Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

Bersama Pak Udin; Guru Matematika

Ketika sedang asyik berkumpul dengan teman-teman seangkatan dan beberapa kawan dari kamar sebelah, tiba-tiba ada pesan tingkat masuk. Pesan singkat itu masuk kira-kira pukul 19.30. Isi pesan singkatnya seperti ini “Ass. Amir apa kabar? Di mana posisi?

Karena nomer HP-nya tidak ada di kontak, dengan cepat saya pun membalas pesan tersebut. “Alhamdulillah baik, punteun sareung saha..” Pake bahasa sunda, prediksi saya teman dari rumah di kampung. Setelah agak lama, barulah Short Massage System (SMS) balasan itu datang. “Udin Said. Dari hari jumat di jogja. Sekarang ke malioboro. Masih di jogja..?

Sempat merasa bersalah, kaget, dan bercampur senang juga. Ternyata, SMS tersebut dari guru matematika kami, ketika di Madrasah Aliyah PONPES Daar et-Taqwa. Pak Udin, begitulah kami biasa menyapa beliau. Semasa diajar matematika semuanya pasti pernah merasakan cubitannya Pak Udin, termasuk saya.

Bapak mah ikhlas nyubit.. enggak butuh balasan..” Demikian ucap pak Udin kalau sudah mencubit kami. Kami dicubit karena tidak mengerjakan tugas yang diminta oleh beliau, atau lupa mengerjakan tugas. Pokoknya macem-macem alasan yang dibuat, meskipun akhirnya cubitan itu tetap mendarat di tangan kami.

Kadang, kalau ingat masa-masa itu sering senyum-senyum sendiri. Lucu dan unik, kalau mengenang kisah bersama Guru Matematika asal Nangerang - Petir.

Alhamdulliah, esok paginya. Setelah bersih-bersih asrama, saya langsung meminjam motor dan menuju tempat di mana pak Udin menginap. Berbekal alamat yang dikirimkan tadi malam, saya pun langsung menuju tekape.

Sempat kelewatan, dan bertanya ke penduduk juga. Setelah diberitahu dan tanya ke tukang becak, tak butuh waktu lama, saya pun menemukan penginapan Pak Udin dan kawan-kawan dari serang. Sempat bingung ketika berada di depan resepsionis. Tetapi setelah menanyakan tamu yang menginap malam tadi, saya pun mendapatkan informasinya.

Setelah naik dilantai tiga, dengan mudah saya temukan sosok Pak Udin. Kebetulan waktu itu pintu kamarnya terbuka. Saya pun langsung menuju ke arah beliau. Setelah agak mendekat, barulah Pak Udin  keluar kamar, dan kami pun bersalaman tepat di depan kamar tempat beliau menginap. Tak lupa saya mencium tangan Pak Udin sebagai ta’dzim al-ustadz (memuliakan guru).

Kami pun ngobrol, tanya seputar kabar, dan yang paling seru ketika bercerita tentang masa lalu, cerita di Pondok dahulu. Tak lupa saya meminta petuah dan wejangan dari beliau, sebagai motivasi dan penyemangat. Alhamdulilah Pak Udin memberikan petuah dan doanya.

Tak terasa, waktu itu cukup singkat. Obrolan kami harus selesai ketika panitia sudah memberikan informasi kepada rombongan untuk bersiap-siap. Pertemuan yang singkat ini pun harus kami akhiri. Sambil menuju ke mobil, saya sempatkan untuk berpose sebentar dengan Pak Udin, buat kenang-kenangan.

Sambil menunggu yang lain belanja batik dadakan, saya pun sempat ngobrol dengan Ustadz Mustofa dan istrinya. Pak Udin juga sampai ikut memilah dan memilih. Tapi karena harganya kurang cocok dan juga waktunya sudah mau berangkat, akhirnya tidak jadi membeli.

