Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

4 Cara Mudah Hidup Bahagia

Hidup di dunia yang hanya sebentar ini tidak akan pernah lepas dari goncangan dan godaan. Karena goncangan, kita bisa jadi menangis. Karena godaan, kita bisa jadi terlena. Dan selama kita masih hidup di dunia, maka kita tidak akan pernah bisa mengharapkan untuk tidak pernah merasakan sakit. Tapi karena sakit itulah, maka kita bisa menemukan indahnya kenikmatan Allah.

Orang beriman bukanlah orang yang tidak pernah sedih. Orang beriman bukan orang yang tidak pernah marah. Orang beriman bukan orang yang tidak mungkin tergelincir. Tapi orang beriman adalah orang yang selalu berusaha menyandarkan segala permasalahan dan kebutuhannya hanya kepada Allah.

Orang beriman selalu bahagia dan enteng menjalani hidup karena dia TAAT, ISTIQOMAH, RENDAH HATI, dan BAIK SANGKA.

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menghina mereka, mereka membalas dengan ucapan doa ‘Salam’ (QS Al Furqon 63).”

Sesungguhnya setan tidak pernah dan tidak akan pernah mampu menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah Jala Jalalluh (Q.S. An-Nahl : 99).

Ada orang yang taat, tapi menjalani ketaatannya tidak istiqomah. Apalagi buruk sangkanya selalu dituruti. Sudah pasti hidupnya menderita. Kenapa? Karena orang yang buruk sangka maka dunia seluas ini seakan menjadi sempit baginya. Jalan ke sana, ketemu orang yang wajahnya kusut sedikit, dia sudah mikir, “pasti dia begini, pasti dia begitu”. Melihat orang yang tiba-tiba tertawa di depannya, mendadak hatinya langsung kemrungsung, “dia pasti begini, dia pasti begitu”. Orang yang kerjanya buruk sangka itu capek, ikhwah.

Kalau dia taat, istiqomah, baik sangka, tapi tidak rendah hati, maka hidupnya juga tidak mungkin bahagia. Bagaimana mungkin orang yang sombong bisa bahagia? Orang yang sombong, tidak tahan celaan. Tidak tahan hinaan. Terlebih lagi, dia tidak tahan pujian.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘ala kullihaal…” Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang bisa memberi dan mencabut kenikmatan. Kadang, saat Allah kasih kita sakit gigi. Bisa sampai berhari-hari kita mengeluhkan sakit giginya saja. Berobat kemana-mana. Muka dan hati kusut berhari-hari. Seakan-akan kalau giginya itu gak sembuh, maka hidupnya sudah gak nyaman, gak betah, gak suka, gak ridho.

Dia lupa, bahwa Allah masih menjaga jantungnya, agar tetap berdegub, jadi dia masih bisa hidup, darahnya masih bisa mengalir. Dia lupa, bahwa Allah masih menyehatkan kaki dan tangannya, agar bisa berjalan ke dokter dan tangannya masih bisa ngusapin pipinya yang lagi sakit gigi itu. Dia lupa sama nikmat Allah yang lain.

SubhaanAllah… Semoga Allah selalu kasih kita nikmat sehat yang manfaat. Aamin Allahumma aamin.

Sumber : smstauhiid.com

Penyakit Hati : Cinta Dunia

Salah satu rahasia kesuksesan Rasulullah Saw adalah terbebas dari penyakit hubbuddunya atau cinta dunia. Hingga akhir hayatnya, kemuliaan nama beliau tidak memiliki cacat sedikitpun, karena beliau bersih dari penyakit hati tersebut.

Rasulullah Saw bersabda, ”Akan terjadi masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat Islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.” Lalu, seorang sahabat bertanya, ”Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian banyak. Namun, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit Wahn.” Sahabat bertanya lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang engkau maksud dengan Wahn itu?” Rasulullah menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menyampaikan kepada kita bahwasanya kecintaan berlebihan terhadap hal-hal duniawi bisa menjadi penyebab kehancuran seorang muslim secara khusus dan umat Islam secara umum.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin yang dihormati dan disegani berbagai peradaban besar dunia. Namun, beliau sama sekali tidak dikotori dengan kecintaan pada dunia.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin besar yang hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah sosok pengusaha yang dititipi limpahan dunia oleh Allah Swt, namun hal itu tidak membuat beliau diperbudak oleh dunia.

Jika orang sudah mencintai sesuatu, maka dia cenderung akan diperbudak oleh apa yang dicintainya itu. Misalnya adalah saat kita punya sandal yang bagus dan mahal, kita akan merasa bangga walau status sandal itu adalah pinjaman atau kreditan. Setiap kali kita bepergian, pandangan kita banyak tertuju kepada sandal itu dan sangat khawatir terinjak oleh orang lain. Ketika memasuki masjid, maka kita akan sangat berhati-hati menyimpannya.

