Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Neraka Saqar

Demi malam ketika telah berlalu, demi subuh apabila mulai terang...

Apakah kalian tahu apakah Neraka Saqar itu? Ya Neraka Saqar adalah neraka bagi kita. Neraka Saqar adalah sebagai peringatan dari Allah. Ingat setiap orang bertangungjawab atas dirinya sendiri atas apa yang pernah ia perbuat.

Di dalam alquran disebutkan bahwa ada sebagian yang tidak mendapatkan Neraka Saqar, siapakah mereka? Mereka yang oleh Al-Quran disebutkan sebagai "Ashabul Yamin" yaitu golongan kanan. Yaitu mereka yang masuk ke dalam Syurga Allah.

Apa yang menyebabkan kamu masuk kedalam Neraka Saqar?? Mereka menjawab dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak memberi makan orang miskin bahkan kami selalu ghibah (membicarakan kejelekan orang lain) serta mendustakan hari pembalasan, hingga akhirnya kematian itu menimpa kami.

Semuanya tak ada lagi yang bisa kami perbuat, semuanya sudah menjadi 'bubur' (terlambat).

Sumber : QS Al-Mudatsir ayat : 33-48

Pesan Kuliah Etiquette

Setiap selesai imtihan (ujian) pertengahan dan akhir smester kami biasanya ada kuliah etiquette. Jadi setiap tahunnya kami menerima kuliah ini dua kali.

Isi pesan yang disampaikan oleh pengasuh (mudir) dan diikuti dengan pesan dari guru (Wali Kelas) hampir sama. Jangan lupa untuk melakukan kegiatan yang baik di pesantren sering dilakukan ketika di rumah.

Pesan ini bertujuan supaya di rumah tetap menjalani kehidupan seperti di pesantren. Jangan karena sudah di rumah semuanya jadi bebas, sebab tidak ada peraturan atau pun disiplin.

Berdisiplin itu wajib, di manapun kita berada dan kapanpun. Pesan inilah yang disampaikan oleh guru-guru kami ketika mengikuti kuliah etiquette.

Dengan pesan ini kami seolah diingatkan terus - menerus, hingga kamipun kembali ke pesantren lagi. Menjalani hidup disiplin seperti biasanya. "Kelak kalian akan rindu dengan pesantren... hidup dipesantren itu sungguh nikmat.." Ucapan ini terbukti, dan inilah yang penulis alami. Jika tidak percaya, silakan tanya ke alumni yang lain.

Salam hangat...


Kerasukan Film

Aurora, Colorado, Denver Amerika Serikat (20/7/2012) dini Hari, film terbaru Batman “The Dark Knight Rises”, menelan korban 12 orang tewas dan 71 orang terluka yang tiga diantaranya warga Negara Indonesia, akibat tabung gas yang dilempakan beserta tembakan senjata oleh seorang pemuda berusia 24 tahun, James Eagan Holmes yang terinspirasi karakter  Joker si jahat dalam Film Batman.

Peristiwa tersebut, bukan yang pertama kali terjadi, banyak kasus kerasukan Film sebelumnya yang juga telah banyak menelan korban, bagi kita peristiwa ini tentunya harus dapat menjadi bahan pelajaran yang berharga, tontonan bagaimana pun bentuknya perlu secara selektif mungkin kita memilihnya, tentu kita masih teringat dengan kasus banyak anak-anak yang menganiaya temannya karena terinspirasi acara televisi Smack Down, belum lagi kasus tindakan asusila akibat melihat tontonan yang tidak senonoh.

Sebagai bangsa yang beradab tentunya tontonannya pun harus beradab, tontotan yang disajikan mesti berorientasi membangun budi pekerti dan akhlakul karimah, dalam hal ini setiap pemilik stasiun TV, produser, sutradara film dan orang-orang yang terlibat di dalamnya mesti memiliki tanggung jawab moral terhadap efek dari tontonan yang yang mereka sajikan di masyarakat, dalam hal ini sebagai kaum muslimin tentu kita meyakini kaidah-kaidah keislaman yang layak menjadi tolak ukurnya.

