Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Siapakah Orang Yang Egois?

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Dalam kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia, kata egois yang berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa online,  egois berari tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, ketika ada orang yang selalu ingin menang sendiri kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melaukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit yang memusuhinya pula. Ketika belum lama berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah ia tahu bahwa temannya itu memiliki sifat egois, bisa jadi ia menjaga jarak atau memilih tidak menjadi temannya lagi. Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh sebuah keluarga. Biasanya, ketika masih  menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Juga Pernah Egois
Semua manusia pernah egois, tetapi dalam perakteknya kadang secara sadar ataupun tidak sadar. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas: “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum.

Dia masuk ke dalam majlis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut. Akhirnya allah menurunkan surat ‘Abasa [80] : 

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah SAW akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Allah SWT begitu halus mengingatkan rasulullah ketika beliau sedikit saja melakukan kesalahan karena menurut rasulullah melobi para pembesar quraish lebih penting dibandingkan dengan Ummi Maktum.

Apakah anda tipe orang egois?
Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; pertama, mendustakan ayat-ayat allah. Kedua, ingin menang sendiri. Ketiga, Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Keempat, Keras kepala.

Pertama,mendustakan ayat-ayat allah swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk islam. Padahal agama islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah allah maka termasuk kedalam orang-orang egois. misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang allah perintahakan, serta tidak menianggalkan apa yang allah larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.

Pengertian egois yang dimaksud disini mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman allah swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah allah swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja allah mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

Kedua,ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila memiliki teman yang seperti ini, sedini mungkin untuk diiangatkan sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya maka siapa lagi.

Ketiga,Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mempu memimpin anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin.

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

Keempat,keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah fir’aun, dan akhirnya Allah swttenggelamkan fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allah swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh.

Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena benar-benar alami, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Dan sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egoisme dari dalam diri manusia. Setiap orang pasti pernah bertindak egois, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, sebabnya Rasulullah SAW bersabda : " Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?"Rasulullah berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena bisa di lihat, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang buruk. Amarah, dendam, benci adalah contoh sifat manusia yang buruk. Begitu juga dengan egois.

Maka sebenarnya mau tidak mau kita secara tidak langsung juga berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kita lah yang mampu melawan itu semua, dan  iman kita lah, sebenarnya obat untuk melawan egois itu sendiri.

Abu  Bakar Al-Warraq berkata :“Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan allah swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu dalam bimbingan-NYA. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan allah swt. Amiin [amr]

Amir Hamzah
divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat

Memuliakan Tetangga*

Artinya : “.......dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisa [04]:36)

Suatu ketika, saat sedang lahapnya menyantap makan siang, tiba-tiba ada pengemis datang menghampiri. Apa yang akan dilakukan? Apakah membiarkan pengemis tersebut menadahkan tangan disertai dengan ‘pekikan’ suara meminta. Ataukah langsung memberi pengemis, tetapi dengan memperhitungkan uang yang akan diberikan. Ataukah langsung memberinya, tanpa perhitungan dengan jumlah uang yang diberikan kepada pengemis tersebut. Dari ketiga opsi di atas, manakah yang menggambarkan diri kita?

Seberapa besar rasa peduli kita terhadap sesama manusia? Berapa besar manfaatkah diri kita untuk orang lain? Serta berapa berartinya diri kita bagi orang lain? Dengan analogi di atas bisa menjadi tolok ukur untuk mengetahui sejauh mana kepedulian, kemanfaatan dan ke-berartian diri kita terhadap orang lain. Untuk menguji hal tersebut, yaitu bisa diukur dari hal yang terkecil, misalnya dengan tetangga.

Siapakah yang dimaksud dengan tetangga? Tetangga adalah orang yang terdekat dalam kehidupan, tidaklah kita keluar dari rumah melainkan  melewati rumah tetangga. Di saat kita  membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil, maka tetangga lah orang pertama yang kita ketuk pintunya. Bahkan di saat kita tertimpa musibah, misalanya meninggal dunia, bukan kerabat jauh yang diharapkan membantu, tetapi tetangga lah yang dengan tulus bersegera menyelenggarakan pengurusan jenazahnya.

Seberapa dekatkah kita dengan tetangga? Kedudukan tetangga di mata Islam sangat tinggi. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesempurnaan keimanan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir dengan sikap memuliakan tetangga, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6019, dari sahabat Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu)

Sungguh mulia dan besar kedudukan tetangga.  Allah swt memasukkannya di dalam sepuluh hak yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sebagaimana firman Allah SWT, artinya: “..... Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa` [04]:36).

Berbagi dengan Tetangga
Dalam keseharian beraktifitas tentu tidak terlepas dari tetangga. Entah itu untuk bertegur sapa, ngobrol atau bahkan meminjam barang yang tidak kita miliki, misalnya cangkul atau lain sebagainya. Dalam hal pinjam meminjam dalam kehidupan bertetangga merupakan hal yang lumrah, apalagi untuk meminjam barang tersebut dengan tujuan untuk  mengambil manfaat dari barang tersebut.

Bisa dibayangkan apabila tetangga yang kita kurang dermawan alias pelit. Jika kita perhatikan hadits nabi yang berbunyi : Dari Abu Zar ra, katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abu Zar, jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan saling berjanjilah dengan tetangga-tetanggamu – untuk saling beri-memberikan”. (HR Muslim)

Dari hadits di atas jelaslah, bahwa adab dalam bertetangga adalah saling memberi. Dermawan serta tidak perhitungan ketika memberikan pertolongan terhadap tetangga yang membutuhkan. Mungkin disekeliling kita terdapat tetangga yang demikian, tetapi sebagai tetangga yang baik dan mengerti betul akan adab bertetangga tentu tidak selayaknya untuk membenci apalagi membuat merasa tidak nyaman untuknya, melainkan terus mengingatkan secara santun dan cara yang baik pula.

Dari hadits di atas, jelas kita dianjurkan untuk berbagi dengan tetangga, saling memberi makanan dan lain sebagainya. Selain itu, berbagi makanan dapat menambah akrab serta eratnya tali silaturahmi antar tetangga. Untuk itu ketika memiliki makanan yang lebih dianjurkan untuk berbagi dengan tetangga yang lebih dekat pintunya.

Dengan berbagi, itu menandakan bahwa kita peduli serta menjaga tali silaturahmi dengan tetangga. Rukun dalam bertetangga itu sangat dianjurkan seperti dalam sebuah syair tanpo waton : Kelawan konco, dulur lan tonggo, Kang padha rukun ojo ngasiho…. Iku sunnahe rasul kang mulyo nabi Muhammad panutan kito...”.

Memberikan Kenyamanan
Menyakiti tetangga adalah sebuah kejahatan yang sangat diharamkan dalam Islam. Diriwayatkan oleh Abu Syuraih, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapa orang itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR. Bukhari)

Memberi perlindungan bagi tetangga yang lain dari sesuatu hal, misalnya saja pencurian, penipuan dan lain sebagainya adalah anjuran Islam. Sudah jelas bahwa Rasulullah SAW mengulang kalimatnya sampai tiga kali bagi siapa yang membuat rasa ketidaknyamanan bagi tetangganya. Untuk itu, ketika kita mengendari mobil, motor bahkan menyetel musik sebaiknya sekedarnya saja, bisa jadi ada tetangga yang merasa terganggu dengan suara gaduh tersebut.