Jika ada penitipan barang, kita pun bersegera menitipkannya karena takut ada yang mencurinya. Jika tidak ada tempat penitipan, maka kita akan mencari tempat atau posisi shalat yang berdampingan dengan tempat kita menyimpan sandal, dan mengenyampingkan shaf paling depan yang masih kosong. Seperti inilah gambaran seseorang yang diperbudak dunia.

Ciri-Ciri Orang yang Cinta Dunia
Pertama, seperti rata-rata orang yang jatuh cinta, pecinta dunia pun akan membicarakan terus-menerus tentang segala apa yang dicintainya kepada orang lain. Topik pembicaraan dan arah aktifitas yang dilakukannya adalah untuk hal duniawi. Manakala seseorang senang membicarakan hal-hal yang dicintainya dari pagi hingga pagi lagi, maka kemungkinan besar penyakit itu telah menggerogoti hatinya.

Kedua, pecinta dunia tidak pernah merasa tenang karena dunia telah mencuri hatinya. Perasaan tidak puas bercampur dengan perasaan was-was. Akhirnya, hidupnya pun ikut berantakan.

Meski dunia juga lekat dengan kehidupan Rasulullah Saw, namun hal itu tidak berhasil mencuri hati beliau. Saat Rasulullah Saw memiliki baju bagus dan ada orang yang menyukainya, maka beliau memberikannya. Beliau tidak merasa keberatan untuk memberikan apa yang beliau miliki dan beliau sukai. Beliau punya kuda yang sangat bagus. Jika ada orang lain yang membutuhkannya, maka beliau akan memberikannya dengan ringan. Beliau tidak pernah berpikir apalagi berbuat aniaya.

Ketiga, penyakit cinta dunia akan menimbulkan penyakit-penyakit lain seperti penyakit sombong, dengki, serakah, dan lain sebagainya. Seorang pecinta dunia tidak akan merasa puas. Ia tidak akan sanggup menyaksikan orang lain yang memiliki segala sesuatu melebihi dirinya. Timbul rasa iri dengki di dalam hatinya.

Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan atau keberhasilan. Dia menjadi orang yang serakah, tidak mau berbagi dengan orang lain. Andaikan bisa, maka dunia ini akan dia tempati sendirian saja.

Orang yang serakah akan stres memikirkan satu ekor domba yang dimiliki tetangganya. Padahal dia sudah punya 100 ekor domba di kandang di belakang rumahnya. Hatinya tidak tenang. Ia berpikir keras bagaimana agar satu ekor domba milik tetangganya itu menjadi miliknya sehingga menggenapi jumlah dombanya menjadi 100 ekor.

Tidak ada salahnya kita meniru tukang parkir yang memiliki rumus untuk tidak bersikap sombong dan tidak merasa takut kehilangan sesuatu. Berapa pun banyaknya kendaraan yang diparkir di tempatnya, tidak dia pandang sebagai miliknya. Karena dia sadar bahwa semuanya adalah titipan.

Dia pun yakin bahwa kendaraan-kendaraan itu akan diambil kembali oleh para pemiliknya. Dia merasa hanyalah dititipi sementara oleh pemiliknya. Dia tidak merasa sombong, padahal di tempatnya ada banyak kendaraan mewah berderet. Saat pemiliknya akan mengambil kembali kendaraan itu, maka dengan lapang dada dia akan menyerahkannya.

Segala sesuatu di dunia ini yang kita anggap milik kita, sebenarnya adalah milik Allah Swt. Dia menitipkannya kepada kita. Allah Swt pasti akan mengambilnya kembali. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah mutlak milik Allah Swt. Kita hanya diamanahi untuk mengurusnya.

Semua yang sempat kita miliki di dunia akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti di hadapan Allah Swt. Apakah uang yang sempat kita miliki, kita belanjakan di jalan Allah atau tidak? Apakah selama kita di dunia menunaikan kewajiban zakat atau tidak? Apakah rumah yang kita tinggali digunakan untuk kepentingan ibadah ataukah tidak?

Kita tidak perlu merasa hina karena tinggal di rumah yang sederhana dengan furniture yang tidak bagus. Kita tidak perlu merasa kecil hati hanya karena memiliki sedikit pakaian dalam lemari kita. Kita tidak perlu merasa hina karena Islam mengajarkan bahwa kekuatan dan nilai seseorang tidak diukur pada kekayaan duniawinya, melainkan pada kekayaan hati dan jiwanya atau ketakwaannya kepada Allah Swt.

Perbedaan Pecinta Allah dan Pecinta Dunia
Jangan sampai kita diperbudak oleh keinginan duniawi semata yang hanya mengikuti dorongan hawa nafsu. Kita harus memiliki keinginan terhadap sesuatu yang Allah lebih sukai dan ridhai.