Sadar atau tidak, film atau acara-acara televisi yang lainnya (meskipun disebut dialog) pada prinsipnya melakukan indoktrinasi pesan-pesan kepada pemirsanya, karena komunikasi TV bersifat searah (monolog) yang mengharuskan pemirsa untuk secara  seksama menyaksikannya tanpa ada timbal balik komunikasi dari pemirsa, apa lagi dalam suasana gelap seperti di bioskop,  yang secara halus dan perlahan mempengaruhi pemikiran dan emosi kejiwaan pemirsa dan pengaruhnya akan semakin nyata jika tidak memiliki  filter yang baik dalam menerima setiap pesan yang disampaikannya.

Tanggung Jawab Insan Media
Karakter tokoh yang dipersonifikasikan dalam film, dapat mempengaruhi cara pandang dan perilaku pemirsa, apabila karakter jahat divisualisasikan secara berlebihan, pemirsa bisa saja terobsesi dengan karakter jahat yang ditampilkannya, dalam hal ini tekad syetan untuk menyesatkan manusia sudah terbantukan dengan personifikasi karakter-karkter jahat tersebut dalam film termasuk dalam informasi-informasi criminal yang secara detail peristiwa disajikan media, syetan hanya tinggal sedikit berusaha memprovokasi manusia untuk melakukan kejahatan sedangkan cara melakukannya sudah dicontohkan, oleh karenanya wajar saja jika sampai terjadi kerasukan film. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى، فَلْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ»

Sesungguhnya Syaitan memiliki Lammah, demikian juga Malaikat memiliki lammah, adapun lammah-nya syetan adalah ancaman keburukan dan mendustakan kebenaran, sedangkan lammah Malaikat adalah janji kebaikan dan membenarkan yang benar, maka siapa yang mendapati (lammah Malaikat) hendaklah ia memuji Allah, dan siapa yang mendapati (lammah Syetan) hendaknya ia berlindung (kepada Allah) dari Syetan” (dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykâh)

Dari penjelasan di atas, maka orang-orang yang terlibat dalam industri per-film-an atau pun pertelevisian dan media lainnya, hendaknya bersikap bijaksana dan memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan berbagai acara baik hiburan atau pun informasi, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang membantu Syetan untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.

Kita perlu mengingat dosa yang diperbuat pemirsa akibat menonton acara yang disajikan juga akan ditanggung oleh orang-orang yang membuatnya, Rasulullah SAW bersabda :

...وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ،
Dan barang siapa yang memulai sesuatu perbuatan buruk di dalam Islam, kemudian perbuatan buruk itu dilakukan setelahnya, maka baginya dosa seperti dosa orang yang melakukan perbuatan buruk itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun (HR. Muslim)

Tanggung Jawab Orang Tua dan para Guru
Melihat keadaan zaman sekarang, sepertinya kita tidak dapat berharap banyak kepada orang-orang yang terlibat di dalam media massa untuk dapat menyajikan acara yang berkualitas, demi meraup profit yang tinggi, seringkali tidak lagi memperdulikan nilai-nilai agama yang dianut mayoritas masyarakat, oleh karena itu sudah seharusnya setiap orang tua  melakukan Siaga tingkat tinggi, menjaga keluarganya dari kerusakan moral yang sudah merajalela di tengah-tengah kehidupan, dalam hal ini pendidikan agama menjadi faktor penting untuk menjaga keluarga.

Pendidikan agama kepada keluarga adalah kado terbaik yang diterima sang anak dari orang tuanya, ilmu agama dapat menjaga si anak dari ketergelinciran di dalam kehidupannya, dengan mengenal Tuhannya ia akan memahami apa tujuan kehidupannya, dalam sebuah atsar mursal dengan sanad dha’if  yang diriwayatkan Imam Ahmad di dalam musnadnya, disebutkan : “Tidaklah seorang ayah memberikan pemberian kepada anaknya yang lebih baik dari pada adab yang baik”

Memberikan pendidikan agama yang baik bagi keluarga adalah tanggung jawab utama seorang kepala keluarga, Allah SWT berfirman : 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan(QS. At-Tahrîm : 6)