Dikisahkan ada seorang ‘abid yang mempunyai tetangga non-muslim. Sang tetangga memiliki kamar mandi di atas rumahnya, dan bocor.  Sehingga air merembes masuk ke dalam rumah muslim tersebut.
Setiap hari Ia selalu menadahi air yang berasal dari kamar mandi tetangganya dengan ember. Suatu ketika seorang ‘abid ini sakit parah, dan tetangga non-muslim pun menjenguknya. Ketika sang tetangga ini memasuki rumahnya, sang tetangga tahu bahwa air yang menetes itu berasal dari kamar mandinya. Ia pun bertanya, “air dari manakah ini”? sang ‘Abid pun mencoba mengalihkan pembicaraannya. Tetapi sang tetangga terus bertanya, air dari manakah ini yang Anda tampung? Akhirnya  Ia menjawab, “bahwa air itu adalah air rembesan dari kamar mandi Anda”.

Sang tetangga terus bertanya, “Berapa lama Anda menampungnya”?  sudah 18 tahun, jawab sang ‘abid. Kenapa anda tidak megadukannya padaku? Sang ‘abid menjawab : “Barang siapa beriman kepada Allaah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, anda adalah tetangga saya maka kewajiban saya adalah memuliakan anda“. Betapa terkejutnya sang tetangga itu, Ia merasa takjub dan akhirnya sang tetangga non-muslim tersebut masuk Islam.

Penutup
Dalam pergaulan sehari-hari tentu peran tetangga sangat penting, baik sebagai teman ngobrol, teman berbagi serta ladang untuk menuai pahala dari Allah SWT. Beruntung jika memiliki tetangga yang baik, karena tetangga yang baik itu lebih mahal dari harga rumah atau tanah yang kita tempati, tetangga yang baik tidak ternilai harganya.

Rasulullah SAW menganjurkan kita berdoa agar terhindar dari tetangga yang jahat. Karena memiliki tetangga yang jahat bisa menjadikan rasa tidak aman, bahkan seluruh kampung tersebut akan terkena dampaknya. Untuk itu maka ketika mencari rumah baru, yang harus diutamakan adalah mencari tetangga yang terbaik lebih dahulu, atau dengan kata lain memilih tetangga sebelum memilih rumah.

Menjalani kehidupan bertetangga dengan baik dan saling menunaikan hak masing-masing merupakan suatu kebahagiaan dan tanda kebaikan sebuah masyarakat. Rasulullah SAW  bersabda, “Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban, hadits ini dishahihkan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau ash-Shahihul Musnad Mimma Laysa fish- Shahihain 1/277)

Dalam hadits lain rasulullah SAW bersabda,“Sebaik-baik sahabat disisi Allah adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang terbaik kepada tetangganya.”(HR. at-Tirmidzi) Marilah kita berbuat baik terhadap tetangga, serta memberikan hak-hak atasnya. Semoga kita menjadi golongan orang berada disisi Allah SWT. Amiin..[]

*Hamzah Albantani
Divis Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat

Bersyukur dan Bertawakkal

Nikmat manakah yang kalian dustai (QS. Al-Rahman)

Sudahkah kita bersyukur hari ini?
Sudahkah kita bersyukur hari ini? Ya pertanyaan itu pantas ditanyakan kepada diri kita masing-masing. Apkah bersyukur ataukah malah kufur atas nikmat Allah tersebut. Secara tidak sadar mungkin lebih condong kepada tidak mensyukuri nikmat ketimbang mensyukuri nikmat. Misalnya saja kita  diberikan kesehatan, tetapi dengan kesehatan tersebut malah digunakan untuk bermaksiat atau melaksanakan hal-hal yang dilarang oleh agama. Naudzubilah...

Bersyukur merupakan gambaran mu’min sejati. Karena syukur merupakan gambaran diri seseorang yang mampu menerima keadaan secara ikhlas, ridha serta tawakkal. Allah berfirman dalam al-Qur’an (QS. Ibrahim : 7-8 ) Artinya :  dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Janji Allah pada ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita bersyukur maka kenikmatan tersebut akan Allah tambah, tetapi jika sebaliknya yaitu ingkar dan malah kufur nikmat maka balasannya adalah azab yang sangat pedih. Azab tersebut berlaku di dunia atau diakhirat kelak, kita tidak tahu azab itu kapan ditimpakan. Wallahu’alam

Mensyukuri hidup
Hidup itu adalah sebuah perjalanan dari masa ke masa, dengan berbagai lika-liku yang ada didalamnya. Dalam hidup ini kita biasa menemukan orang yang menjabat sebagai direktur, manager, karyawan, office boy, tukang parkir dan lain sebagainya. Semua jabatan itu dalam kacamata agama islam adalah berupa amanat dan tanggung jawab. Ditakdirkan menjadi orang miskin bukanlah musibah, tetapi disyukuri serta dijalani. Se-miskin apapun tidak syogyanya mencari rizki dengan cara yang diharamkan. Rizki Allah sangat luas, asalkan mau mencarinya dan tidak mudah putus asa.

Kaya atau miskin sebetulnya hanyalah status sosial, jika diberikan kemiskinan seyogyanya menikmati kemiskinan layaknya orang kaya yang menikmati ke kayaan nya. Tidak menyesali nasib yang dijalani, tetapi menerimanya dengan ridha kepada Allah dengan penuh ketegaran. Orang yang kaya bersyukur itu sudah seharusnya, tetapi orang yang hidup dalam kemiskinan kemudian ia bersyukur  atas kemiskinannya adalah orang yang luar biasa di mata Allah bahkan kedudukanya lebih mulia.

Allah melarang  setiap hambanya untuk berkeluh kesah, apalagi sampai menyalahkan Allah swt atas takdir yang diberikan kepada kita. Seharunya menganggap semua ini sebagai ujian agar lebih dekat dengan Allah dan merasa ada ketergantungan dengan Allah sebagai penolong dalam hidup. Hingga kita meyakini bahwa tidak bisa hidup tanpa pertolongan yang diberikan-NYA.