Di situlah letak perbedaan antara pecinta dunia dengan pecinta Allah Swt. Keduanya memang sama-sama sibuk untuk mengejar apa yang diinginkannya. Tapi bisa jadi dalam mengejar dunia, pecinta Allah-lah yang lebih sibuk daripada pecinta dunia. Karena bagi pecinta Allah, setiap hal yang dilakukannya di dunia adalah ibadah.

Ketika mengejar dunia, seorang pecinta Allah akan sangat menjaga nilai kemuliaannya sehingga dia mendapatkan dirinya lebih berharga dari dunianya. Jika dunianya habis, maka tidak akan hilang kemuliaan dari dirinya. Saat mendapatkan dunianya, seorang pecinta Allah akan mendistribusikannya untuk kepentingan akhiratnya. Dia akan mendorong orang lain agar sejahtera dengan kekayaan miliknya.

Sebaliknya, seorang pecinta dunia akan membelanjakan apa yang dimilikinya sekehendak nafsunya. Ia hanya akan mendahulukan kesenangan dan tidak peduli sama sekali terhadap orang lain.

Seorang pecinta dunia akan semangat mencari kekayaan namun tidak berempati apalagi sekedar peduli jika perilakunya merugikan orang lain. Ia menghalalkan berbagai cara. Kedhaliman yang dia lakukan tidak ia sesali. Dengan demikian, kedudukan pecinta dunia ini adalah lebih hina daripada dunianya. Buktinya adalah dia hanya bisa menjadi budak dari dunia yang dimilikinya.

Sumber : smstauhid.com

Pesan Berharga Dari Permen

Saya pacu sepeda motor bebek yang saya kendarai secepat mungkin. Bukan tanpa alasan saya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kala itu saya mengejar waktu dan berburu tiket kereta api. Saat itu sedang musim liburan, dan pada tanggal itu juga saya harus berangkat ke Jogja. Jika tidak cepat-cepat memesan tiket pasti kehabisan.

Sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba bermasalah. Gas nya sudah tidak berfungsi dan jalannya tersendat-sendat. Ini pasti bensin nya habis, tebak saya dalam hati. Dalam posisi itulah saya berusaha mencari tempat jualan bensin eceran. Tepat di warung penjual bensin eceran itu pula sepeda motor itu terhenti.

Setelah dibuka dan dicek, ternyata betul. Bensin nya kering kerontang. Saya langsung membeli bensin. Kebetulan penjaga warung nya langsung paham. Langsung membawa satu botol bensin yang isinya satu liter, tak lupa di tangan kirinya menggenggam corong yang sudah disambung dengan selang.

Selesai menuangkan bensin, uang pecahan sepuluh ribu saya serahkan kepada ibu penjaga warung. Sebentar ia masuk dan keluar lagi. Di tangan ibu itu ada uang kembalian dan dua buah permen yang didominasi dengan warna merah. Uang itu saya terima dan dimasukan kedalam kantong, saya penasaran dengan dua buah permen tadi.

Begitu saya lihat, ternyata ada tulisan yang membuat saya merasa diingatkan. Ternyata tulisan yang ada di permen itu bisa memberikan dampak yang positif. Tulisan dari dua permen itu "sabar... dan belum terlambat"

Dua permen ini sengaja saya simpan dan akhirnya saya abadikan. Ternyata sesuatu yang bentuknya sekecil ini mampu memberikan dampak yang sangat besar. Kala itu saya sedang terburu-buru dan mengejar tiket kereta supaya tidak kehabisan. Tapi setelah membaca dua tulisan dari permen tersebut, saya pun langsung tersadar.


Memaknai Kemeredekaan Yang Sesungguhnya

Pada tanggal 17 Agustus kita biasa mengadakan upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak terasa saat ini kita merdeka sudah 68 tahun, selama itu pula  kita hanya mampu mempringatianya melalui serangkaian upacara bendera (seremonial). Tanpa mampu untuk memaknai kemerdekaan yang hakiki.

Dalam kamus online, merdeka itu diartikan bebas, yaitu bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Atau bebas juga dapat diartikan berdiri sendiri. Merdeka juga diartikan tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu atau disebut juga leluasa.

Pengertian-pengertian yang terdapat dalam kamus seperti di atas menunjukan dengan jelas bahwa itulah makna kemerdekaan secara garis besarnya. Tetapi, dalam  ruang lingkup kecil seperti di sekeliling (lingkungan) kita, nyatanya belum. Berapa banyak penduduk yang masih memiliki hambatan ekonomi, tuntutan dari sana-sini, dan mereka masih bergantung kepada pihak-pihak tertentu.

Berarti jika kita tarik kesimpulan sementara, kita ini belum merdeka 100 persen. Penjajah yang dulu dapat diusir dari negri ini telah kembali dengan wajah yang berbeda. Jika penjajah dahulu begitu tampak dan nyata adanya, tapi penjajah saat ini sangat sulit untuk dikenali. Ia berada disekeliling bahkan masih berkewarganegaraan Republik Indonesia. Siapakah dia??