Demikian hal yang dapat kita lakukan dimulai dari diri dan keluarga kita, dan seharusnya setiap pribadi memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara kemaslahatan bagi seluruh manusia, semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mendengarkan nasihat dan mengikuti yang paling baik di antaranya.Wallahu A’lam []

Ustadz. Aan Abdurrahman


Menuai Hikmah Dari Banjir Saba

Di musim penghujan ini warga di kota Jakarta dan beberapa daerah lainnya disibukkan dengan urusan banjir yang telah menenggelamkan rumah, jalanan, harta benda dan mengganggu aktifitas, tidak hanya rumah penduduk bahkan industri-indutri pun menanggung banyak kerugian karena berbagai aspek banyak yang terkendala akibat banjir. 

Meskipun demikian peristiwa ini sudah dianggap tradisi tahunan yang melanda ibu kota dan daerah lainnya karena sulit dicarikan solusinya.

Banjir di dalam Al-Qur`an
Sekurangnya ada dua banjir dahsyat yang dijelaskan di dalam Al-Qur`an yang telah melanda umat-umat terdahulu, pertama, banjir yang melanda umat Nabi Nuh ‘alaihis salam, banjir besar ini menurut keterangan Al-Qur`an diakibatkan karena keengganan mentaati Rasulnya, mereka lebih senang mengikuti hawa nafsu dan menjadikan sekutu bagi Allah SWT dengan menyembah berhala-berhala.

Kedua, banjir yang telah melanda negri Saba, sebuah negri yang ada di bagian selatan Arabia (sekarang bagian dari Yaman), menurut Al-Qur`an, negri ini telah mendapatkan anugrah yang begitu besar yakni kebun-kebun yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka, pada awalnya negri ini adalah negri yang ideal karena Al-Qur`an menyebutnya sebagai “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafûr” artinya negri yang sejahtera dan diampuni Tuhan, namun kemudian mereka berpaling dari perintah Allah, sehingga mereka dihukum dengan bencana banjir besar (sail al-‘arîm) yang menghancurkan sendi-sendi kebudayaan dan kesejateraan mereka, bahkan sampai saat ini negri ini tidak pernah terdengar kembali, Allah berfirman :

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".(15) tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (16) (Sab : 15-16)

Kehebatan negri Saba dan kemakmurannya, ditandai dengan keberhasilan mereka membangun bendungan besar yang bernama Ma’arib, menurut para peneliti sejarah ketinggian bendungan ini mencapai 16 meter, lebar 60 meter dengan panjang 620 meter. Melalui teknologi bendungan inilah mereka mengaliri tanah-tanahnya sehingga menjadi tanah yang subur dan menghasilkan banyak buah-buahan sehingga rakyatnya menjadi sejahtera.  Menurut para peneliti juga bahwa berdasarkan perhitungan, total wilayah yang dapat diari oleh bendungan ini adalah 9.600 hektar, dengan 5.300 hektar termasuk dataran bagian selatan bendungan dan sisanya termasuk dataran sebelah barat seluas 4.300 hektar.

 Tidak hanya teknologi bendungan yang mereka kuasai, menurut keterangan sebagin tafsir bahwa negri ini mendapat keberkahan sehingga disana tidak ada lalat, nyamuk, kutu serta hama-hama lainnya yang mengganggu, hal ini karena seimbangnya kadar udara di negri Saba pada saat itu. (Ibnu Katsir V. 6, h. 507)

Negri Saba dan Indonesia
Negri kita memiliki kemiripan dengan negri Saba, hutan-hutan dan sumber daya alam yang ada di Nusantara ini tidak kalah hebatnya dengan yang diberikan kepada negri Saba, selain itu sudah semenjak lama sekali tokoh-tokoh di negri kita berharap dan mencita-citakan bahwa negri kita kelak menjadi negri yang ideal “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafûr”, sebagaimana negri Saba sebelum mereka berpaling dari perintah Allah dan peringatan para Rasul yang diutus kepada mereka.