Sebelum kembali ke dalam bis, dan sebelum berpisah dengan Pak Udin, saya sempatkan untuk bersalaman, tak lupa saya cium tangan beliau untuk yang kedua kalinya. Semoga menjadi berkah dan menjadi ‘suntikan’ motivasi. Tak lama, bis yang ditumpangi rombongan berangkat dan meninggalkan saya di depan Tasik Jogja Hotel.

Saya pun ke tempat parkir dan langsung menuju sepeda motor berplat AG. Secepat kilat saya meninggalkan hotel pagi itu.
_______
) punteun, sareung saha (Bhs. Sunda; maaf, dengan siapa)

Syarat Menikah, s3 Dulu..

Kang kapan sampean nikah..?” salah satu kawan nyeletuk. Dengan nada datar saya pun menjawabnya “belum ke pikiran.. hehehe… ” dengan cepat dan sigap saya langsung mengalihkan topik ke yang lain. Sebetulnya, ketika ditanya seperti itu, dalam hati kecil ini tidak bisa dibohongi untuk meng-iya-kan supaya bisa cepat. Teman yang lain hampir semuanya sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya dua anak.

Dari satu sisi menikah itu memang sebuah solusi. Apalagi jika sudah siap (baca; mampu) maka menikah pun sangat dianjurkan. Tetapi bagi yang belum siap, menikah harus menunggu waktu yang tepat dan pas.

Salah satu sahabat saya, ia sudah sangat serius untuk menikah. Meskipun kuliahnya belum selesai, dan baru tugas akhir. Pokoknya setelah ia wisuda langsung ijab qabul, itulah rencana yang saat ini ia buat. Orang tua perempuan sudah memberikan  ”golden ticket” semua saudaranya sudah pada tahu, tinggal minta doa restu dan ridhanya dari orang tuanya saja.

Hebat bukan? ia memang berani betul..!! Akhirnya saya tahu kenapa ia bisa demikian. Karena beberapa orang yang ia temui kebanyakan menikah muda, sehingga dari sanalah semangat dan keinginan itu terbangun. Bahkan sepupunya juga demikian, dan malah mereka sekarang sukses, senang dan tak kalah penting mereka “dunianya” berlimpah.

Memang perjuangan di awal sangat sulit. Tetapi karena ketekunan berdua dan sudah komitmen dengan pilihan mereka, akhirnya kini berakhir dengan bahagia. Kuncinya hanya satu, yaitu berani. “Katanya..”

Bahkan tadi siang pun (04/07/13) dukungan untuk menikah ia dapatkan dari calon saudaranya. Sebetulnya kami tidak sengaja bertamu ke rumahnya, tetapi karena kebetulan lewat rumahnya kami pun menyempatkan diri untuk bersilaturahmi. Banyak hal yang kami obrolin, salah satunya tentang menikah muda.

Dari percakapan itu saya memetik beberapa poin penting. Terutama persiapan yang harus disiapkan sebelum menikah. Syaratanya adalah S3.

PertamaSiap mengalami perubahan. Maksudnya adalah perubahan yang tadinya sendiri kini berdua dan selalu ada yang menemani. Jangan takut ketika bangun pagi ada seseorang disebelah kita. Perubahan yang tak kalah pentingnya adalah perubahan diri dari yang ke kanak-kanakan menjadi lebih dewasa dan lebih berwibawa.

KeduaSiap menerima pasangan kita dengan apa adanya., bukan karena ada apanya. Kekurangan yang ada pada diri pasangan kita harus siap diterima, apapun itu. Jangan menikahi seseorang karena kelebihannya, sebab ketika kelebihan itu hilang pada dirinya maka kita kecewa. Tetapi jika kita menikahi seseorang berdasarkan kekurangannya tentu kita akan lebih mencintainya dengan apa adanya.