Ya itulah mereka, Si KORUPTOR. Merekalah yang saat ini menjadi musuh kita bersama. Penjajah masa kini yang dengan sadis membantai dan membunuh masyarakat indonesia secara perlahan-lahan. Rakyat berteriak kesusahan, sedangkan ia duduk manis dengan segudang kemewahan. Rakyatnya mengalami kesulitan disana-sini tetapi hal itu ia jadikan sebagai ladang bisnis.

Jika negri ini dipenuhi penjajah-penjajah seperti mereka, maka sampai kapan kemerdekaan yang hakiki itu kita rasakan. Haruskah negri ini di bom atom lebih dulu... agar semuanya bisa kembali dan bangkit seperti negri sakura; jepang.

Atau,  cara yang kedua. Perketat pasal-pasal yang terdapat pada Undang-Undang. Siapa yang jelas-jelas korupsi, maka hukumannya adalah hukum mati. Karena korupsi yang saat ini melanda sudah sangat mengkhawatirkan. Terlebih uang yang mereka korupsi sama dengan menyangkut nyawa dan kehidupan (kemaslahatan) umat manusia. Dengan demikian maka efek jera pun akan terbangun.

Sedangkan cara yang ketiga, seluruh pejabat yang terindikasi kotor maka dipecat dari jabatannya, kemudian diganti dengan yang lebih bersih. Jika terbukti melakukan korupsi maka negara berhak untuk memiskinkan keluarganya seumur hidup.

Semoga secercah harapan ini masih ada... Selamat hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke 68 tahun. Mari mengabdi untuk negri, serta berantas korupsi sejak dini. (Zah/)

Puasa Melatih Kedewasaan Dan Keimanan Diri

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah [02] : 185)

Alhamdulilah pada kesempatan tahun ini kita diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa ramadhan. Tak bisa kita lupakan, salah satu kenangan yang begitu besar dalam sejarah negri ini yiatu kemenangan yang dinanti oleh seluruh rakyat indonesia (merdeka) didapatkan pada saat bulan ramadhan pula. Begitu bahagia kala itu bisa lepas dari penjajah yang ratusan tahun menjajah negri tercinta ini.

Jika kita menengok ke belakang, ternyata bulan ramadhan memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari negri kita ini, bahkan bulan ramadhan telah memberikan semangat dan kekuatan yang begitu besar bagi rakyat Indonesia. Meski jumlah pahlawan yang terbatas dan bersenjatakan bambu runcing, ternyata mampu mengusir penjajah dari negri ini.

Inilah salah satu kebesaran Allah swt yang telah menunjukan kebesarannya. Sebagai generasi bangsa, inilah yang harus kita ingat dan renungkan, tanpa campurtangan Allah semua ini tak akan pernah berhasil, bahkan bisa dikatakan mustahil. Tetapi ditangan Allah tak ada yang mustahil, meski bambu melawan peluru tak sulit bagi rabbku untuk memusnahkan musuh-musuhku.

Tak hanya itu, tentu keberhasilan kemerdekaan itu juga ditopang dengan kebersatuan, kebersamaan serta kekokohan diantara pejuang negri ini. Dengan menjunjung tinggi prinsip ini, mereka mengesampingkan ras dan golongan. Tujuan mereka satu, yaitu memperjuangkan kemerdekaan negri ini dengan tumpah darah mereka, tanpa tawar-menawar lagi.

Seandainya para pejuang itu masih hidup hingga saat ini tentu akan menangis, miris dan selalu bersedih. Bhineka tunggal ika hanya tinggal nama, tetapi faktanya kini sudah tak ada. Belum lagi dalam ajaran agama islam yang dianut oleh sebagian besar rakyat indonesia seolah lupa akan ajaran tuhannya. Padahal, sudah tertulis jelas dalam al-Quran : "Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali Imron [03] 103.)

Saat ini kita terjebak dalam ranah perbedaan pendapat yang akhirnya tidak menemukan titik temu. Fanatisme muncul dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling baik dan paling benar. Salah satu contoh ialah terkait penentuan kapan mulai dan akhir puasa, yang sering menjadi pembicaraan hangat diawal bulan ramadhan setiap tahun.

Jika meminjam istilah yang digunakan oleh Dr. Malik Madani, M.A., dalam pola keberagamaan kita hanya difokuskan pada pembetukan dan pembinaan sholih al-ibadah (keshalilahan dalam ibadah, keshalihan ritual). Kita hanya mengukir-ukir dan membagus-baguskan sholat saja, sehingga berujung pada perdebatan yang berlarut-larut hingga sampai sesat-menyesatkan.