Namun layaknya panggang yang jauh dari api, justeru tanda-tanda yang kita lihat adalah keberpalingan dari perintah Allah dan syari’atnya yang semakin tumbuh di negri kita, artinya jika terus saja negri ini berpaling dari syari’at Allah, bukan baldah thayyibah (negri yang makmur) apalagi rabbun ghafur (diampuni Tuhan) yang kita dapatkan, tapi bencana demi bencana yang sedikit demi sedikit menimpa negri ini, tidak hanya orang-orang yang melakukan maksiat namun orang – orang shalih pun akan turut tertimpa, Allah berfirman :

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya”. (al-Anfal : 25)

Bendungan Ma`arib dan Tanggul Latuharhary
Banjir yang melanda negri Saba diakibatkan kekufuran mereka kepada Allah, menyekutukannya, tidak bersyukur dan menentang para Rasul Allah, kemudian Allah memberi hukuman bagi mereka, teknologi bendungan Maa`rib yang mereka banggakan akhirnya menjadi malapetaka bagi mereka, menurut penjelasan sebagian tafsir bahwa Allah mengutus hewan “Juradz” (sejenis tikus besar) untuk melubangi dan merusak bendungan besar ini (Ibnu Katsir V. 6/507), sehingga menyebabkan banjir besar yang menghancurkan negri Saba ini.

Terkait banjir besar yang menimpa Jakarta di awal tahun 2013 ini, memang tidak bisa dilepaskan dari pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan, namun juga kemaksiatan adalah faktor utama yang mengundangnya, banjir yang menimpa silang Monas sampai Bundaran Hotel Indonesia (HI) adalah sebagai contoh, lokasi yang tidak pernah terkena banjir ini, bahkan pada banjir tahun ini menelan korban jiwa karena jebolnya tanggul Latuharhary, apa maksiat yang mengundangnya?

Tentu amat banyak jika kita menghitungnya, antara lain kita mengingat pesta rakyat Jakarta pada malam tahun baru di lokasi ini, sebagai umat Islam kita tidak layak merayakannya, karena mengandung unsur kesyirikan dan menyerupai orang kafir, apalagi acara tersebut penuh dengan kemaksiatan, buka-buka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, dan berapa banyak yang meninggalkan shalat Subuh karena lelah merayakan tahun baru ini? dan lain-lain.

Demikian sedikit hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa banjir di negri Saba dan banjir yang baru-baru ini menimpa kota Jakarta, marilah kita intropeksi diri dan bertaubat kepada Allah seraya kita bersama-sama memperbaiki kesalahan pembangunan dan kebiasan buruk kita membuah sampah sembarangan, yang menjadi sebab banjir tahunan yang menimpa kota kita ini. Wallahu A’lam []

Ustadz. Aan Abdurrahman 

Virus Yang Mengancam Generasi Muda

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (Q.S. Al-Kahfi : 13)

Pemuda dan remaja merupakan generasi pada fase usia produktif baik untuk dibina dan dibentuk menjadi orang-orang baik atau pun sebaliknya, pemuda masih memiliki energi besar untuk melakukan perubahan dan banyak hal besar yang dapat dilakukannya. 

Dalam surah Al-Kahfi ayat 10-11, Allah  Azza Wa Jalla mengkisahkan pemuda-pemuda yang dapat berperan besar, yakni dalam hal menjaga keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah yang disebutkan di atas, dan keberanian mereka ketika mereka menghadapi raja Diyaknus pada saat itu, Allah mengkisahkan mereka :

“Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri (di hadapan raja), lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran".

Pemuda-pemuda kahfi ini seharusnya dapat menjadi teladan bagi pemuda dan remaja saat ini, jika pemuda-pemuda kahfi ini konsisten dalam keimanannya dan mengkritisi kesesatan yang dilakukan kaumnya, maka pemuda saat ini sekurangnya dapat membentengi dirinya dari arus kerusakan moral yang kian tak terbendung bahkan menjadi bagian yang melakukan perbaikan terhadap masyarakat yang ada di lingkungannya.