Hendaknya optimisti dalam menjalani kehidupan ini, dengan tetap berusaha semaksimal mungkin. Tidak melalaikan perintah Allah ketika berusaha, sehingga hasil akhir semuanay diserahkan kepada-NYA karena Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Dengan demikian kita tidak akan pernah berputus ada menghadapi kehidupan ini, dengan segala kondisi apapun. Allah berfirman : dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut : 69)

Nabi bersabda : “kana al-faqru an yakuna kufran” artinya kefakiran lebih dekat kepada kekufuran. Apa yang disampaikan oleh nabi Muhamad memang begitu adanya. Seseorang yang kekurangan harta (miskin) sangat rentan untuk menukar keimanan mereka dengan uang. Bahkan ada selintingan yang bahwa agama ditukar dengan satu dus mie. Naudzubillah

Hidup dalam kekurangan memang berat, tetapi harus dilandasi dengan sikap tawkkal kepada allah,  janji allah di dalam al-Qur’an “dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. At-Talaq :3)

Umar bin khatab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “seandainya engkau bertawakkal kepada Allah swt, niscaya ia akan memberimu rezeki seperti Ia memberi rezeki kepada burung, dimana burung itu terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali lagi dalam keadaan kenyang”

Syukur dan Tawakal
Diriwayatkan bahwa ketika ditanyakan tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari rasulullah saw, ‘Aisyah, dengan mengelurakan air matanya, seraya berkata, “manakah yang tidak mengagumkan dari beliau?” lalu ia menceritakan, “suatu malam, aku tidur bersama rasulullah saw di tempat tidur. Namun, belum lama kami tidur, tiba-tiba beliau membangunkan ku seraya berkata,’wahai putri abu bakar! Izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada tuhanku!’ aku jawab, “sebenarnya aku senang kau tetap berada disampingku, tapi kau labih mendahulukan keinginanmu.’ Maka bangunlan beliau dari tidurnya, lalu berwudhu’ dengan sempurna, dan akhirnya melaksanakan shalat malam. Malam itu beliau shalat sampai subuh, dan selama melaksanakan shalat itu, aku lihat beliau menitikan air matanya hingga basah bajunya. Aku bertanya ‘apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis, wahai rasulullah? Bukankan allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab,’tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyur?”

Abu utsman berkata, “syukurnya orang-orang awam adalah syukurnya terhadap nikmat makanan, minuman, dan pakaian. Sedangkan syukurnya orang yang khusus adalah syukurnya mereka terhadap nikmat ketakwaan didalam hatinya” ketika nabi idris mendengar kabar gembira tentang diampunkan segala dosa-dosanya, baliau memohon kepada allah swt agar dipanjangkan umurnya. “mengapa sampai demikian?” tanya orang-orang kepadanya. Beliau menjawab, “agar aku berkesempatan untuk bersyukur kepada-Nya. Sebab, selama ini aku hanya beramal untuk mendapatkan ampunan dari-Nya.”

Tawakkal adalah menyerahkan urusan kepada Allah, dan meyakini bahwa apa pun yang Allah berikan kepadanya tidak akan berpindah kepada orang lain, atau sebaliknya yang tidak menjadi jatahnya tidak mungkin ia terima. ...... dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".(QS. Al-Maidah : 23) Tawakkal itu bertingkat-tingkat, pertama tawakkal yakni bertwakkal terhadap janji-janji allah. Kedua, adalah taslim, yakni bertawakkal terhadap ilmu-Nya dan yang ketiga adalah tafwid, yakni bertwakkal terhadap takdir-Nya.

Dikatakan bahwa tawakkal merupakan permulaan dari tawakkal, taslim adalah pertangahannya, sedangkan tafwid adalah klimaksnya. Ada juga yang mengatakan bahwa tawakkal adalah sikapnya orang-orang awam, taslim adalah sikapnya orang-orang khusus sedangkan tafwid adalah sikapnya orang-orang yang lebih khusus lagi. Abu ali ar-Rudzbari berkata, “ada tiga tingkatan tawakkal, yaitu : pertama, bersyukur jika diberi, dan bersabar jika tidak diberi. Kedua, tetap bersyukur, baik ketika diberi maupun tidak. Ketiga, lebih menyukai tidak diberi karena tahu bahwa ia ada hikmah dari Allah bagi dirinya.”

Jika ditanya siapakah yang paling bersyukur dan bertawakkal? Jawabannya adalah Rasulullah saw. Walau sudah mendapat jaminan pengampunan dosa dari Allah beliau tetap bersyukur. Walau rasulullah sebagai seorang pemimpin tetapi beliau hidup dalam kesederhanaan, hartanya digunakan untuk kepentingan dakwah islamiyah, semuanya beliau serahkan kepada Allah. Jadi, jika ditanya siapakah yang pantas menjadi panutan kita dalam bersyukur dan bertawakkal maka Rasulullah saw adalah jawabannya. Wallahu’alam []

Hamzah Albantani
alumni dartaq;
Divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat PONPES UII
Yogyakarta

Menimba Ilmu di China

MENIMBA ILMU DI CHINA
(Sebuah Strategi Membangun Toleransi)
Oleh : Muhammad Miqdam Musawwa*

أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ
Tuntutlh ilmu walaupun saampai ke negeri China.”


Hadits di atas, walaupun ada yang mengatakannya sebagai hadits dhâif (bahkan bukan hadits), namun banyak yang menggunakannya untuk memberikan stimulant (motivasi), baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain untuk giat dalam mencari ilmu (thalabul ilmi). Bahkan (betapa!) seringkali hadits tersebut dijumpai di dinding-dinding sekolah guna memberi semangat kepada murid-murid dalam mencari ilmu. Tentu bukan main-main, dengan malakukan hal tersebut.

Oleh karenanya, tidak mengapa bila kita memahami hadits tersebut dengan cara lain, yaitu dengan menggali makna-makna terselubung dari hadits di atas agar kita lebih terstimulan dalam kaitannya dengan menuntut ilmu. Pertama, secara maknawi (meaning), jelas hadits tersebut mendorong kita semua, umat Islam untuk bekerja keras (mengupayakan sekuat tenaga) dan tidak mudah menyerah (mengabaikan segala halangan) dalam menuntut ilmu. Ya, mencari ilmu itu merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam meskipun itu harus dilakukan dengan cara pergi jauh (transmigrasi) dan berpisah denagn orang-orang terdekat kita. 

Ada yang mengatakan negeri China, waktu itu (pada masa Rasulullah), merupakan negeri yang secara geografis tidak mudah ditempuh. Jaraknya jauh dari negeri Arab, sehingga Nabi sengaja memberikan isyarat (jika benar itu adalah hadits) untuk hijrah ke tempat yang jauh untuk mencari ilmu. Namun ada juga yang mengatakan, China waktu itu menjadi pusat perdagangan dunia, sehingga gaungnya pun sampai ke semenanjung Arabia.

Kedua, Islam adalah agama yang penuh toleransi, yang diturunkan sebagai pengayom bagi segala kehidupan dan penghidupan di alam ini. Ia diturunkan tidak untuk memecah-belah kehidupan (bermasyarakat) umat manusia. Namun, ia tetap melakukan pendekatan (approaching) kepada manusia sebagaimana fungsinya sebagai petunjuk dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan, khusnul khâtimah.  Oleh karena itu, Islam tidak hanya memberi peluang kepada umat Islam untuk bergaul dengan sesamanya saja. Tapi juga (bahkan) dengan orang kafir. 

Hadits Nabi di atas tersirat mengatakan demikian: “Bahwa kita boleh belajar di negeri orang kafir.” Tentu dalam proses belajar tidak sesederhana membaca dan menghafal saja. Dalam prosesnya kita juga bersinggungan dengan budaya lingkungan tempat kita belajar. Dan itulah yang hendak kita simpulkan bahwa, bahkan (ber)interaksi dengan orang yang secara ‘aqîdatan wa syarî’atan (akidah dan syariatnya) berseberangan dengan kita (kafir), pun harus dilakukan dalam menuntut ilmu, yang tentunya dengan catatan harus sesuai dengan panduan ajaran agama Islam itu sendiri.

Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kita tidak berhak menghakimi diri kita sendiri untuk hanya bergaul dengan siapa dan siapa. Dalam perspektif penciptaan, kita semua adalah sama. Tetapi, memang dalam perspektif amar secara Islam, kita orang Islam adalah yang paling ta’at. Islam sendiri pun kemudian terbagi menjadi bermacam golongan, dari yang paling tua kelompok pemikiran (syi’ah) hingga organisasi yang membawa nama Islam. 

Semua golongan memang mempunyai wewenang ilmiah untuk menafsirkan Islam secara warna-warni (memakai istilah John Esposito, Islam: The Straight Path). Dan kita maklumi hal tersebut sebagai rahmat yang mewarnai kehidupan tafakkur (berfikir) di dunia ini. Oleh karena itu, selama ini semua masih dilakukan dalam prosesi tafakkur, maka bergaul dengan orang yang tidak satu idealisme (ideologi) tidak (men)jadi masalah. Justru itu akan menambah referensi ke-‘ilmu-an kita dalam mengarungi samudera thalabul ‘ilmi ibtighâ’an limardhâtilLâh (menimba ilmu demi meraih ridah Ilahi).

Ketiga, manusia adalah makhluk duniawi yang dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari keduniawian. Man arâda dunyâ, fa’alaihi bil ‘ilmi. Barang siapa yang ingin sukses di kehidupan dunianya, maka ia harus menguasai ilmu dunia. Belajar di negeri China adalah sebuah analogi bagi kita untuk menuntut ilmu dunia. Umat Islam dianjurkan menguasai ilmu dunia sebagai penyempurna kehidupan imannya. Karena sebenarnya, pun bila kita mengikuti sistem dikotomi keilmuan yang dibuat oleh kelompok ekstremis, bahwa ilmu itu terbagi menjadi dua, yaitu duniawi dan ukhrawi, hadits diatas justru membongkar idealisme dikotomis tersebut. Karena logikanya, setiap ilmu pada dasarnya mengantarkan manusia menuju sebuah peradaban yang diharapkan membawa cita-cita umat manusia yang sama: yaitu kesejahteraan. 

Dan bila peranan ilmu dimaksudkan untuk membangun idealisme ke-Tuhan-an, ilmu-ilmu eksakta tidak jauh beda potensi taqrîban ila Allâh-nya -bila dibandingkan- dengan ilmu tauhid. Beberapa peristiwa kompleks yang terjadi dalam praktik ilmu kimia berhasil membuktikan sebuah kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dirumuskan. Dan akan tetap ada tangan tertinggi yang menggenggam rumus kehidupan ini. Ia adalah sebuah superioritas yang menghidupi semesta. Hal ini sebagaimana yang diyakini matematikawan, Sir Ishaq Newton yang kemudian disanggah oleh saudara muda-nya, Stephen Hawking. Dan pada intinya, dikotomi keilmuan secara teori memang terjadi, namun pada praktiknya, kedua jenis ilmu tersebut menyatu dan mengalir bersama-sama menuju sebuah muara yang sama, yaitu rahmatan lil’âlamîn.

Keempat, (adalah yang hanya sebagai gurauan penulis), barangkali sudah diprediksikan oleh Nabi Muhammad SAW, kalau umat Islam adalah umat yang tertinggal dalam dunia keilmiahan. Dan, prediksi Nabi bahwa China akan menjadi negara adidaya suatu saat nanti. Berdasarkan fenomena yang terjadi, perlahan tapi pasti, satu persatu negara Islam Timur Tengah mulai berantakan. Dimulai dari Palestina dan diakhiri dengan yang terbaru, konflik di Suriah. Dan dalam rentan itu, Afganistan, Irak, Pakistan, Mesir, Libya, dan Yaman, dilanda gejolak yang sama. Sebuah indikasi kehancuran. 

Sementara negara non Islam belakangan menjadi semakin kuat. Tidak hanya mengekspor produk-produk kebutuhan kita, tapi juga ilmunya. Bilamana sudah demikian, sulit mematahkan budaya ilmiah mereka. Sulit pula untuk menjadikan diri kita tiba-tiba lebih tahu dan maju dari mereka. Perlu kerja keras untuk meniti langkah demi langkah, bahkan untuk sekedar mengimbangi langkah mereka.

Ini adalah sebuah kenyataan. Suatu “godam penohok” bagi kita semua. Dan Nabi tidak akan menjadi satu-satunya orang yang paling malu mengetahui fenomena ini. Posisinya sebagai al-ballâgh (penyampai), sudah seharusnya memberikan kita kesadaran, bahwa kita yang sekarang juga punya porsi sebagai penyebab ketertinggalan ini. Sejarah barangkali bisa membuktikan siapa yang paling dominan menyebabkan kemunduran Islam. Namun, bila kita yang sudah tahu tidak berusaha beranjak dari ketertinggalan ini, bukan tidak mungkin mereka (penyebab dominan) juga menuduh kita yang sekarang.

Islam adalah sebuah idealisme bagi kita semua. Dan mewarnakan idealisme kita kepada setiap orang adalah hal yang tidak mudah. Pada akhirnya, kita sebagai muballighîn (orang yang menyampaikan ajaran Islam) hanya bisa bersikap toleran dan tahan terhadap segala paradoks yang ada. Keragaman aliran pemikiran dan keyakinan memang hanya bisa kita hadapi dengan toleransi ilmiah. Perbedaan yang terjadi di dalam kepala tidak bisa diselesaian dengan “kepalan tangan”. 

Barangkali untuk itulah Nabi menganjurkan kita mencari referensi untuk ber-toleransi ilmiah dalam menghadapi pluralitas sampai negeri China. Di mana bila kita sampai di sana nanti, kita akan berhadapan dengan sebuah paradoks yang sangat besar. Pertemuan 2 idealisme yang berseberang lebar; monotheis dan atheis. Dengan harapan bila kita (sudah) terbiasa menghadapi paradoks yang besar, kita akan lebih mudah menghidupi paradoks yang lebih sederhana: yaitu paradox in a religion (paradoks dalam 1 agama yang sama). Semoga! Wallâhu a’lamu bi ash-shawâb. []

*Santri Pondok Pesantren (Ponpes) UII,
Mahasiswa Ilmu Kimia FMIPA, ’09.


WAKTU;JANGAN DI SIA-SIAKAN

Dalam al-Qur’an Allah telah bersumpah, banyak sumpah Allah yang kita temui di dalamnya. Allah besumpah dengan seperti itu bertujuan agar mudah di fahami oleh hambanya, dibawah ini penulis akan mengajak pembaca untuk berenung dan bertafakur dengan sumpah allah swt. Dalam Surat al-Asr Allah bersumpah dengan menggunakan nama waktu, bahkan ada sebagian ulama yang mengartikan bahwa asr itu adalah waktu ashar. Mari kita renungkan apa yang sebenarnya terkandung dari makna asr ini.

