesungguhnya Syaitan memiliki Lammah, demikian juga Malaikat memiliki lammah, adapun lammah-nya syetan adalah ancaman keburukan dan mendustakan kebenaran, sedangkan lammah Malaikat adalah janji kebaikan dan membenarkan yang benar, maka siapa yang mendapati (lammah Malaikat) hendaklah ia memuji Allah, dan siapa yang mendapati (lammah Syetan) hendaknya ia berlindung (kepada Allah) dari Syetan” (dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykâh)

Dari penjelasan di atas, maka orang-orang yang terlibat dalam industri per-film-an atau pun pertelevisian dan media lainnya, hendaknya bersikap bijaksana dan memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan berbagai acara baik hiburan atau pun informasi, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang membantu Syetan untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.

Kita perlu mengingat dosa yang diperbuat pemirsa akibat menonton acara yang disajikan juga akan ditanggung oleh orang-orang yang membuatnya, Rasulullah SAW bersabda :

...وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ،
Dan barang siapa yang memulai sesuatu perbuatan buruk di dalam Islam, kemudian perbuatan buruk itu dilakukan setelahnya, maka baginya dosa seperti dosa orang yang melakukan perbuatan buruk itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun (HR. Muslim)

Tanggung Jawab Orang Tua dan para Guru
Melihat keadaan zaman sekarang, sepertinya kita tidak dapat berharap banyak kepada orang-orang yang terlibat di dalam media massa untuk dapat menyajikan acara yang berkualitas, demi meraup profit yang tinggi, seringkali tidak lagi memperdulikan nilai-nilai agama yang dianut mayoritas masyarakat, oleh karena itu sudah seharusnya setiap orang tua  melakukan Siaga tingkat tinggi, menjaga keluarganya dari kerusakan moral yang sudah merajalela di tengah-tengah kehidupan, dalam hal ini pendidikan agama menjadi faktor penting untuk menjaga keluarga.

Pendidikan agama kepada keluarga adalah kado terbaik yang diterima sang anak dari orang tuanya, ilmu agama dapat menjaga si anak dari ketergelinciran di dalam kehidupannya, dengan mengenal Tuhannya ia akan memahami apa tujuan kehidupannya, dalam sebuah atsar mursal dengan sanad dha’if  yang diriwayatkan Imam Ahmad di dalam musnadnya, disebutkan : “Tidaklah seorang ayah memberikan pemberian kepada anaknya yang lebih baik dari pada adab yang baik”

Memberikan pendidikan agama yang baik bagi keluarga adalah tanggung jawab utama seorang kepala keluarga, Allah SWT berfirman : 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan(QS. At-Tahrîm : 6)

Demikian hal yang dapat kita lakukan dimulai dari diri dan keluarga kita, dan seharusnya setiap pribadi memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara kemaslahatan bagi seluruh manusia, semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mendengarkan nasihat dan mengikuti yang paling baik di antaranya.Wallahu A’lam []

Ustadz. Aan Abdurrahman


Manusia Dan Tugasnya

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al-Baqarah [02] :30)

Sejak dahulu para pakar telah mencoba meneliti perihal makhluk yang bernama manusia dengan berbagai teori yang bersumber dari logika. Para Filsuf mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung terus menerus mencipta (uncountable creator). Para sahli ilmu sosial mengatakan bahwa manusia adalah makahluk yang cenderung berkumpul (zoon politicon) sehingga merasa tersiksa kalau diasingkan dari pergaulan antarmanusia. Sedangkan ahli jiwa mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang yang punya perasaan (felling), makhluk yang berpikir (thinking), dan berkeingingan (willing). Dan para ahli biologi mengatakan bahwa manusia itu tersusun dari unsure-unsur hayati.

Menurut Charles Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera (1859) dengan kata lain menegaskan bahwa manusia itu masih satu rumpun dengan kera. Evolusi yang dialami oleh kera-kera itu sekian juta tahun mengubahnya menjadi manusia seperti sekarang ini, dengan segala kelengkapan indrawi. Teori Drwin sampai pada saat ini masih menjadi perdebatan dan sangat bertentangan dengan kitab al-Qur’an yang menjadi pedoman umat islam, dalam al-Qur’an dijelaskan bagaimana manusia diciptakan oleh Allâh SWT.

Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa manusia itu memiliki banyak nama yaitu : Insân, Ins, Nas, Unas, Basyar, Banî Adam, dan Zuriat Adam. Allâh menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk yang teramat sempurna. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Proses Penciptaan Manusia
Allâh menciptakan manusia dari tanah, selanjutnya dari setetes sperma yang “hidup”dan bertemu dengan indung telur kemudian melakukan pembuahan di dalam perut seorang Ibu, sehingga jadilah manusia. Al-Qur’an menjelaskan penciptaan manusia dengan sejelas-jelasnya, “Kami jadikan dia sebagai mani dalam simpanan yang aman (rahim), lalu kami jadiakan mani itu segumpal darah, dari segumpal darah itu kami jadikan daging, kemudian kami jadikan kerangka tulang dan akhirnya kami bungkus tulang itu dengan daging. (Qs. Al-mu’minun : 12-14). Proses penciptaan manusia dalam rahim diawali dengan perjanajian antara ruh dengan Allâh swt, yang berisi tentang persaksian bahwa Allâh adalah sebagai Rabb.

Seperti dalam Surat Al-Arâf [07] ayat 172 dijelaskan. “ Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “bukankah aku ini tuhanmu? “mereka menjawab : “betul (engkau tuhan kami), kami menjadi saksi.” (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan : “sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang yang lemah terhadap ini (keesaan tuhan).

Telah jelas bahwa al-Qur’an sendiri telah menjelaskannya, akan tetapi bila terdapat beberapa hal yang belum diketahui oleh manusia, itu berarti ilmu yang dimiliki oleh manusia belum sampai dengan apa yang ada didalam al-Qur’an, karena sesungguhnya ilmu manusia tak akan mampu untuk memikirkan ciptaan Allâh swt.
Sebenarnya inilah yang harus kita akui, tidak semestinya menggugat al-Qur’an dan mengatakan apa-apa yang ada dalam al-Qur’an tidak rasional. Hati-hatilah dengan perkataan kita terhadap kalâmullâh karaena ilmu kita belum sampai untuk memikirkan ciptaan-ciptaanya.

Sesungguhnya berbicara tentang manusia tanpa instrumen iman kepada Allâh, sama artinya membicarakan sesuatu yang rumit dan cenderung tanpa jawaban yang pasti. Manusia adalah makhluk yang memiliki “unsure ke-illâhian”, maka tidak mungkin mendalami manusia tanpa melibatkan sang penciptanya.

Tugas Berat
Allâh menciptakan manusia dengan beberapa tujuan, selain tujuan untuk beribadah dan menjadi khalîfah di muka bumi sekaligus untuk menjaga bumi agar selalu konsisten berputar  pada porosnya. Selain itu manusia juga diperintahkan utuk mencari kehidupan yang layak bagi hidupnya di alam semesta ini.

Tugas manusia sebagai khalîfah dimuka bumi ini tak semudah membalikan tangan karena manusia yang Allâh karuniai dengan akal pikiran ini, memiliki karakter yang berbeda-beda. Selain itu, tugas manusia sendiri adalah menjaga alam agar tetap baik dan bukan pula sebaliknya. Alam bisa memberikan potensi yang baik bagi manusia bila saja manusia bisa mengolahnya dengan baik dan benar. Tentunya manfaat itu akan dirasakan oleh manusia itu sendiri.

Bukan menghancurkan dan memanfaatkannya untuk kepentingan sepihak tanpa memikirkan akibat yang akan diterima oleh manusia yang lain. Pemanasan global (global warming) ialah salah satu bentuk keserakahan manusia yang menguras manfaat alam ini tanpa memperdulikan akibat yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kerusakan di bumi pada abad ini adalah akibat dari kelalaian manusia terhadap tugasnya sebagai pengemban amanah.

Sebagai contoh adalah dalam penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi) yang berlebihan akan menghasilkan emisi gas buang, berupa arbon mono-oksida (co2) yang membuat lapisan ozon di kutub utara semakin menipis. Akibatnya suhu dibelahan kutub utara naik sebesar 1-3 derajat celcius, es di kutub utara mencair menyebabkan naiknya permukaan air laut. Terjadi perubahan iklim yang ekstrim, perbedaan antara musim hujan dan musim panas menjadi tidak jelas, dan lain sebagainya.