Perhatikan kembali ayat di atas, kemuliaan yang didapatkan pemuda-pemuda kahfi adalah karena keimanan mereka kepada Allah SWT, bukan karena harta, jabatan dan ilmu yang mereka raih, apapun peran di dunia ini, sebagai apapun bekerja, hanyalah keimanan yang menjadi sebab kemuliaan seseorang disisi Allah sehingga mendapatkan pertolongan dan petunjuk dari-Nya.

Dalam Islam pada hakikatnya tidak ada pembedaan antara pemuda atau orang tua, yang ada adalah usia mukallaf (baligh) dan usia pra taklif (belum baligh), dan remaja atau pemuda termasuk dalam kelompok mukallaf yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang tua ia berdosa jika melakukan kemaksiatan dan mendapat pahala jika melakukan amal shalih.

Namun demikian sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhâri dan Muslim, ada keutamaan bagi pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, kelak ia termasuk dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari kiamat, yang pada saat itu tidak ada lagi tempat bernaung kecuali naungan Allah SWT .

Virus-virus yang Mengancam Generasi Muda
Pada zaman ini, era teknologi telah beralih ke era informasi, berbagai nilai dan cara berpelaku mudah sekali menyebar ke berbagai penjuru bumi, terutama budaya dan cara berperilaku para penguasa informasi yang umumnya adalah non-muslim atau orang-orang yang tidak memiliki kepedulian kepada Islam.

Cara berperilaku  dan sikap hidup itu, paling kurang diruska melalui lima jenis perilaku yang dapat dirumuskan melalui 4F + M, yaitu : Food (perilaku makan), Fashion (perilaku berpakaian), Film (periaku tontonan) dan Fun (perilaku hiburan) plus Music.

Food, Dengan  masuknya model makanan asing ke negri-negri kaum muslimin, ternyata tidak sekedar mengubah selera makanan, namun juga merubah perilaku makan, di mana secara perlahan, para pemuda diajarkan untuk tidak lagi peduli mana yang halal dan haram, style makan pun telah berubah, seperti  makan-minum sambil berdua-duaan dengan lain jenis yang bukan mahram (khalwat), makan sambil minum khamr, bersikap berlebih-lebihan dalam makan, makan-minum sambil berdiri, makan-minum di tempat mewah  dan lainnya, belum lagi makanan dan minuman yang secara umum dapat merusak tubuh, Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka Makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka. (Muhammad 12)

Fashion,  atau cara berpakaian, dalam hal ini para muslimah khususnya mendapat serangan budaya yang begitu dahsyat, di mana para muslimah telah banyak yang ikut menanggalkan jilbabnya demi mengikuti tren-tren yang berkembang atau memakai jilbab tetapi dengan pakaian ketat dan transparan sehingga lekuk tubuhnya tetap kentara oleh semua orang, secara tidak sadar akhirnya para muslimah tersandera oleh bujuk rayu syaitan yang tidak henti-hentinya berupaya menelanjangi ana cucu Adam. Allah SWT berfirman :

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua bapa ibumu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya... (Al-A’raaf : 27)

Demikian juga pemuda muslim, cara berpakian mereka banyak meniru style orang-orang asing, dengan atribut-atribut yang tidak sesuai dengan pakaian yang Islami dan berbagai slogan dan gambar –gambar yang tidak Islami yang tertulis dalam pakaian-pakaian mereka, mereak meniru-niru cara hidup selain kaum kaum Muslimin.

Film, merupakan tren hiburan modern, dengan gambarnya yang hidup, film menjadi sarana efektif yang dapat mengajarkan generasi kaum muslimin berbagai cara hidup, cara berfikir yang tidak jarang bertententangan dengan pandangan hidup kaum muslimin.

Fun, Sekarang ini  Fun atau kesenangan, hiburan dan permainan generasi Muda khususnya telah banyak mengalami perubahan bahkan juga memiliki impilkasi besar dalam perubahan perilaku, seperti kehadiran internet telah merubah cara hidup yang sosial menjadi a social dengan mudahnya akses pornografi dan informasi merusak lainnya, olahraga tidak lagi berorientasi menjaga kesehatan namun berubah menjadi media anarkis dan fanatisme bahkan media perjudian,  remaja pun secara perlahan condong pada perilaku yang menyimpang dan banyak yang terjatuh dalam perzinahan, kesyirikan, perilaku kriminal dan lain-lain. 