KetigaSiap memiliki keturunan. Karena cepat ataupun lambat maka kita akan memperoleh keturunan (anak). Dengan adanya keturunan itulah lengkap sudah kebahagiaan kita. Peran kita (laki-laki) tak lagi sebagai seorang suami, tetapi berubah menjadi seorang ayah untuk anak-anak. Di sinilah peran kita bertambah dan sangat diperlukan. Sosok ayah yang baik, rajin, peduli, bertanggungjawab, dan menyayangi keluarga tentu menjadi idaman semua orang. Semoga bermanfaat [zah]

Semoga bermanfaat..

Menikah Muda, Itu Pilihan

Pada tulisan yang sebelumnya, saya sempat menyinggung salah satu sahabat saya yang ingin menikah muda. Tetapi sahabat saya yang satunya lagi mereka sudah sama-sama mendapatkan restu dan ridho dari orang tuanya, hanya saja mereka belum mau buru-buru. Alasannya sederhana, menikah itu hanya bukan mencari kesenangannya tetapi bagaimana setelah menikah??

Kedua sahabat saya ini memang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai pernikahan. Mungkin sahabat yang ngebet ingin nikah memiliki pandangan bahwa menikah itu pembawa rizki. Dengan menikah tentu rizkinya kan ditambah, semangatnya pula bertambah karena ada yang memotivasi, melayani serta berbagi, sang istrilah tentunya.

Bagi sahabat saya yang satunya lagi menikah itu harus betul-betul mapan. Ketika menikah semuanya sudah ada, dan tinggal menikmatinya. Punya pekerjaan tetap, rumah, dan kendaraan pribadi, barulah menikah. Mungpung masih belum banyak pikiran, jadi fokus mempersiapkan semuanya dulu untuk masa depan. Kalau bisa biaya resepsi pun dari uang sendiri, bukan dari orang tua.

Bagi saya pribadi, menikah itu pilihan. Jika sudah siap dengan segala konsekuensinya ya kenapa tidak. Toh semuanya sama-sama baik, dan tujuannya juga baik. Bagi yang mampu menikah muda dengan modal nekat ya monggo, pasalnya banyak yang berhasil juga. Bagi yang memilih mapan dulu juga ya tak masalah. Diserahkan kepada individu masing-masing.

Dalam sebuah kelas, Ustad Hasyim menyampaikan kepada kami, bahwa apabila seorang anak itu sudah baligh maka orang tua sudah tidak berkewajiban mengurusnya, begitulah ilmu fiqihnya. Kata Ust. Hasyim. Tetapi karena ada hubungan sosiologis lah maka (anak) sampai kuliah pun kebanyakan masih dibiayai oleh orang tua. Padahal jika sudah baligh, sudah bisa menentukan hidupnya sendiri.

Kalau boleh memilih, saya lebih sepakat dengan sahabat yang pertama. Meski terlihat berat dan penuh tantangan tetapi inilah rahasia Allah. Seberapa besar dan seberapa kuat kita menyandarkan diri kepada Allah. Saya yakin, orang yang menikah muda apalagi modal nekad biasanya sandarannya adalah Allah, dan biasanya hidupnya sukses. “Tenang, kita punya Allah, semuanya kita serahkan padaNya..” mereka dengan mantap dan penuh keyakinan mengatakannya.

Disinilah tantangan yang sesunguhnya. Belum lagi pihak dari orang tua yang merasa ragu, bahkan menolak untuk menyerahkan anak perempuannya kepada lelaki yang bermodalkan nekad karena Allah. Lagi-lagi disinilah kendala pertamanya. Kendala yang kedua, tak sedikit kaum hawa juga yang mau diajak demikian, karena masih ragu dengan nasib masa depannya. “Bagaimana masa depan saya nanti..? kebanyakan perempuan mencari lelaki yang sudah mapan.