Menurut para pemerhati lingkungan baik individu maupun institusi/kelembagaan, menyimpulkan bahwa hal ini terjadi akibat kerusakan dan perubahan ekosistem yang luar biasa akibat perlakuan tidak ramah terhadap sumber-sumber daya alam yang selama ini menjadi tumpuan pendapatan ekonomi. Penebangan hutan dan pemanenan hasil alam dilakukan dengan cara yang tidak sehat, bahkan melanggar norma sehingga terjadi kerusakan lingkungan.

Fakta terjadinya kerusakan alam saat ini tidak dapat dipungkiri, terutama di Indonesia, kerusakan yang terjadi akhir-akhir ini terjadi akibat dari keruakan alam yang sangat berdampak terhadap kehidupan manusia. Disamping itu, setiap tahun bahwa negara kita menghasilkan jutaan ton sampah yang tak terkelola dengan baik, ditambah dengan adanya banjir. Ditambah lagi dengan udar di kota-kota besar telah tercemar akibat indusri dan buruknya system trasnsportasi.

Bila kita telaah lebih lanjut, permasalahan yang kini dihadapi oleh umat manusia pada umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai sebuah proses dinamika alam. Kedua, sebagai akibat perbuatan manusia itu sendiri. Kedua bentuk kejadian di atas mengakibatkan ketidaksimbangan pada ekosistem dan ketidaknyamanan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna.

Jika dibandingkan dengan yang pertama, jelas kalah. Kerusakan yang terjadi diseluruh belahan dunia tak lain adalah akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Kini sebagian penduduk dunia ini sudah menyadarinya dan mengusung jargon “Go Green”. Langkah ini dipandang mampu untuk mengurangi kerusakan alam yang telah terjadi. Namun, jumlah orang yang sadar terhadap lingkungan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang merusaknya.

Epilog
Manusia sebagai pengemban amanah, penjaga dan khalifah hendaknya memperhatikan apa - apa yang menjadi tanggung jawabnya di muka bumi ini. Tak selamanya menguras manfaat yang ada di dalam isi bumi ini, melalinkan menjaganya agar terus berputar dengan semestinya, dan jangan sampai membuatnya “oleng”. Semua ini dikembalikan pada kita (manusia) sendiri karena manusialah yang diberikan kekuasaan untuk mengurusnya, apalagi sudah jelas-jelas mengetahuinya.

Kini tak hanya di Jakarta saja terjadi banjir, tetapi hampir di daerah lain pun ikut-ikutan kena banjir ketika musim hujan turun. Semua kejadian-kejadian alam ini, pastilah ada kaitainnya dengan manusia. Dalam al-Qur’an Allâh berfirman : “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rûm [30] : 41)

Dalam ayat lain Allâh menjelaskan bahwa manusia tidak merasa bahwa kerusakan itu dilakukan oleh tangan-tangan mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka itu melakukan perbaikan. “Artinya : dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan." Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs. Al-Baqarah (02) : 11-12)

Agama harus dipahami dalam arti yang lebih luas dan dijadilan basis manusia dalam berprilaku terhadap lingkungannya, sehingga manusia tidak memperlakukan dunia ini seenaknya saja dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan nasib dunia ini.  "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'râf [07]: 96).

Jika manusia sadar betul akan semua tindak dan tanduknya sebagai khalîfah, tentu yang ia lakukan adalah menjaga dunia seutuhnya. Semua ini akan terwujud bila umat muslim berlandaskan dengan tuntunan yang di gariskan oleh Allâh dan Rasûlnya.[]

Amir Hamzah
Santri dan Mahasiswa UII

Siapakah Orang Yang Egois?

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Dalam kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia, kata egois yang berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa online,  egois berari tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, ketika ada orang yang selalu ingin menang sendiri kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melaukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit yang memusuhinya pula. Ketika belum lama berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah ia tahu bahwa temannya itu memiliki sifat egois, bisa jadi ia menjaga jarak atau memilih tidak menjadi temannya lagi. Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh sebuah keluarga. Biasanya, ketika masih  menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Juga Pernah Egois
Semua manusia pernah egois, tetapi dalam perakteknya kadang secara sadar ataupun tidak sadar. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas: “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum.