Musik, termasuk hal yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku, sekarang hampir tidak ada tempat yang tidak dimasuki oleh musik, bahkan amat banyak pemuda-pemudi yang menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk musik, sehingga ia lupa akan menuntut ilmu, lupa akan ibadah, lupa akan keluarga bahkan lupa terhadap hari akhirat, oleh karenanya film, music, fun yang tidak berguna masuk dalam kategori lahwul hadits (perkataan yang tidak berguna) Allah SWT berfirman :

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. (Luqman : 6-7)

Dengan tetap membentengi generasi muda dari virus-virus yang dapat merusaknya, kita berharap kelak akan lahir para pemuda yang gemar menuntut ilmu, gemar beribadah, gemar membantu orang lain dan terutama yang dapat konsisiten dalam keimanannya.Wallahu A’lam []

Ust. Aan Abdurrahman 

Mari Belajar Dari Ashabul Kahfi

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (Q.S. Al-Kahfi : 13)

Pada hari Jum’at, menurut hadits shahih yang dikeluarkan oleh al-Hâkim bahwa kita disunnahkan membaca surat al-kahfi, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at ia akan diterangi cahaya antaranya dan antara dua Jum’at”. Sedangkan dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang hafal sepuluh ayat dari awal surat al-Kahfi, ia akan dijaga dari fitnah Dajjâl “.

Selain keutamaan besar bagi yang membacanya sebagaimana disebutkan di atas, banyak kandungan yang dapat kita petik darinya, antara lain kisah tentang para pemuda yang berlindung di dalam gua dari kezaliman raja yang lalim pada saat itu.

Usia Muda dan Konsitensi Keimanan
Usia muda sering disalah-artikan oleh banyak anak muda, dianggap sebagai masa-masanya menikmati kehidupan dengan hidup hedonism, berfoya-foya, punya banyak pacar, mendatangi klub-klub pesta dan jauh dari masjid-masjid (dalam benaknya nanti saja kalau sudah tua baru tobat) padahal yang mengetahui ajalnya hanya Allah SWT yang tidak ditentukan dengan usia seseorang.

Kisah Ashabul Kahfi, memberikan contoh terbaik bagi generasi muda, Al-Qur`an menyebut mereka sebagai pemuda yang beriman (fityatun âmanû birabbihim), keimanan inilah yang menjadi sebab kemuliaan mereka di sisi Allah sehingga Allah menmabah petunjuknya bagi mereka, mereka berani menyampaikan kebenaran dan bersikap kritis pada kehidupan masyrakatnya yang menyimpang dari ajaran Islam, bahkan mereka siap menerima konsekuensi dari keimanan yang menghujam dalam dada mereka, sehingga mereka berhak mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Dari kisah mereka, usia muda  tidak menghalangi seseorang untuk menjadi hamba mulia di sisi Allah, penekanan usia muda disini juga mengajarkan bahwa usia muda adalah usia yang produktif karena masih memiliki banyak energi untuk berbuat kebaikan atau sebaliknya, bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa pemuda yang giat beribadah termasuk dalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah SWT, kelak pada hari akhirat.

Dalam menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah menyebutkan bahwa mereka adalah para pemuda, Mereka adalah orang-orang yang paling cepat menerima kebenaran, paling lurus dalam menempuh jalan, dibandingkan para orang tua yang telah banyak salah dan jatuh terjerumus dalam agama yang batil. Oleh karena itu, kebanyaka yang menerima da’wah Rasulullah SAW adalah para pemuda (Ibnu Katsir, Abdul karim h. 702)

Jika pemuda-pemuda kahfi ini konsisten dalam keimanannya dan mengkritisi kesesatan yang dilakukan kaumnya, maka pemuda saat ini sekurangnya dapat membentengi dirinya dari arus kerusakan moral yang kian tak terbendung bahkan menjadi bagian yang melakukan perbaikan terhadap masyarakat yang ada di lingkungannya.