Setiap manusia Allah berikan waktu yang sama, yaitu 24 jam. Terkadang banyak manusia yang menggunkan kesempatan itu di biarkan begitu saja, ada yang malas-malasan padahal ia tahu jika esok akan menghadapi ujian. Ada lagi yang memakai waktunya ia habiskan untuk bermain alasannya karena dunia ini hanya tempat bermain-main, ia beralasan taubat nanti saja kalau sudah tua. Sungguh mengerikan dan begitu menganggap entengnya urusannya, padahal ia tidak tahu bahwa yang selama ini yang memberikan kenikmatan itu adalah Allah. Dalam surat al-Asr ayat 1-3 dituliskan bahwa:
 “Demi masa sesungguhnya manusia berada dalam  kerugian, melainkan orang-orang yang mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (QS. Al-‘asr : 1-3)

Semua manusia dalam keadaan merugi, diakibatkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Ia terjerat masalah karena ulahnya sendiri yang disebabkan tidak menjaga mulutnya ketika berbicara sehingga  penulis tarik kesmpulan bahwa banyak kesalahan yang diluar kesadaran manusia itu sendiri. Mari kita telaah bersama surat diatas, jika kita saling mengingatkan maka kerugian itu bisa di kurangi bahkan bisa dicegah, dengan apa caranya yaitu dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Kenapa demikian? Karena dengan saling mengingatkan itu tidak akan sirna walaupun ditelan oleh waktu, jika salah satu ada yang lupa maka yang satu mengingtkan dan begitu seterusnya.

Kadar Keimanan
Sehingga dengan demikian, hal seperti ini akan menjadikan pengingat bahkan penegur dikala posisi iman kita sedang dibawah. Kita sadari bahwa kadang-kadang kadar keimanan kita selalu naik turun “al-Iimanu yazidu wa yankus” banyak hal yang melatar belakangi semua ini terlebih sebagai seorang yang memiliki tugas untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sulit untuk menjaga keimanan untuk selalu konsisten (istiqomah) ketika kadar iman kita sedang kurang stamina, apa lagi ketika sedang memiliki masalah maka semakin bertambahlah dukungan itu untuk malas dalam menjalankan semua kebaikan. Oleh karena itu maka teman pengingat sangat dianjurkan dalam hal seperti ini, agar kita selamat dari kerugian seperti yang di sampaikan oleh allah dalam surat al-Asr di atas.
Waktu bagaikan pedang, kalau salah menggunakannya maka kita akan terpotong oleh pedang itu. Sebenarnya ada dua kemungkinan; kalau tidak terpotong pasti memotong, pilih yang mana? Tentunya kalu tidak ingin menjadi korban maka kita harus benar-benar memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya agar selamat dari apa yang tidak di inginkan. Rasulullah selalu mengingatkan kepada umatnya, bahwa orang yang beruntung adalah orang yang menjadikan hari esok lebih baik dari hari kemarin. Seharusnya kita sadar betul apa yang di sampaikan nabi Muhamad saw. karena jika kita gali sebenarnya maknanya sangat dalam dan juga mampu menjadi landasan hidup dalam menimbang hari-hari yang lebih baik.
Jika kita mau memperhatikan pesan dari rasul ini sebenarnya sudah mencakup semuanya, mulai masalah hidup setiap hari dan sebaginya akan ketemu solusinya. setiap manusia yang lahir akan mengalami pertambahan usia dengan bertambahnya usia ini maka bertambah pula pengetahuan dan pemahaman keilmuan nya pula, akan teapi justru yang menjadi masalah adalah makin tua makin menjadi seperti istilah “tua-tua keladi” inilah yang dialami oleh generasi muslim saat ini. Banyak yang ngerti agama namun jauh dai nilai-nilai agama, malah seolah-olah ia membuang apa yang telah ia ketahui. Hal ini sama saja dengan membuang air yang telah kita isikan kedalam wadah kemudian wadah itu kita lubangi dari bawah.
Dalam al-Qur’an Allah menangguhkan orang-orang yang enggan untuk menyembahnya, Allah berikan apa yang mereka minta akan tetapi tunggu saja apa yang akan mereka terima karena ini adalah istijrad dari Allah swt. Berhati-hatilah dengan apa yang kita lakukan dan apa yang kita perbuat untuk allah, apakah perintah allah telah kita jalankan dengan benar dan sesuai dengan anjuran Allah itu. Kalau tidak sesuai dan jauh dari ketentuanNya kemudian apa yang kita pinta selalu Allah kabulkan jangan-jangan kita termasuk orang yang mendapatkan istijrad dari Allah. Naudzubillahi min dzalik…

Belajar dari musibah
Bangsa Indonesia, tidak henti-hentinya di landa bencana ini adalah bukti Allah menguji dan memberikan teguran kepada hambanya dikarenakan banyak diantara sekian banyaknya penduduk Indonesia yang Muslim namun hanya sebagian atau hanya tertentu saja yang menjalankan perintah Allah swt. Kalau kita mau jujur dengan apa yang kita perbuat terhadap Allah dalam jangka sehari,seminggu,sebulan, bahkan setahun. Jika kita renungkan pastilah banyak meninggalkan daripada melakukan perintahnya. Apakah kita sudah benar menjalankan perintah Allah ? seberapa seringkah kita melalaikan kewajiban kita? Tampaknya semua individu tidak berani menjawabnya.
Dari kesalahan-kesalahan inilah Allah mengingatkan kita semua untuk mendekatkan diri kepadaNya, jangan sampai melupakannya. Allah lebih senang kepada hambanya yang selalu menyebut-nyebut namanya, akan tetapi ketika hambanya lupa Allah marah, dan memberikan teguran dengan melalui perantara musibah-musibah yang tak kunjung berhenti agar hambanya selalu mengingatnya. Coba bayangkan, jika di seluruh dunia; jumlah penduduk bermilyar-milyar ini tak ada seorangpun yang menyembah allah semuanya lalai akan semua perintah allah, kira-kira apa yang akan terjadi ? apa jadinya jika tak ada satupun yang mengumandangkan adzan ketika waktu shalat tiba? Pastilah allah akan langsung mengirimkan sebuah bencana, bahkan kiamatpun juga bisa.
Indikasi Qiyamat menurut sebagian orang sudah akan tiba, karena pasalnya sudah banyak hal-hal yang muncul yang sesuai dengan tanda-tanda Qiyamat.  kerusuhan dimana-mana, jika kita perhatikan hampir di setiap Negara ada kerusuhan, masalah kecil jadi besar dan tak kunjung selesai; titik temu antar solusi sulit ditemukan. Belum lagi munculnya bayi yang memiliki mata satu, yang sempat menghebohkan media televise kemarin. Sehingga kejadian-kejadian ini di kait-kaitkan dengan Qiyamat akan terjadi sebentar lagi, padahal hanya Allah lah yang mengetahui semuanya, manusia tak berhak mendahului ketentuan Allah karena dialah yang maha mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui.