Inilah kesalahan  yang terjadi, kebanyakan yang dituju dan yang dicari hanya shalih dalam ibadah saja (tata cara sholat). Padahal jika kita renungkan, dalam ajaran Rasulullah saw, tujuan akhirnya adalah untuk shalih al-akhlaq (keshalihan akhlaq). Agama itu datang untuk membetuk moral melalui ibadah, mislanya melalui sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Sehinga, jika sholatnya baik sudah pasti yang lainnya mengikuti.

Mensikapi Perbedaan

“Ya Allah, lunakkanlah hati kami sehingga kami bisa berlapang dada menghargai adanya perbedaan faham dan keyakinan, tanpa harus menghujat bahkan menyakiti hati orang lain yang tidak sefaham dengan kami, Aaamiiin.” Tulisan ini saya dapatkan dari jejaring sosial milik Dr. Junanah, MIS.

Kedewasaan dalam perbedaan itu sangat perlu, sikap ini telah ditunjukan oleh beliau sehingga kita harus menirunya. Semua memiliki argumentasi, dan semua memiliki pilihan untuk memilih yang sesuai dengan diri kita masing-masing. Tidak perlu saling menghujat atau malah lebih dari itu. Oleh karenanya mari kita renungkan bersama kaliamt ini, “Kalian ber-Tuhan satu, bernabi satu, berkitab satu, berkeyaknan satu, tapi kenapa dalam berkehidupan kalian bercerai-berai...?”

Alternatif yang kedua, ketika mensikapi perbedaan ini bisa dengan cara yang lain. Misalnya seperti Gus Nuil dalam sebuah tulisannya. “Kita ini memang bangsa bawel yang kurang proporsional, hanya gara-gara menentukan puasa ributnya setengah mati. Padahal setelah ditentukan harinya mereka juga kadang jarang berpuasa dan menggunakan alasan macam-macam untuk tidak berpuasa.

Sebenarnya puasa itu ada dalilnya; Shumu li ru'yati wa aftiru li ru'yati," berpuasalah kamu setelah melihat bulan dan ber-idul fitri-lah kamu dengan melihat bulan. Nah kalau dengan mata telajang tidak kelihatan maka genapkan sebulan penuh. Sederhana bukan? Jadi, mau berpuasa tanggal 9 sialahkan,  mau puasa tanggal 10 juga silahkan. Tidak puasa pun tidak masalah, wong perintah puasa itu untuk orang yang beriman, bukan untuk yang baru berkelas Islam syahadat tho...”

Puasa dan Mu’min
Ayat tentang puasa (Al-Baqarah  [02] : 183) dimulai dengan menyeru kepada orang-orang yang beriman (yâ ayyuha al-ladzîna âmanû...) dan tidak untuk yang lainnya. Jelas bahwa apa yang disampaikan oleh Gus Nuril, bahwa hanya orang-orang yang berimanlah yang mendapatkan perintah puasa, bukan kepada orang islam yang berkelas syahadat. Kedua kelas ini jelas sangat jauh berbeda.

Dalam agama islam, ada dua rukun yang wajib kita jalani. Rukun islam (arkanu al-islam) dan rukun iman (arkanu al-iman). Kedua rukun ini kita laksanakan secara berbarengan, rukun islam dikerjakan dalam bentuk dzohir (tampak). Misalnya syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan rukun iman yaitu mempercai hal-hal yang gaib (tidak tampak), Allah, Malaikat, Kitab (wahyu), Rasul (utusan Allah), Hari Qiyamat dan Qada-qadar.

Jika kita urutkan tingkatannya, islam (muslim) itu yang pertama, kedua ialah iman (mu’min) dan yang terakhir ialah ihsan (muhsin). Jadi, kedudukan iman itu lebih tinggi daripada islam. Iman itu artinya percaya. Orang yang beriman percaya kepada Allah dengan sepenuhnya, dan tidak setengah-setengah.

Iman itu tidak hanya dalam ucapan belaka, atau pun hati saja, tetapi iman itu dimplementasikan dengan tiga unsur tadi. “al-qoulu bi al-lisan, wa al-tasdiqu bi al-jinan wa al-‘amalu bi al-arkan” artinya : Diucapkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati dan dikerjakan dengan segenap anggota badan. Sehingga ucapan, hati dan tindakannya semuanya sudah didasarkan kepada Allah swt dan akhirnya melekat dalam dirinya dan menjadi sebuah sifat.

Inilah iman yang sesungguhnya. Tidak banyak orang yang mampu menggabungkan ketiganya, kadang baru sekedar tahu, tapi dalam hati belum bisa menerima. Bahkan ada juga yang sudah mantap dilidah, sudah diyakini dengan hati, tetapi belum mampu dalam tindakan. Artinya belum bisa sepenuhnya menjaga diri dari keburukan, maksiat, dan dosa-dosa kecil yang lainnya.

Jika sudah demikian, dimanakah level iman kita saat ini? Sudah sampai tahap mana? Apakah baru sekedar lidah, atau hati? Atu malah baru kelas syahadat. Kita renungkan kembali kualitas keimanan dalam diri masing-masing. Sebab keimanan seseorang menentukan kualitas ibadahnya.