Hidup setelah Mati
Allah SWT menjadikan Ashabul Kahfi sebagai salah satu tanda kekuasaannya, anak-anak muda ini hidup dalam masa penindasan seorang raja kafir dan masyarakat yang menyekutukan Allah, para pemuda ini pun harus menanggung resiko atas keimanannya mereka harus lari dan bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir, namun kemudian Allah menyelamatkan mereka di dalam gua (kahf) dan menidurkan mereka selama 309 tahun kemudian membangunkan mereka kembali untuk memperlihatkan siapakah yang akan binasa terlebih dahulu para pemuda ini atau raja dan para pengikutnya yang kafir.

Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa kelak Allah berkuasa membangkitkan kita dan orang-orang terdahulu setelah kematiannya untuk proses pertanggung jawaban dalam kehidupan yang lebih panjang, dan bagi orang-orang yang diberi kekuasaan namun berbuat kezaliman dan mengingkari ajaran-ajaran Allah, kisah ini harus dapat jadi peringatan bahwa kelak pun mereka akan binasa, dan bagi orang-orang yang teguh dalam keimanan ini merupakan kabar gembira bahwa Allah tidak pernah lengah atau melupakan mereka, pertolongan Allah senantiasa menyertai mereka selama mereka istiqamah dalam keimanannya.

Keberanian Menyampaikan Kebenaran
Keimanan yang menghujam dalam dada para pemuda kahfi, mendorong mereka untuk berda’wah dan menyampaikan kebenaran termasuk di hadapan raja pada saat itu, mereka tidak gentar menyatakan keimanannya, dalam hal ini mereka telah melakukan jihad yang utama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat keadilan di hadapan sultan yang lalim” (HR. Ibnu Mâjah, dishahihkan oleh al-Albâni)

Ini contoh utama bagi para da’I agar tidak segan dalam menyampaikan kebenaran, namun demikian bukan berarti harus bersikap kasar terhadap penguasa, Allah SWT telah membimbing Rasulnya Musa dan Hârûn‘alaihimâs salâm agar bekata lemah lembut kepada Fir’aun, Allah SWT berfirman :

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; (43) Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thâhâ : 43-44)

Kritis terhadap Kondisi Kaumnya yang Menyimpang
Ketika melihat penyimpangan besar dalam kaumnya yang menyembah selain Allah, para pemuda ini tidak lantas turut serta menuruti cara hidup kaumnya ini dengan dalih mengikuti orang banyak, mereka mampu berfikir kritis dan lebih memilih mengikuti kebenaran meskipun sedikit orang bahkan hanya sejumlah mereka yang tidak lebih dari tujuh orang, tentang sikap kritis mereka kepada kaumnya, Allah berfirman :

“kaum Kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi : 15).

Demikian pula saat ini, banyaknya orang melakukan sesuatu, atau banyaknya orang yang memilih partai tertentu tidak menjadi tolak ukur kebenaran yang layak untuk diikuti apalagi  jika jelas-jelas yang dilakukannya bertentangan dengan syari’at Allah SWT dan menyimpang dari kebenaran. Allah SWT berfirman :

“dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Al-An’am : 116)

Dalam hal ini para pemuda mesti memiliki ilmu pengetahuan, ia tidak boleh berhenti belajar, pelajarilah Al-Qur`an dan Sunnah yang keduanya adalah harta pusaka Rasulullah SAW agar umatnya tidak terjerumus dalam kesesatan.

Melakukan hal yang Terpenting
Al-Qur`an mengkisahkan kepada kita, ketika mereka bangun dan saling bertanya-tanya di kalangan mereka tentang berapa lama mereka tinggal di gua tersebut, Allah SWT berfirman :

“dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, ..(Al-Kahf 19).