Penutup

Alangkah baiknya jika kita kembalikan kepada Allah jangan sampai kita melupakan semua perintah dan berusaha menjauhi larangan-larangannya. Syetan selalu mencari teman untuk menemaninya di Neraka kelak, jangan sampai kita menjadi salah jalan dan terperosok kedalam jalan mereka dan menjadi pengikut setia syetan. Tawaran-tawaran syetan sangat menggiurkan dan mampu melupakan semua urusan termasuk urusan akhirat, banyak orang yang sewaktu dekat dengan allah, ia meminta dalam doanya sebuah harta akan tetapi setelah itu ia lupa bahwa semua itu adalah pemberian allah. Ia merasa semua itu adalah hasil dari jerih payahnya dan hasil keringatnya seorang, bukan dari allah. Padahal ketika masih ingat dengan allah ia sempat berucap janji jika aku punya harta yang banyak aku akan tambah taat dalam menyembahmu, ternyata ia lupa semuanya Karena tertutupi oleh ajakan syetan.
Jika kita mau menjalani dan ber istiqomah dalam menjalankan ini semua pastilah semua maslah dan godaan ini bukanlah sesuatu yang sulit hanya saja kita mersakan sedikit bosan, maka sekatika itulah syetan itu masuk dan membisikan ajakan-ajakan yang menyimpang dari jalan allah swt. Ajakan allah terkadang sulit dilakukan sedangkan ajakan syetan justru malah terasa ringan dan selalu mendapatkan kemudahan, padahal efek dari semua itu adalah sebuah hukuman yang akan membuat kita menyesal selamanya ketika sudah menjadi penghuni yang abadi. Marilah kita niatkan secara bulat dengan tekad yang kuat bahwa kita akan melawan semua ajakan syetan, mudah-mudahan kita menjadi hamba yang kuat dan selalu allah berikan kemudahan dalam menjalankan semua perintahnya dan menjauhi segala larangan-larangannya.

Wallahu’alam bissowab…ilaihi rajiuun!!!

Amir Hamzah
Mahasiswa FIAI UII Yogyakarta
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Angkatan 2009

HIKMAH BULAN RAJAB DAN ISRA M’IRAJ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah swt. adalah dua belas. bulan, dalam ketetapan Allah swt. di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah Kaum Musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah swt. beserta orang-orang yang bertakwa.’ (QS At-Taubah: 36)

Menurut Allamah Kamal Faqih Imani dalam Tafsir Nurul Quran disebutkan bahwa sejak hari dibentuknya sistem tata surya seperti bentuk yang kita lihat sekarang ini, terbentuk pula hitungan tahun dan bulan. Hitungan satu tahun adalah perputaran lengkap dari rotasi bumi mengelilingi matahari; dan dalam hitungan satu bulan adalah pergerakan penuh dari rotasi bulan mengelilingi bumi, yang terjadi sebanyak dua belas. kali dalam setahun.
Kemudian al-Quran menambahkan bahwa terdapat empat bulan di antara dua belas bulan itu yang haram (disucikan), dimana menurut hukum agama diharamkan, pada bulan-bulan yang empat itu, untuk bertempur dan berperang. Yang dapat dipahami dari beberapa literatur Islam bahwa larangan berperang selama empat bulan ini adalah merupakan perintah yang bukan hanya dalam agama (kepercayaan) Nabi Ibrahim as., tetapi juga dalam agama yang diturunkan Tuhan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, sebagaimana juga diturunkan kepada agama-agama langit yang lain. Sehingga apabila ada serangan dari Kaum Kafir kepada Kaum Muslim, maka sudah semestinya bagi muslimin yang monoteistik untuk bersatu dalam satu barisan yang kokoh melawan musuh Islam.

Bulan Haram pada ayat di atas, ialah bulan yang dihormati dan dimuliakan oleh al-Quran, mayoritas ahli tafsir mengemukakan bahwa ada empat bulan haram Asyhurul Hurum yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan tersebut, kaum muslimin dilarang mengadakan peperangan. Setiap bulan ataupun hari-hari tertentu yang dimuliakan pasti mempunyai makna sejarah dan nilai filosofis yang sangat berarti bagi kaum muslimin, demikian halnya dengan Rajab.

Ada yang berpendapat bahwa bulan Rajab memiliki bermacam keutamaan lalu menganjurkan Kaum Muslim untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu agar mereka dapat meraih (fadhilah) keutamaan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Dari Anas. bin Malik RA, dijelas.kan bahwa Ras.ulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau senantiasa berdo’a, “Allahumma Baarik Lanaa Fii Rajab Wa Sya’baan Wa Ballighnaa Ramadhan” (Yaa Allah, Anugerahkanlah kepada kami barakah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan). (H.R. Ahmad dan Bazzar)

Peristiwa Besar
Allah swt .berfirman : “maha suci Allah swt. yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia maha mendengar dan maha melihat.” (QS. Al-Maidah :1)

Isra adalah berjalan pada waktu malam hari, M’iraj adalah semacam alat untuk naik. Sedangkan Istilah Isra dalam sejarah Islam adalah perjalanan Nabi Muhamad saw. pada waktu malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaqsha di Yerusalem, dengan waktu yang sangat singkat. Adapun M’iraj berarti perjalanan Ras.ulullah dari bumi  sampai ke langit ke tujuh dan sampai ke Sidratulmuntaha. Dalam istilah lain M’iraj adalah kenaikan Nabi Muhamad saw. dari Masjidilaqsaha di Yerusalem, ke alam atas (langit) melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, Sidratulmuntaha, Arasy (tahta tuhan), dan kursi (singgasana tuhan), dan menerima langsung wahyu dari Allah swt.

Peristiwa ini juga di sebutkan dalam surat lain, yaitu pada surat an-Najm (53/ 1-18) Yang artinya “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhamad) tidak perlu sesat dan tidak perlu keliru, dan tiada yang diucapkan itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu  tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan Jbril itu menampakan diri dengan rupa yang asli sedang dia berada di ufuk yang tinggi. kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhamad) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan kepada hambanya (Muhamad) apa yang telah Allah swt. wahyukan. Hatinya tidak bisa mendustakan apa yang telah di lihatnya. Maka apakah kamu Musyrikin Mekah hendak membantahnya tentang apa yang telah di lihatnya? dan sesungguhnya Muhamad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratulmuntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhamad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha di liputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya Muhamad tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tiak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda tanda (kekuasaan) tuhanya yang paling besar.”

Awal surat al-Isra dan beberapa ayat awal Surat an-Najm memberitakan apa yang di lihat oleh Nabi Muhamad saw. dalam peristiwa Isra wal M’iraj. Awal surat al-Isra berbicara tentang Isra dan Surat an-Najm membicarakan tentang M’iraj.

Peristiwa pra-Isra wal M’iraj
Peristiwa Isra dan M’iraj telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,  pada suatu malam ketika Nabi Muhamad saw. sedang berada di Hatim (dekat ka’bah), tiba-tiba Malaikat Jibril datang membelah dada Nabi saw. hati nabi di keluarkan dan di sucikan dengan air zam-zam, kemudian kedalam hatinya di masukannya iman dan hikmah yang telah disediakannya di bejana emas.. Dengan di bimbing oleh Jibril, Nabi Muhamad saw. berangkat menuju Baitulmaqdis  dan Masjidilaqsha, kemudian melakukan shalat dua raka’at yang di ikuti oleh Nabi-Nabi terdahulu. Setelah selesai sholat Jibril datang menemui Nabi dengan membawa dua gelas minuman, gelas yang satu berisi susu dan gelas yang satu lagi berisi arak. Malaikat Jibril mempersilakan Nabi Muhamad saw. meminumnya, dan Nabi Muhamad memilih susu. Kemudian Malakiat Jibril mengatakan “seandainya kamu memilih arak niscaya umatmu akan tersesat”.  Berakhirlah proses Isra disini.