Padahal, kemapanan belum tentu identik dengan kebahagiaan. Rasanya terlalu rendah bila kita mengukur kebahagiaan itu dengan sebuah materi. Saya paling tidak sepakat dengan hal ini. Harta itu penting tetapi bukan yang utama. Karena pada dasarnya yang dibawa mati hanyalah amal.

Saya tidak memilih menikah muda, karena sebagai seorang anak yang baik, tugas saya adalah membahagiakan orang tua dulu. Saya lebih memilih orang tua, karena merekalah yang selalu ada buat saya, teutama Ibu.

Urusan jodoh, pernikahan, semuanya saya serahkan kepada Allah SWT. Terpenting saat ini, jadi anak sholeh dulu. Saya yakin, karena pegangan saya QS. An-Nur : 26, silakan buka dan baca. Semoga bermanfaat []

Pesan Berharga Dari Permen

Saya pacu sepeda motor bebek yang saya kendarai secepat mungkin. Bukan tanpa alasan saya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kala itu saya mengejar waktu dan berburu tiket kereta api. Saat itu sedang musim liburan, dan pada tanggal itu juga saya harus berangkat ke Jogja. Jika tidak cepat-cepat memesan tiket pasti kehabisan.

Sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba bermasalah. Gas nya sudah tidak berfungsi dan jalannya tersendat-sendat. Ini pasti bensin nya habis, tebak saya dalam hati. Dalam posisi itulah saya berusaha mencari tempat jualan bensin eceran. Tepat di warung penjual bensin eceran itu pula sepeda motor itu terhenti.

Setelah dibuka dan dicek, ternyata betul. Bensin nya kering kerontang. Saya langsung membeli bensin. Kebetulan penjaga warung nya langsung paham. Langsung membawa satu botol bensin yang isinya satu liter, tak lupa di tangan kirinya menggenggam corong yang sudah disambung dengan selang.

Selesai menuangkan bensin, uang pecahan sepuluh ribu saya serahkan kepada ibu penjaga warung. Sebentar ia masuk dan keluar lagi. Di tangan ibu itu ada uang kembalian dan dua buah permen yang didominasi dengan warna merah. Uang itu saya terima dan dimasukan kedalam kantong, saya penasaran dengan dua buah permen tadi.

Begitu saya lihat, ternyata ada tulisan yang membuat saya merasa diingatkan. Ternyata tulisan yang ada di permen itu bisa memberikan dampak yang positif. Tulisan dari dua permen itu "sabar... dan belum terlambat"

Dua permen ini sengaja saya simpan dan akhirnya saya abadikan. Ternyata sesuatu yang bentuknya sekecil ini mampu memberikan dampak yang sangat besar. Kala itu saya sedang terburu-buru dan mengejar tiket kereta supaya tidak kehabisan. Tapi setelah membaca dua tulisan dari permen tersebut, saya pun langsung tersadar.


Berkurban Dengan Perasaaan

Tujuan menyembelih hewan pada bulan Dzulhijah, ialah menyembelih sifat kehewaniahan yang terdapat pada diri manusia. Inilah makna mazaji dari ibadah yang satu ini. Tetapi tak hanya itu, tujuan menyembelih hewan juga merupakan bentuk ketaatan/kepatuhan manusia kepada sang khaliq atas apa yang sudah diperintahkan dalam al-Qur’an.

Lalu bagaimana bagi yang tidak mampu untuk menyembelih? Salah satu khotib jum’at beliau menyampaikan bahwa dibolehkan berhutang kepada siapa saja yang tidak mampu untuk berqurban. Tetapi jangan khawatir, saat ini ada yang namanya arisan qurban dan ini merupakan cara alternatif yang diperbolehkan oleh agama. Jika dirasa berhutang itu sangat berat.

Saat ini tidak ada yang sulit jika kita punya kemauan dan kerja keras. Tetapi jika betuli-betul miskin dan tidak punya, maka tidak diwajibkan. Toh perintah ini diwajibkan bagi mereka yang mampu dan berkecukupan. Bagi yang tidak mampu silakan ‘iri’ dengan mereka dapat melaksanakan berqurban. Tetapi iri yang dimaksudkan di sini ialah iri yang positif dan berorientasi kepada kebaikan.