Bertanya-tanya tentang berapa lama mereka tinggal disana bukanlah hal yang penting, karena hanyalah Allah yang mengetahui hal tersebut, oleh karenanya sekelompok dari mereka segera memutus perdebatan itu dan mengembalikan kepada Allah, serta beralih kepada hal yang lebih penting dan bermanfaat, yaitu mengutus seseorang untuk membeli makanan karena itu lebih dibutuhkan pada saat itu.

Jika kita melihat generasi muda pada saat ini, betapa banyak waktu dan kesempatan yang mereka sia-siakan dengan mendengar music, duduk-duduk di jalanan, dan hal-hal lainnya yang kurang manfaatnya, padahal masih banyak hal lainnya yang lebih bermanfaat, seperti menimba ilmu dan mencari nafkah.

Masih banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah mereka, mudah-mudahan sebagian yang disebutkan diatas dapat bermanfaat dalam kehidupan.Wallahu A’lam

Ust. Aan Abdurrahman


Memaknai Peran Alumni; Kualitas dan Kuantitas

Predikat alumnus memang merupakan kebanggaan tersendiri yang disandang bagi sebagian santri yang telah menamatkan pendidikannya khususnya di sebuah pesantren, bagaimana tidak, perjuangan untuk bisa memperoleh dan menyandang gelar tersebut cukup melelahkan, disamping harus banyak yang dikorbankan bak fisik maupun materill. Juga penuh liku-liku hidup yang terkadang tak terlepas dari benturan-benturan kerikil tajam yang dihadapi dalam proses pencapaiannya, Dari mulai memasuki komunitas A'dho, Mudabbir, Hingga Nihai, yang pada akhirnya sampai pula kepada komunitas ALumnus, seperti yang baru saja digelar hajat tahunan DT kemaren. Petanyaannya sekarang, bagaimana dan dengan apa kita mempertahankan kebanggaan itu tadi ?? Dengan apa dan cara seperti bagaimana kita memainkan peran Alumnus tadi ?? Dan seberapa besar dedikasi dan loyalitas yang telah, tengah dan akan diabadikan kepada alamamter ??? [Ustad. Endang Dq]
Alumni sedang BUKBER. Depan koprasi DT
Apa yang disampaikan oleh beliau di atas, sangat betul adanya. Jumlah alumni yang setiap tahun terus bertambah kian banyak namun tidak berbanding lurus dengan peran dan eksistensinya.

Hal ini sangat miris, dan perlu dibenahi, sehingga wajar jika ada spekulasi yang bermacam-macam di kalangan alumni yang lain. Bahkan, hal ini menjadi wacana hangat bagi setiap alumni untuk diperbincangkan [bukankah begitu?...]

Spekulasi yang kini beredar itu wajar, karena setelah menunggu beberapa tahun tetap tidak ada perubahan. Tak ada gerakan ataupun respon yang seharusnya dari jauh-jauh hari telah dilakukan.

Apakah refleksi yang dilakukan harus membutuhkan waktu yang selama ini?? atau karena faktor kesibukan, sehingga tak ada yang mau mengurus.  Jika benar adanya sepert itu, maka harus dari sekarang mengambil inisiatif tindakan yang bertujuan untuk menyelamatkan "stagnanisasi" yang berkepanjangan.

Dari tahun ke tahun tak ada perubahan, tak ada kemajuan, stagnan, dan seolah berada di "zona nyaman". Jika hal ini dibiarkan maka akan semakin bertambah parah, bak luka yang tak pernah diobati dan terus dibiarkan maka luka tersebut lama kelamaan akan membusuk, akhirnya luka tersebut tak dapat disembuhkan.

Akibatnya menjadi sangat fatal dan beresiko sangat besar untuk kelangsungan masa depannya nanti. Yuk.. sama-sama kita benahi dan kita bangkit lagi... "kalau bukan kita, ya siapa lagi yang mau peduli..??".

Tak perlu saling menyalahkan dan saling menudiang ini kesalahan siapa. Saat ini yang harus dilakukan adalah " Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari semua ini untuk menjadi lebih baik lagi, serta tidak mengulanginya dikemudian hari..." Kita bisa mulai dari awal, dari titik nol lagi, atau hanya merevitalisasi apa yang telah ada dan lebih dikembangkan.