Kemudian dimulailah proses M’iraj, Nabi Muhamad bersama Malaikat Jibril naik ke langit. Sesampainya di langit Malaikat Jibril meminta penjaga supaya dibukakan pintu untuk mereka. Sebelum masuk Jibril di tanya “siapakah ini? “ Jibril menjawab “ Aku Jibril” kemudian di tanya lagi siapakah yang bersama engkau ? Jibril menjawab “Muhamad” kemudian di tanya lagi: “apakah ia sudah mendapat panggilan?” Jibril menjawab “ya, dia  sudah dapat panggilan” malaikat penjagapun membuka pintu untuk Nabi Muhamad saw. dan Jibril sambil mengucapkan salam atas kedatangannya Nabi Muhamad saw.

Di langit pertama bertemu dengan Nabi Adam as. dan memberinya salam. Nabi Adam as.  menjawab salamnya dan mendoakanannya, sesudah itu tiba-tiba Rasulullah melihat wujud samar-samar yang berwarna hitam yang ada di sebelah kanan dan kiri tempat duduk Nabi Adam as. Bila menoleh ke sebelah kanan Nabi Adam senyum tapi bila menoleh kesebalah kiri  ia bersedih, ternayata yang di sebelah kanan adalah syurga dan yang sebelah kiri adalah neraka. Kemudian Nabi Muhamad saw. naik ke langit yang kedua, keduanya sama di sambut seperti di langit yang pertama. Di sini Nabi Muhamad saw. bertemu dengan Nabi Isa as. dan Nabi yahya as. Nabi Muhamad mengucapkan salam kepada keduanya dan salam ini di sambut baik dan dengan hormat. Keadaan seperti ini terjadi pada langit ketiga sampai ke langit ketujuh. Di langit ketiga Nabi Muhamad saw. bertemu dengan Nabi Yusuf as, di langit keempat bertemu dengan Nabi idris as, di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun as, dilangit keenam bertemu dengan Nabi Musa as. dan di langit yang ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim as.

Di Sidartulmuntaha Rasulullah saw.  berangkat ke Mustawa, kehadirat Allah swt. Disinilah Nabi Muhamad saw. menerima wahyu kewajiban sholat lima puluh kali sehari-semalam. Ketika nabi turun dan sampai di langit yang ke enam, Nabi Musa as. menyarankan agar sholat lima puluh kali itu dikurangi, mengingat kemampuan umat Nabi Muhamad saw. sangat terbatas. Atas saran itu Nabi saw. kembali ke khadirat Allah swt. mohon dikurangi, dan Allah swt. akhirnya berkenan menguranginya menjadi lima kali selama sehari-semalam.

Kejadian luar biasa ini sudah keluar dari batas.- batas hukum alam materi, oleh karena itu Jumhur Ulama memandang bahwa peristiwa ini dilakukan oleh Nabi Muhamad saw. dengan ruh dan jasadnya, seandainya hanya dilakukan dengan ruh, atau hanya melalui mimpi maka hal itu bukanlah hal yang luar biasa, karena ruh dapat melakukan yang demikian. Akan tetapi ini adalah peristiwa luar biasa, karena yang di terima oleh Nabi Muhamad saw. adalah perintah sholat, yang  wajib dilakukan secara rohani melainkan dengan jasmani.
Marilah kita tingkatkan Ibadah kita kepada Allah dengan mengerjakan semua apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya. Serta mensyukuri sholat yang kini dikerjakan hanya lima kali dalam sehari-semalam, apa jadinya jika lima puluh kali dalam sehari-semalam.? Inilah yang harus kita syukuri dan lebih rajin untuk menunaikannya, semoga kita di beri kekuatan untuk selalu menunaikannya hingga akhir hayat dan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Amin ya rabbal’alamin


Amir Hamzah
Mahasiswa FIAI UII prodi PAI
Yogyakarta 2009


Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.....”(Qs. Ali-Imran : 110 )
Muhamad Abdul Qodir dalam bukunya Amar Ma’ruf Nahi Munkar mengatakan bahwamakna Ma’ruf menurut timbangan syariat islam adalah setiap Itqad (keyakinan)  ‘Amal (perbuatan), Qowl (perkataan) atau isyarat yang telah diakui oeh Al-Syar’i yang maha bijaksana dan diperintahkan  sebagai bentuk kewajiban (Wujub) maupun dorongan (Nadb). Jadi ma’ruf, disini berarti Al-khyar (kebaikan). Oleh karena itu, Amar Ma’ruf  berarti perintah atau dorongan untu menjalankan perkara-perkara yang Ma’ruf  (kebaikan ) yang dituntut atau didorong oleh ‘Aqidah dan syariat islam. Sebaliknya, yang dinamakan dengan munkar menurut timbangannya syariat islam adalah setiap ‘Itiqad (keyakinan/keimanan) perbuatan (‘Amal), ucapan (Qoul) yang diingkari oleh Al-syari yang  maha bijaksan dan harus dijuhi.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia,” Al-kalabi telah mengatakan bahwa makna ayat ini mengandung keterangan yang menyebutkan tentang keadaan umat dalam hal keutamaannya, diatas umat-umat yang lain. Di dalamnya terkandung dalil yang menunjukan bahwa islam secara mutlak adalah umat yang paling baik. Kebaikan ini dimiliki secara merata diantara generasi pertama dari umat ini hingga generasi terakhirnya, bila di bandingkan dengan umat-umat yang lain, meskipun diantara sesamanya terdapat perbedaan, dalam hal keutamaan,  sebagaimana dalam dalil yang menunjukan keutamaan para sahabat di atas golongan yang lain. Pengertian ukhrijat yang berarti di lahirkan untuk manusia guna memberi manfaat dan maslahat kepada mereka  dan semua generasinya, sehingga umat ini berbeda dan di kenal oleh umat lainnya.

Firman Allah swt yang selanjutnya yang menyebutkan “ menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” Merupakan kalimat baru yang mengandung penjelasan tentang ciri khas yang membuat mereka menjadi umat yang terbaik, selama mereka berpegang teguh dan memelihara ciri khasnya tersebut. Namun, apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar-nya, maka akan lenyaplah predikat itu dari mereka. Dan Allah menjadikan mereka sebaik-baik umat bagi manusia karena mereka selalu memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran, dan mereka memerangi orang-orang kafir agar masuk islam, sehingga keberadaan mereka di rasakan manfaatnya oleh selain mereka.  Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw : “ Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”Adapun menurut riwayat Ibnu Abbas ra. dan sejumlah Tabi’in adalah umat yang paling baik dan paling berguna bagi umat lainnya. Oleh karena itu, Allah berfirman “ kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.”

Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Durrah binti Abu Lahab, Dia berkata “seseorang bangkit dan menuju nabi ketika di mimbar, lalu bertanya ‘ ya Rasulullah siapakah manusia yang paling baik ? beliau bersabda : ‘manusia yang paling baik adalah yang paling tenang, paling bertaqwa, paling giat menyuruh kepada yang ma’ruf, paling gencar melarang kemunkaran dan paling rajin bersilaturahmi.’ Taghyir almukar (mengubah kemunkaran) adalah kewajiban atas setiap muslim. Hanya saja caranya telah ditentukan oleh rasulullah. Beliau  bersabda :”Siapa saja daintara kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka cukup membencinya dengan hati karena itu adalah selemah-lemahnya iman. ”(HR. Muslim)

Hadis itu terkait dengan sifat-sifat seseorang  tetkala mengubah kemunkaran. Orang yang hendak mengubahnya dengan berbagai cara yang dapat melenyapkan emunkran tersebut, baik melalui perbuatan (tangan). Jika seseorang memiliki dugaaan kuat (yakni jika di ubah dengan tangan  akam muncul kemunkaran yang yang lebih besar lagi, seperti menyebabkan resiko akan dibunuh atau onrang lain akan terbunuh karena perbuatannya)  cukuplah mengubah kemunkaran itu dengan lisan, diberi nasihat dan peringatan. Jika a merasa khawatir  bahwa ucapanya itu bisa beraakibat pada resiko yang sama. cukuplah diingkari dengan hati. Itulah yang dimaksud hadis tersebut. (an-nawawi, syarh shahih muslim).

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa mengubah kemunkaran dengan tangan atau kekuatan adalah tugas mereka yang memiliki kekuasaan, Sedangkan merubah kemunkaran dengan lisan adalah tugasnya para ulama, adapun dengan hati adalah reaksi dari kalangan awam atau orang yang hanya bisa mendoakan agar kemunkaran itu enyah dari hadapannya. Ulama yang lain ada yang mengatakan setiap yang mampu melakukannya atau memiliki kekuasaan untuk mencegahnya maka sudah menjadi keharusan baginya untuk mengubah kemunkaran itu sesuai dengan kemampuan dirinya.

Hudzaifah ra. Telah mengatakan bahwa kelak di akhir zaman akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya mereka lebih suka bila bersama dengan bangkai keledai daripada seorang mu’min yang memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran. Musa as. Berkata “ Wahai Rabbku, apakah balasan yang mengajak saudaranya untuk mengerjakan kebaijkan dan mencegahnya melakukan kemunkaran ?” Allah berfirman, “aku akan mencatatkan baginya untuk setiap kalimat yang di ucapkannya sama dengan pahala ibadah satu tahun dan aku malu bila mengazabnya dengan neraka ku.”

Dalam sebuah hadis Qudsi di sebutkan bahwa Allah swt telah berfirman “ Hai anak Adam, janganlah kamu termasuk orang yang menangguh-nangguhkan taubatnya dan berangan-angan panjang, sehingga pulang ke akhirat tanpa membawa suatu amal apapun.” Ucapan yang di keluarkannya bagaikan ahli ibadah namun sepakterjangnya sama dengan orang munafik, jika di beri merasa kurang puas, jika tidak di beri tidak sabar untuk segera menerima. Berpura-pura menyukai orang-orang saleh, padahal ia bukan termasuk golongan mereka dan berpura-pura membenci orang-orang munafik, padahal ia termasuk salah seorang dari mereka. Suka memerintahkan kepada kebaikan namun ia sendiri tidak pernah melakukannya, dan melarang perbuatan yang buruk padahal ia sendiri tidak pernah berhenti melakukannya. Naudzubillahi min dzalik....

Diriwayatkan melalui sahabat rasul ‘Ali karramallahu wajhah yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “ kelak di akhir zaman akan datang suatu kaum yang usia mereka masih muda-muda, wawasan pengetahuan mereka tentang agama dangkal, mereka suka mengeluarkan kalam sebaik-baik makhluk, namun hanya di mulut saja tidak sampai masuk kedalam hatinya, mereka keluar dari agama secepat anak panah menembus sasarannya. Rasulullah sewaktu di isr’akan oleh Allah swt ke langit, beliau melihat sejumlah kaum laki-laki yang lidah mereka di potong dengan gunting api, lalu beliau bertanya kepada Jibril. ‘Hai Jibril, siapakah mereka?” ‘Jibril menjawab, ‘mereka adalah tukang ceramah dari kaummu yang suka memerintahkan kebaikan kepada orang lain, sedangkan mereka sendiri melalaikannya.

Allah menegur keras sikap mereka yang demikian itu, sebagaimana firmannya: Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-kitab (taurat) maka tidakkah kamu berpikir? (Qs. Albaqarah : 44). Di ayat yang lain allah juga telah menegaskan “ wahai orang-orang yang  beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?  amat besar kebencian disisi allah bahwa kamu mengatakan  apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Qs. Al-shaff  : 2-4). Ayat ini menunjukan kosistensi antara ucapan dan perbuatan dalam kehdupan sehari-hari. Banyak orang yang paham tentang agama tapi sifat dan tingkah lkunya tidak berbeda jauh dengan binatang, tidakah kita berpikir?

Sahabat Rasulullah yang bernama Anas ra. Telah bertanya kepada rasul, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerintahkan kepada kebaikan agar kami dapat mengerjakan semuanya, dan bolehkah kami mencegah kemunkaran agar kami agar menghindari semuanya?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan perintahkanlah kepada kebaikan, meskipun kamu masih belum mengamalkan keseluruhannya dan cegahlah kemunkaran meskipun kamu masih belum dapat menghindari seluruhnya.” Hal ini lain halnya dengan para penceramah yang memotong lidah mereka sendiri lantaran mereka menyuruh tapi mereka sendiri tidak pernah mengerjakannya (ta’mur wala ta’mal).

Jadi, sudah seharusnya tugas amar ma’ruf nahi munkar ini adalah tugas bagi kita semua selaku muslim yang bertaqwa kepada Allah swt, Rasulullah saw telah bersabda : Tidaklah suatu kaum itu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan di kalangan mereka terdapat orang yang mampu mencegahnya dari mereka namun ia tidak melaksanakannya, melainkan Allah meratakan siksa dariNYA kepada mereka. (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu pantaslah bila kita sering mendapatkan teguran-teguran dari Allah, mulai dari Tsunami, Lumpur lapindo, Gunung meletus dan sebagainya, mungkin entah musibah apalagi yang akan menimpa negri kita. Ini tak lain adalah sebuah peringatan bahwa sesungguhnya kemunkaran itu telah tejadi di mana-mana tapi, tak pernah ada yang menyuruh kepada yang ma’ruf. Allah telah mengingatkan kepada kita melalui bencana alam, mari bersama-sama bertafakur dan bertaubat atas kelalaian yang pernah kita lakukan, agar semua siksa yang Allah ratakan tidak terjadi lagi. Marilah kita sama-sama kembali ke jalan Allah swt dengan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dengan menanamkan kesabaran dalam diri serta percaya dengan adanya pahala dari Allah swt, karena sesungguhnya barang siapa yang percaya dengan adanya pahala dari Allah, niscaya tidak akan merasakan gangguan menyakitkan yang menimpa diri kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bertaqwa dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu’alam bisawab..!


Amir Hamzah
Mahasiswa FIAI UII, Prodi PAI
Yogyakarta 2009