Dengan merasa iri yang baik, dan berkeinginan kuat akhinya ia berniat untuk bisa berqurban tahun depan, dan mulai hari ini ia berjanji yntuk giat dan menabung supaya bisa berqurban. Sikap inilah yang harus kita tiru, bukan malah sebaliknya; yaitu timbul sikap iri yang pasif. Iri yang hanya bisa mengumpat dan menjelek-jelekan kebaikan orang lain, padahal dirinya belum tetntu bisa melakukannya. Hati-hati dengan sifat ini, jangan sampai dipelihara.

Berqurban Perasaaan

Ketika menyaksikan orang lain bisa berkurban, sedengakan kita tidak tentu secara emosi kita merasa terbebani. Beban perasaan lebih tepatnya. berarti secara tidak langsung perasaan kita telah ikut berqurban. Bisa jadi inilah berqurban yang sesungguhnya, makna pengorbanan yang sesunguhnya adalah seperti ini. Disaat orang lain merasa mampu melakukan kebaikan, tetapi kita belum bisa, dan lain sebagainya. Yuk mari berdoa kepada Allah supaya diberikan kesempatan berkurban tahun depan.

Tidak usah khawatir dengan tidak bisa berkurban tahun ini disebabkan tidak punya uang yang cukup. Yakinlah kelak Allah akan cukupkan, dan waktunya berkurbanpun tiba. Asal kuncinya mau dan tetap berusaha untuk merealisasikanya. Ungkapan ini terkesan keluar dari orang-orang yang pesimis dan hanya untuk berapologi semata, tetapi bagi orang yang betul-betul percaya dengan kemahakuasaan allah, baginya taka da yang tak mungkin.

Boleh jadi, berkurban perasaan jauh lebih berat ketimbang berkurban dengan harta. Tak sedikit orang yang rela mengelurkan uangnya hanya untuk memperoleh ketenangan, rasa puas dan sebagainya. Tujan mereka hanya satu, yaitu ingin memuaskan perasaan yang mereka rasakan. Bisa jadi orang yang hartanya berlimpah-ruah, tetapi perasaan mereka tidak tenang.

Bahkan sebaliknya, banyak orang yang sederhana tetapi perasaan mereka tentram, tenang dan damai. Meski semuanya serba kekurangan, mereka mampu hidup dengan penuh kebahagiaan, semua kekurangan tersebut bagi mereka hanyalah perhiasan kehidupan yang hanya sesaat saja. Toh kehidupan yang sesungguhnya bukan disini, jadi tak perlu risau dan khawatir.

Orientasi Akhirat

Apapun permasalahannya, jika dikembalikan kepada sebuah hakikat tentu semuanya jadi beres. Begitu pun dengan permasalahan yang saat ini kita hadapi, tersenyum lah dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Masalah itu penting dan dengan masalah itu kita akan belajar akan sebuah arti kehidupan.

Semua permasalahan sejatinya adalah kenikmatan, hanya saja rasanya pahit. Seperti kita minum jamu, rasanya pahit dan cenderung tidak enak. Tetapi dibalik rasa pahit itu ternyata ada nikmat yang tiada tara. Badan menjadi sehat, kuat dan bugar. Jika kita bandingan dengan orang yang meminum anggur, rasanya manis dan wangi. Tetapi dibalik rasa manis itu justru kerusakan lah yang timbul. Pikiran tidak fokus, menjadi mabuk dan jika sudah mabuk apapun bisa saja terjadi.