Dia masuk ke dalam majlis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut. Akhirnya allah menurunkan surat ‘Abasa [80] : 

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah SAW akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Allah SWT begitu halus mengingatkan rasulullah ketika beliau sedikit saja melakukan kesalahan karena menurut rasulullah melobi para pembesar quraish lebih penting dibandingkan dengan Ummi Maktum.

Apakah anda tipe orang egois?
Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; pertama, mendustakan ayat-ayat allah. Kedua, ingin menang sendiri. Ketiga, Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Keempat, Keras kepala.

Pertama,mendustakan ayat-ayat allah swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk islam. Padahal agama islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah allah maka termasuk kedalam orang-orang egois. misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang allah perintahakan, serta tidak menianggalkan apa yang allah larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.

Pengertian egois yang dimaksud disini mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman allah swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah allah swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja allah mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

Kedua,ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila memiliki teman yang seperti ini, sedini mungkin untuk diiangatkan sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya maka siapa lagi.

Ketiga,Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mempu memimpin anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin.

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

Keempat,keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah fir’aun, dan akhirnya Allah swttenggelamkan fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allah swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh.

Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena benar-benar alami, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Dan sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egoisme dari dalam diri manusia. Setiap orang pasti pernah bertindak egois, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, sebabnya Rasulullah SAW bersabda : " Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?"Rasulullah berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena bisa di lihat, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang buruk. Amarah, dendam, benci adalah contoh sifat manusia yang buruk. Begitu juga dengan egois.

Maka sebenarnya mau tidak mau kita secara tidak langsung juga berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kita lah yang mampu melawan itu semua, dan  iman kita lah, sebenarnya obat untuk melawan egois itu sendiri.

Abu  Bakar Al-Warraq berkata :“Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan allah swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu dalam bimbingan-NYA. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan allah swt. Amiin [amr]

Amir Hamzah
divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat

Ucapan Selamat Buat Suci Hati

Tanggal 20 Desember 2012 merupakan yang paling istimewa serta begitu spesial buat dara asli tunjung teja ini; Suci Hati. Suci begitulah sapaan akrabnya.

Akhwat yang satu ini telah resmi menyandang gelar SE [sarjana ekonomi] setelah kuliah di UNSERA [Universitas Serang Raya] dalam waktu kurang empat tahun. Tak heran Suci menjadi mahasiswi dengan nilai cumlaude serta menyabet gelar mahasiswi terbaik.

Teman kami ini memang sudah terlihat bakatnya serta kecenderungannya ketika sekolah di Ponpes dulu. Ia sangat senang dengan ilmu ekonomi, ya alasnnya sederhana pada waktu itu "males sama pelajaran matematika..." begitulah ungkpanya ketika kami wawancara dulu. Tak hanya itu kelebihannya adalah sebagai motivator, ketika kuliah di UNSERA ia bergabung dengan organisasi yang berkaitan dengan Public speaking.

Mahasiswi cantik ini superduper sibuk, alias memiliki banyak keseibukan. Tak jarang ia menyempatkan diri ikut terlibat dengan organisasi-organisasi yang di luar maupun di dalam kampus. Sehingga kini karirinya pun melejit dan bisa dikatakan cemerlang istilahnya kini akhwat yang satu ini sudah sekali mendayung dua atu tiga pulau trlampaui.

Anak bungsu dari pasangan H. Nahrawi dan Muslihah ini jarang pulang dan memilih nge-kost di Serang. Tujuannya agar tidak bolak balik serang, dan juga bisa lebih fokus kuliah di UNSERA, tandasnya. Dengan berbekal pengetahuan dari Ponpes dan dikolaborasikan dengan ilmu-ilmu umum kini ia menjelma menjadi sosok yang bisa dikatakan sebagai "muslimah sejati" hal ini terbukti dengan jargonnya "tak ada pacaran sebelum menikah" sungguh luar biasa. 

Kemarin (25/01/13) ketika kami wawancari ditelpon ia mengungkapkan bahwa saat ini ia sudah berkerja di sebuah perusahaan di serang, menempati bagian administrasi. "alhamdulilah.. sebelum lulus saya udah dapet kerjaan, saat ini masih training..." ungkapnya melalui telpon..

sumber :
http://elmunsih678.blogspot.com/2013/01/selamat-buat-suci.html