Ikhhtitâm
Kedewasaan dalam mensikapi awal dan akhir ramadhan perlu dibudayakan. Sebab hal ini hanya ranah khilafiyah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah memiliki dasar yang jelas, tidak perlu mencari siapa yang paling benar ataupun sebaliknya. Sebetulnya yang salah adalah yang tidak menjalankan puasa.

Orang yang mengaku beriman, tetapi tidak berpuasa (tanpa sebab udzur), dipertanyakan keimanannya. Boleh jadi, keislamannya baru sampai kelas syahadat. Berarti ia belum beriman, orang islam (muslim) belum tentu beriman (mu’min), tetapi orang yang beriman (sesuai dengan arkanu al-iman) sudah pasti islam.

Ramadhan merupakan bulan yang paling ampuh dan tepat untuk menyucikan diri (tazkiyah an-nafs). Dengan berpuasa kita dituntut untuk menjaga diri dari sifat-sifat hewani dan mengumbar nafsu. Sebab dengan berpuasa semua sifat-sifat ini dapat dikendalikan dan diminimalisir. Pada bulan Ramadhan ini juga dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak kebaikan (amal shalih). Selain pahalanya dilipatgandakan, ternyata hal tersebut merupakan sebagai alat terapi, supaya terbiasa melakukan hal-hal yang baik akhirnya akan melahirkan pribadi yang baik pula.

Oleh karenanya, maka kebaikan itu seharusnya terus dijaga supaya terus istiqamah, meskipun ramadhan sudah lewat. Salah satu tolak ukur, untuk mengukur ramadhan itu berbekas atau tidak, cukup dengan melihat before dan after-nya saja. Apakah ada perubahan sebelum dan setelah ramadhan? Disinilah akan terlihat jelas dampaknya. Allahu’alam []

Amir Hamzah
Santri PONPES UII

Ramadan, Bulan Pendewasaan Diri

Ramadan kali ini tentu sangat berbeda bagi saya. Ini juga mungkin yang disebut sebagai pendewasaan diri. Bahkan jika kita kembali ke sejarah nabi Muhammad SAW, beliau diangkat menjadi rasulullah pada usia 40 tahun. Kenapa demikian? Jawaban sederhananya ialah karena pada usia 40 tahun tingkat kematangan seorang manusia betul-betul melekat dalam dirinya.

Setelah menjalani beberapa ibadah pusa dari tahun ke tahun rasanya puasa itu sama saja. Malahan, seolah tidak ada bekas ataupun perubahan yang saya rasakan sama sekali. Berdasarkan renungan, dan muhasabah diri akhirnya saya bertekad ramadan kali ini harus betul-betul bermakna buat saya, hingga bertemu dengan ramadan tahun depan (saya optimistis).

Kesempatan kali ini tidak boleh disia-siakan. Sebab ramadan kali ini merupakan momen yang tepat untuk "back to" jalan yang lurus. Saya tidak tahu bahwa tahun yang akan datang akan Allah berikan kesempatan lagi untuk bertemu dengan yang mulia ini. Saya sadar bahwa perubahan seseorang itu tidak dengan cara yang instan, tetapi butuh proses bahkan hingga membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Selain sebagai bulan pendewasaan diri, bulan ramadan kali ini bagi saya sebagai bulan pembelajaran. Saya sangat antusias menyaksikan kajian tafsir Al-Misbah yang dibawakan oleh Prof. Quraish Shihab. Dari pesan-pesan yang disampaikan oleh beliau saya seolah mendapatkan "amunisi" yang baru untuk lebih giat belajar lagi. Terutama belajar dengan kehidupan.

Banyak hal yang saya dapatkan pada ramadan kali ini. Ruh spiritual maupun jiwa sosial saya seolah terpanggil, keduanya seolah hidup. Terasa seperti dua bluetooth handphone yang sedang mengirimkan file dari satu handphone ke handphone yang lainnya.

Saya teringat dengan isi ceramah salah satu ustadz dalam satu kajian. Ustadz tersebut menyampaikan bahwa proses dari "âmanû" menuju ke "mu’minûn" itu butuh proses. Saat ini kita masih mengalami metamorfosa dari yang namanya âmanû (orang yang beriman) menuju kepada mu’minûn (orang yang sudah betul-betul beriman). Proses inilah yang harus kita sadari, sehingga sebisa mungkin proses ini dijaga dari sebab-sebab kerusakannya.

Oleh karenanya, ramadan merupakan bulan yang sangat tepat untuk melakukan "metamorfosis" diri agar menjadi lebih baik lagi. Saya baru menyadari bahwa kenapa pada saat ramadhan setiap muslim dianjurkan untuk berbuat baik, menahan amarah, manahan nafsu dan keburukan-keburukan yang lainnya, yang dikatakan dapat merusak pahala puasa.