Orang yang cerdas ialah orang yang berpikir jauh kedepan. Orang yang cerdas dapat dilihat dari caranya mengambil sebuah keputusan, berorientasi pendek atau jangka panjang. Sebab sesuatu yang sifatnya pendek itu tentu memiliki kemanfaatan yang singkat tetapi sebaliknya jika orientasinya jauh ke depan maka nilai kemanfaatannya lebih lama juga.

Penutup

Berqurban pada hakikatnya mudah dan sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan dan kemudahan tersebut ada sebuah nilai yang memiliki makna yang cukup dalam. Berkurban merupakan sebuah ibadah yang memiliki keterkaitan antara ibadah yang sebelumnya. Masih ingat dengan bulan Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal dan Dzul Qo’dah. Kelima bulan ini berkaitan erat dengan bulan Dzulhijah.

Isi dari keenam bulan ini bermakna sebuah penyucian, pengorbanan, penghapusan sifat-sifat hewaniyah yang terdapat dalam tubuh manusia. Dengan adanya bulan ini manusia ‘dipaksa’ untuk bisa keluar dari sifat-sifat yang buruk dan berubah menjadi manusia yang seutuhnya.

Untuk itulah pengorbanan ‘kemanusiaan’ yang sesungguhnya telah diuji. Jika ia mengaku benar sebagai manusia maka akan sadar diri, bahwa selama ini dirinya telah menjadi seekor hewan yang hanya memikirkan perut dan dibawah perut. Orientasinya hanya untuk dunia semata, bukan untuk kehidupan akhirat yang lebih abadi. Allahu’alam []

Hegemoni Dinasti Ratu Banten

Bertahun-tahun semua ini tertutup rapat, tetapi kali ini semoga seluruh mata dunia khususnya pemerintah Indonesia yang menyaksikan hegemoni kekuasaan dinasti pemimpin yang lalim dan menguras penuh rakyatnya, terbongkar hingga ke akarnya. Kemiskinan dimana-mana, sekolah yang hancur, inspraturuktur yang jauh dari kata nyaman dan banyak lagi.. Inilah fenomena ironi yang dimulai sejak tahun 2006.

Fenomena ini dapat kita saksikan di provinis yang berdiri sejak tahun 2000, Banten. Provinsi ini memiliki pendapatan 5 triliun pertahun, tetapi pendapatan sebesar ini tidak sejalan lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Masih banyak tempat-tempat yang belum terjamah oleh listrik, jembatan yang hancur bahkan untuk menyebranginya mereka harus mempertahankan nyawa mereka sendiri.

Banten memiliki 4 kabupaten, Serang, Tangerang, Pandeglang dan Lebak. Kabupaten yang masih tertinggal jauh ialah Kabupaten Lebak. Disana masih banyak kampong yang belum mendapatkan listrik, jalan yang rusak berat dan bahkan akses untuk ke kota juga sangat sulit. Ditambah lagi kondisi perekonomian mereka tertinggal.

Sudah saatnya masyarakat Banten dibela dan diperjuangkan. Kepada mereka yang duduk dibangku jabatan sudah saatnya kalian mempertanggungjawabkan perbuatan kalian yang sudah menguras habis hak-hak ‘kaum minoritas’. Angka kemiskinan menurut data BPS (badan pusat statistik) di Banten per maret 2013 yaitu sekitar 626.243 dan pengangguran 10% (sumber liputan6)

Kesengsaraan ini berbanding terbalik dengan kekayaan sang gubernur (RAC) dan adiknya TCW. Dari sebuah sumber, dikatakan bahwa mereka memiliki rumah mewah di serang, Jakarta barat dan bandung. Tak hanya itu, ada hotel dan tanah sekitar 4 triliun. Fakta ini sangat mencenganngkan dan terbukti sudah, dari mana kesemua kekayaan tersebut??

Pemimpin Yang Ideal

Jika kita kembali kepada masa sahabat dan rasulullah tentu sangat jauh perbedaannya. Pemimpin yang sesungguhnya ialah mereka yang mendahulukan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Mensejahterakan rakyat adalah hal yang wajib untuk mereka lakukan, dan menyisir seluruh tempat yang masih ‘bermasalah’ dengan kesejahteraan rakyatnya.

