Slider

Kilas Berita

Catatan Kami

REFLEKSI

pojok asatidz

Pojok Santri

pojok alumni

Dokumentasi / Foto - Foto

4 Cara Mudah Hidup Bahagia

Hidup di dunia yang hanya sebentar ini tidak akan pernah lepas dari goncangan dan godaan. Karena goncangan, kita bisa jadi menangis. Karena godaan, kita bisa jadi terlena. Dan selama kita masih hidup di dunia, maka kita tidak akan pernah bisa mengharapkan untuk tidak pernah merasakan sakit. Tapi karena sakit itulah, maka kita bisa menemukan indahnya kenikmatan Allah.

Orang beriman bukanlah orang yang tidak pernah sedih. Orang beriman bukan orang yang tidak pernah marah. Orang beriman bukan orang yang tidak mungkin tergelincir. Tapi orang beriman adalah orang yang selalu berusaha menyandarkan segala permasalahan dan kebutuhannya hanya kepada Allah.

Orang beriman selalu bahagia dan enteng menjalani hidup karena dia TAAT, ISTIQOMAH, RENDAH HATI, dan BAIK SANGKA.

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menghina mereka, mereka membalas dengan ucapan doa ‘Salam’ (QS Al Furqon 63).”

Sesungguhnya setan tidak pernah dan tidak akan pernah mampu menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah Jala Jalalluh (Q.S. An-Nahl : 99).

Ada orang yang taat, tapi menjalani ketaatannya tidak istiqomah. Apalagi buruk sangkanya selalu dituruti. Sudah pasti hidupnya menderita. Kenapa? Karena orang yang buruk sangka maka dunia seluas ini seakan menjadi sempit baginya. Jalan ke sana, ketemu orang yang wajahnya kusut sedikit, dia sudah mikir, “pasti dia begini, pasti dia begitu”. Melihat orang yang tiba-tiba tertawa di depannya, mendadak hatinya langsung kemrungsung, “dia pasti begini, dia pasti begitu”. Orang yang kerjanya buruk sangka itu capek, ikhwah.

Kalau dia taat, istiqomah, baik sangka, tapi tidak rendah hati, maka hidupnya juga tidak mungkin bahagia. Bagaimana mungkin orang yang sombong bisa bahagia? Orang yang sombong, tidak tahan celaan. Tidak tahan hinaan. Terlebih lagi, dia tidak tahan pujian.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘ala kullihaal…” Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang bisa memberi dan mencabut kenikmatan. Kadang, saat Allah kasih kita sakit gigi. Bisa sampai berhari-hari kita mengeluhkan sakit giginya saja. Berobat kemana-mana. Muka dan hati kusut berhari-hari. Seakan-akan kalau giginya itu gak sembuh, maka hidupnya sudah gak nyaman, gak betah, gak suka, gak ridho.

Dia lupa, bahwa Allah masih menjaga jantungnya, agar tetap berdegub, jadi dia masih bisa hidup, darahnya masih bisa mengalir. Dia lupa, bahwa Allah masih menyehatkan kaki dan tangannya, agar bisa berjalan ke dokter dan tangannya masih bisa ngusapin pipinya yang lagi sakit gigi itu. Dia lupa sama nikmat Allah yang lain.

SubhaanAllah… Semoga Allah selalu kasih kita nikmat sehat yang manfaat. Aamin Allahumma aamin.

Sumber : smstauhiid.com

Penyakit Hati : Cinta Dunia

Salah satu rahasia kesuksesan Rasulullah Saw adalah terbebas dari penyakit hubbuddunya atau cinta dunia. Hingga akhir hayatnya, kemuliaan nama beliau tidak memiliki cacat sedikitpun, karena beliau bersih dari penyakit hati tersebut.

Rasulullah Saw bersabda, ”Akan terjadi masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat Islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.” Lalu, seorang sahabat bertanya, ”Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian banyak. Namun, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit Wahn.” Sahabat bertanya lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang engkau maksud dengan Wahn itu?” Rasulullah menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menyampaikan kepada kita bahwasanya kecintaan berlebihan terhadap hal-hal duniawi bisa menjadi penyebab kehancuran seorang muslim secara khusus dan umat Islam secara umum.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin yang dihormati dan disegani berbagai peradaban besar dunia. Namun, beliau sama sekali tidak dikotori dengan kecintaan pada dunia.

Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin besar yang hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah sosok pengusaha yang dititipi limpahan dunia oleh Allah Swt, namun hal itu tidak membuat beliau diperbudak oleh dunia.

Jika orang sudah mencintai sesuatu, maka dia cenderung akan diperbudak oleh apa yang dicintainya itu. Misalnya adalah saat kita punya sandal yang bagus dan mahal, kita akan merasa bangga walau status sandal itu adalah pinjaman atau kreditan. Setiap kali kita bepergian, pandangan kita banyak tertuju kepada sandal itu dan sangat khawatir terinjak oleh orang lain. Ketika memasuki masjid, maka kita akan sangat berhati-hati menyimpannya.