Tujuannya hanya satu, yaitu sebagai pembiasaan diri dalam menjadi pribadi yang baik. Dengan kebiasaan-kebiasaan itulah secara otomatis akan menyatu dalam diri dan akhirnya menjadi sebuah sikap bahkan lebih dalam lagi bisa menjadi sebuah sifat. Sehingga sangat disayangkan jika taka da perubahan sedkit pun yang didapatkan dari bulan yang mulia ini. Allahu’alam.
____________
* Tulsian ini pernah dipos kan oleh okezone.com

Puasa; Amalan Yang Berdimensi Ganda

Puasa ramadan merupakan perintah Allah SWT yang dibebankan kepada manusia yang sudah memenuhi syarat, salah satunya yaitu sudah baligh. Baligh itu ada tendensinya, jika dilihat dari segi umur yaitu untuk laki-laki 15 tahun sedangkan untuk perempuan sembilan tahun.

Adapun parameter kedua setelah umur yaitu apabila sudah mengalami "mimpi basah" untuk laki-laki dan menstruasi untuk perempuan. Secara ilmu fiqih, puasa diartikan menahan diri dari segala yang membatalkan mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan diri dari makanan, tidak bersetubuh di siang hari dan hal-hal yang mampu membatalkan puasanya. Jika melihat kepada ilmu fiqih tentu siapapun sudah bisa dipastikan mampu melaksanakannya, dan inilah yang kebanyakan kita lakukan di bulan ramadhan sebelum-sebelumnya.

Maksudnya adalah puasa yang kita jalani hanyalah sebuah ritual yang menggunakan kacamata ilmu fiqih. Lalu bagaimana ketika kita berpuasa tetapi tidak pernah sholat lima waktu, selalu berkata kotor, dan keburukan-keburukan lainnya? Apakah puasa kita memiliki nilai? Apakah tidak berpengaruh dengan puasa kita?

Di sini lah kenapa kita tidak harus berpuasa hanya menggunakan kacamata ilmu fiqih saja. Dalam ilmu fiqih, ketika kita berpuasa tetapi tidak salat dan berkata kotor, selama tidak makan, minum dan yang dapat membatalkan lainnya, tentu puasanya tetap sah. Tetapi dalam ilmu tasauf puasa yang kita lakukan hanyalah perbuatan sia-sia. Allah SWT tidak butuh dengan puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga semata.

Dimensi Ganda
Jika ditinjau dari aspek lain, secara vertikal puasa itu merupakan keshalihan individual sedangkan secara horisontal mengarah kepada keshalehan sosial. Betapa tidak, ketika kita berpuasa secara tidak langsung rasa kepekaan sosial itu telah tumbuh. Sehingga para fuqaha menyebut puasa itu dengan amalan yang berdimensi ganda; yaitu vertikal dan horisontal.

Tak hanya puasa saja, banyak amalan yang memiliki dimensi ganda, salah satunya adalah berqurban, seperti yang kita lakukan pada hari raya ‘Id Al-Adha. Ibadah puasa tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah swt semata, tetapi bagaimana menumbuhkan sikap kepedulian kita terhadap sesama.

Kepedulian terhadap orang lain yang memiliki nasib yang tidak seberuntung dengan saudaranya yang lain. Mereka hidup dalam kekurangan, keterbatasan dan kesulitan. Itu lah kenapa Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang tidak mampu berpuasa supaya menggantinya dengan memberi makan orang miskin (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Berkenaan dengan orang tua yang sebelumnya biasa berpuasa lalu karena ketuaannya dia tidak mampu lagi berpuasa, dan wanita hamil yang tidak ada kewajiban puasa atasnya, maka bagi setiap orang dari kedua  golongan ini ada kewajiban memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang dilewatinya dalam bulan Ramadan.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang fidyah, tetapi mereka sepakat dengan memberi makan orang miskin (fidyah) ini. Hanya saya yang menjadi perbedaan di antara fuqoha dalam ukuran fidyah itu sendiri yang harus diberikan kepada orang miskin.

Selain itu, kita dianjurkan untuk membayar zakat (bagi yang mampu). Zakat ditunaikan guna mensucikan jiwa dari sifat kikir, tamak, dan cinta kepada harta (hubb ad-dunya) serta membersihkan harta dari hak orang lain yang melekat pada harta seseorang. Bahkan zakat juga membersihkan hati dari rasa dengki terhadap orang yang berharta, dan zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka.

Dalam al-Qur’an perintah untuk mengeluarkan zakat diulang sebanyak 33 kali yang hampir seluruhnya disebut setelah perintah melakukan salat. Hal ini mengisyaratkan bahwa perintah mengeluarkan zakat sejajar dengan perintah shalat, sehingga diharapkan terwujudlah keseimbangan antara manusia dengan Allâh dan manusia dengan sesamanya. (hablun min an-nas wa hablun min allâh) (At-Taubah [09] : 103).