Masih ingat dengan kisah Umar ra. yang rela menyamar dan mengantarkan gandum dengan tangannya sendiri. Masih ingat dengan kisah Abdul Aziz yang diajak berdialog oleh sang anak, kemudian ia bertanya “kepentingan Negara atau keluarga?.. jika kepentingan Negara maka lampu tetap menyala, tetapi jika kepentingan keluarga lampunya dimatikan”

Di mana pemimpin yang seperti ini, masih adakah?.. fasilitas yang kini bergelimang dan diberikan oleh Negara malah disalahgunakan dan diselewengkan. Tak sedikit yang akhirnya melipat sisanya untuk masuk kekantong mereka sendiri. Bagaimana mereka kelak mempertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.

Empat sifat pemimpin yang diajarkan oleh agama islam hanya sebagai angina lalu. Tidak berbekas dan malah hanya sebagai iklan semata. Mereka beriklan seperti itu sebelum dapat jabatan, tetapi jika jabatan itu sudah di tangan mereka lupa dan mengabaikannya. Masih ingat dengan Firaun yang sombong, angkuh dan melampaui batas.

Siddik, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Dimana keempat karakter ini, yang dulu diajarkan oleh rasulullah dan para sahabat Nabi..?? Semoga Negeri yang ‘hebat’ ini masih memiliki orang-orang yang punya integritas yang baik, serta mampu menjaga negeri ini yang sudah berada di titik rawan kehancuran dan dekadensi moral.

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. (QS. Al-Qasas [28] : 76)

Semoga bermanfaat. Allahu’alam []

Memaknai Kemeredekaan Yang Sesungguhnya

Pada tanggal 17 Agustus kita biasa mengadakan upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak terasa saat ini kita merdeka sudah 68 tahun, selama itu pula  kita hanya mampu mempringatianya melalui serangkaian upacara bendera (seremonial). Tanpa mampu untuk memaknai kemerdekaan yang hakiki.

Dalam kamus online, merdeka itu diartikan bebas, yaitu bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Atau bebas juga dapat diartikan berdiri sendiri. Merdeka juga diartikan tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu atau disebut juga leluasa.

Pengertian-pengertian yang terdapat dalam kamus seperti di atas menunjukan dengan jelas bahwa itulah makna kemerdekaan secara garis besarnya. Tetapi, dalam  ruang lingkup kecil seperti di sekeliling (lingkungan) kita, nyatanya belum. Berapa banyak penduduk yang masih memiliki hambatan ekonomi, tuntutan dari sana-sini, dan mereka masih bergantung kepada pihak-pihak tertentu.

Berarti jika kita tarik kesimpulan sementara, kita ini belum merdeka 100 persen. Penjajah yang dulu dapat diusir dari negri ini telah kembali dengan wajah yang berbeda. Jika penjajah dahulu begitu tampak dan nyata adanya, tapi penjajah saat ini sangat sulit untuk dikenali. Ia berada disekeliling bahkan masih berkewarganegaraan Republik Indonesia. Siapakah dia??

Ya itulah mereka, Si KORUPTOR. Merekalah yang saat ini menjadi musuh kita bersama. Penjajah masa kini yang dengan sadis membantai dan membunuh masyarakat indonesia secara perlahan-lahan. Rakyat berteriak kesusahan, sedangkan ia duduk manis dengan segudang kemewahan. Rakyatnya mengalami kesulitan disana-sini tetapi hal itu ia jadikan sebagai ladang bisnis.

Jika negri ini dipenuhi penjajah-penjajah seperti mereka, maka sampai kapan kemerdekaan yang hakiki itu kita rasakan. Haruskah negri ini di bom atom lebih dulu... agar semuanya bisa kembali dan bangkit seperti negri sakura; jepang.