Adapun mereka yang berhak menerima zakat ada delapan golongan (At-Taubah [09] : 60). Itulah hikmah kenapa perintah sholat disandingkan dengan printah berzakat. Sebab menurut Ust. Toto Tasmara, dalam bukunya. Ketika sholat yang kita lakukan dalam bentuk ibadah ritual formal (gerakan takbir hingga salam) selesai, tetapi sejatinya "salat aktual" (dalam bentuk ibadah sosial) kita belum selesai. Justru dengan salat aktual inilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan “tiket” masuk supaya bertemu denganNya. (Al-Kahfi [18] : 110)

Penutup

Seperti sudah disampaikan di awal, bahwa puasa memiliki nilai ibadah yang berdimensi ganda, salat, zakat pun demikian. Dengan ibadah-ibadah seperti ini seharusnya seorang muslim mampu menjadikan dirinya lebih baik lagi. Keshalihan individual tidak berguna jika keshalihan sosial kita abaikan. Keduanya harus berjalan berdampingan, tidak boleh dibiarkan terpisah.

Selain diperintahakan untuk mentaati Allah SWT dan Rasulullah saw kita juga diperintahakan supaya berbuat baik. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda: khair an-nas ‘anfa’uhum li an-nas “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Itulah kenapa dua keshalihan itu sangat dianjurkan.

Alhamdulillah saat ini kita berada dibulan ramadan, yang mana bulan ini merupakan pendidikan bagi diri kita. Mendidik supaya memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Tak hanya itu, di bulan yang suci ini kita seolah ditunjukan bahwa siapa sesunguhnya diri kita yang sebenarnya. Seberapa besar kualitas ibadah, kepedulian, dan seberapa kuat istiqamah yang kita miliki. Allahu’alam.[]

_______________________-
Tulisan ini, diterbitkan kampus.okezone.com dalam kolom Opini (sumber)

Puasa dan Pengorbanan

Berkorban merupakan tindakan yang sangat sulit dilakukan. Sudahkah kita berkorban untuk orang lain? Seberapa sering kita berkorban? Pertanyaan ini sebetulnya hanya menyentil sedikit saja tentang siapa sih diri kita ini. Salah satu contoh, misalkan uang yang dikantong pas-pasan, terus ada orang minta tolong, apakah kita rela dengan sepenuh hati terus dikasihkan. Atau malah bilang maaf gak punya...

Pengorbanan itu mudah, tapi sebetulnya sulit. Tadi, yang kita bahas ialah tentang pengorbanan terhadap orang lain, bagaimana dengan pengorbanan terhadap diri sendiri? Nah lho kena juga kan. Pengorbanan apa saja yang sudah kita lakukan terhadap diri sendiri?? Sudahkah mengorbankan uang jajan untuk membeli buku (tapi bukan paksaan dosen, pacara atau etc. lah).

Berkorban untuk orang lain maupun untuk diri sendiri ternyata sama tidak enaknya. Betul gak? Ya, sebab keduanya sama-sama berada pada posisi yang bertentangan. Kedua hal yang bertetangan inilah yang akhirnya membuat bingung, batin atau hati kecil kita dipertaruhkan. Tetapi yang dominan justru hawa nafsu yang mampu mengendalikannya.

Puasa ramadhan merupakan bulan pelatihan diri (training to self). Melatih diri supaya lebih matang dalam bersikap. Bahkan menumbuhkan kembali kekuataan spiritual yang telah lama dikuasai oleh hawa nafsu. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits rasulullah saw dinyatakan “apabila telah datang bulan ramadhan, syetan-syetan diikat...” (HR. Muslim)

Syetan-syetan diikat maksudnya, hawa nafsunya (keburukan) menjadi lemah. Sehingga godaan-godaan itu tidak ada lagi. Tetapi karena nafsunya kebal dan kuat, tak jarang meski bulan ramadhan masih banyak yang tidak berpuasa. Inilah salah satu alasan kenapa bulan ramadhan disebut juga sebagai bulan kejujuran.

Bulan kejujuran, maksudanya bukan bulan yang terbebas dari kata-kata bohong. Tetapi yaitu dimana bulan yang menunjukan siapasih diri kita yang sesungguhnya. Jika ingin tahu siapa diri kita yang sesungguhnya maka lihatlah diri kita pada bulan ramadhan, apa sajakah yang kita lakukan, manakah yang lebih dominan. Kebaikankan ataukah sebaliknya.

Jika kita mau berubah, tentu semuanya bisa berubah. Tergantung lagi dengan kesiapan terhadap pengorbanan tadi. Siap berkorban untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap manis dan memilih jalan yang pahit, ataukah tetap memilih si manis. Seberapa besar pengorbanan itu ada dalam diri kita saat ini. Anda berani??... Alahu’alam[]