Atau,  cara yang kedua. Perketat pasal-pasal yang terdapat pada Undang-Undang. Siapa yang jelas-jelas korupsi, maka hukumannya adalah hukum mati. Karena korupsi yang saat ini melanda sudah sangat mengkhawatirkan. Terlebih uang yang mereka korupsi sama dengan menyangkut nyawa dan kehidupan (kemaslahatan) umat manusia. Dengan demikian maka efek jera pun akan terbangun.

Sedangkan cara yang ketiga, seluruh pejabat yang terindikasi kotor maka dipecat dari jabatannya, kemudian diganti dengan yang lebih bersih. Jika terbukti melakukan korupsi maka negara berhak untuk memiskinkan keluarganya seumur hidup.

Semoga secercah harapan ini masih ada... Selamat hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke 68 tahun. Mari mengabdi untuk negri, serta berantas korupsi sejak dini. (Zah/)

Puasa dan Pengorbanan

Berkorban merupakan tindakan yang sangat sulit dilakukan. Sudahkah kita berkorban untuk orang lain? Seberapa sering kita berkorban? Pertanyaan ini sebetulnya hanya menyentil sedikit saja tentang siapa sih diri kita ini. Salah satu contoh, misalkan uang yang dikantong pas-pasan, terus ada orang minta tolong, apakah kita rela dengan sepenuh hati terus dikasihkan. Atau malah bilang maaf gak punya...

Pengorbanan itu mudah, tapi sebetulnya sulit. Tadi, yang kita bahas ialah tentang pengorbanan terhadap orang lain, bagaimana dengan pengorbanan terhadap diri sendiri? Nah lho kena juga kan. Pengorbanan apa saja yang sudah kita lakukan terhadap diri sendiri?? Sudahkah mengorbankan uang jajan untuk membeli buku (tapi bukan paksaan dosen, pacara atau etc. lah).

Berkorban untuk orang lain maupun untuk diri sendiri ternyata sama tidak enaknya. Betul gak? Ya, sebab keduanya sama-sama berada pada posisi yang bertentangan. Kedua hal yang bertetangan inilah yang akhirnya membuat bingung, batin atau hati kecil kita dipertaruhkan. Tetapi yang dominan justru hawa nafsu yang mampu mengendalikannya.

Puasa ramadhan merupakan bulan pelatihan diri (training to self). Melatih diri supaya lebih matang dalam bersikap. Bahkan menumbuhkan kembali kekuataan spiritual yang telah lama dikuasai oleh hawa nafsu. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits rasulullah saw dinyatakan “apabila telah datang bulan ramadhan, syetan-syetan diikat...” (HR. Muslim)

Syetan-syetan diikat maksudnya, hawa nafsunya (keburukan) menjadi lemah. Sehingga godaan-godaan itu tidak ada lagi. Tetapi karena nafsunya kebal dan kuat, tak jarang meski bulan ramadhan masih banyak yang tidak berpuasa. Inilah salah satu alasan kenapa bulan ramadhan disebut juga sebagai bulan kejujuran.

Bulan kejujuran, maksudanya bukan bulan yang terbebas dari kata-kata bohong. Tetapi yaitu dimana bulan yang menunjukan siapasih diri kita yang sesungguhnya. Jika ingin tahu siapa diri kita yang sesungguhnya maka lihatlah diri kita pada bulan ramadhan, apa sajakah yang kita lakukan, manakah yang lebih dominan. Kebaikankan ataukah sebaliknya.

Jika kita mau berubah, tentu semuanya bisa berubah. Tergantung lagi dengan kesiapan terhadap pengorbanan tadi. Siap berkorban untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap manis dan memilih jalan yang pahit, ataukah tetap memilih si manis. Seberapa besar pengorbanan itu ada dalam diri kita saat ini. Anda berani??... Alahu’alam[]