Jika ada penitipan barang, kita pun bersegera menitipkannya karena takut ada yang mencurinya. Jika tidak ada tempat penitipan, maka kita akan mencari tempat atau posisi shalat yang berdampingan dengan tempat kita menyimpan sandal, dan mengenyampingkan shaf paling depan yang masih kosong. Seperti inilah gambaran seseorang yang diperbudak dunia.

Ciri-Ciri Orang yang Cinta Dunia
Pertama, seperti rata-rata orang yang jatuh cinta, pecinta dunia pun akan membicarakan terus-menerus tentang segala apa yang dicintainya kepada orang lain. Topik pembicaraan dan arah aktifitas yang dilakukannya adalah untuk hal duniawi. Manakala seseorang senang membicarakan hal-hal yang dicintainya dari pagi hingga pagi lagi, maka kemungkinan besar penyakit itu telah menggerogoti hatinya.

Kedua, pecinta dunia tidak pernah merasa tenang karena dunia telah mencuri hatinya. Perasaan tidak puas bercampur dengan perasaan was-was. Akhirnya, hidupnya pun ikut berantakan.

Meski dunia juga lekat dengan kehidupan Rasulullah Saw, namun hal itu tidak berhasil mencuri hati beliau. Saat Rasulullah Saw memiliki baju bagus dan ada orang yang menyukainya, maka beliau memberikannya. Beliau tidak merasa keberatan untuk memberikan apa yang beliau miliki dan beliau sukai. Beliau punya kuda yang sangat bagus. Jika ada orang lain yang membutuhkannya, maka beliau akan memberikannya dengan ringan. Beliau tidak pernah berpikir apalagi berbuat aniaya.

Ketiga, penyakit cinta dunia akan menimbulkan penyakit-penyakit lain seperti penyakit sombong, dengki, serakah, dan lain sebagainya. Seorang pecinta dunia tidak akan merasa puas. Ia tidak akan sanggup menyaksikan orang lain yang memiliki segala sesuatu melebihi dirinya. Timbul rasa iri dengki di dalam hatinya.

Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan atau keberhasilan. Dia menjadi orang yang serakah, tidak mau berbagi dengan orang lain. Andaikan bisa, maka dunia ini akan dia tempati sendirian saja.

Orang yang serakah akan stres memikirkan satu ekor domba yang dimiliki tetangganya. Padahal dia sudah punya 100 ekor domba di kandang di belakang rumahnya. Hatinya tidak tenang. Ia berpikir keras bagaimana agar satu ekor domba milik tetangganya itu menjadi miliknya sehingga menggenapi jumlah dombanya menjadi 100 ekor.

Tidak ada salahnya kita meniru tukang parkir yang memiliki rumus untuk tidak bersikap sombong dan tidak merasa takut kehilangan sesuatu. Berapa pun banyaknya kendaraan yang diparkir di tempatnya, tidak dia pandang sebagai miliknya. Karena dia sadar bahwa semuanya adalah titipan.

Dia pun yakin bahwa kendaraan-kendaraan itu akan diambil kembali oleh para pemiliknya. Dia merasa hanyalah dititipi sementara oleh pemiliknya. Dia tidak merasa sombong, padahal di tempatnya ada banyak kendaraan mewah berderet. Saat pemiliknya akan mengambil kembali kendaraan itu, maka dengan lapang dada dia akan menyerahkannya.

Segala sesuatu di dunia ini yang kita anggap milik kita, sebenarnya adalah milik Allah Swt. Dia menitipkannya kepada kita. Allah Swt pasti akan mengambilnya kembali. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah mutlak milik Allah Swt. Kita hanya diamanahi untuk mengurusnya.

Semua yang sempat kita miliki di dunia akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti di hadapan Allah Swt. Apakah uang yang sempat kita miliki, kita belanjakan di jalan Allah atau tidak? Apakah selama kita di dunia menunaikan kewajiban zakat atau tidak? Apakah rumah yang kita tinggali digunakan untuk kepentingan ibadah ataukah tidak?

Kita tidak perlu merasa hina karena tinggal di rumah yang sederhana dengan furniture yang tidak bagus. Kita tidak perlu merasa kecil hati hanya karena memiliki sedikit pakaian dalam lemari kita. Kita tidak perlu merasa hina karena Islam mengajarkan bahwa kekuatan dan nilai seseorang tidak diukur pada kekayaan duniawinya, melainkan pada kekayaan hati dan jiwanya atau ketakwaannya kepada Allah Swt.

Perbedaan Pecinta Allah dan Pecinta Dunia
Jangan sampai kita diperbudak oleh keinginan duniawi semata yang hanya mengikuti dorongan hawa nafsu. Kita harus memiliki keinginan terhadap sesuatu yang Allah lebih sukai dan ridhai.

Di situlah letak perbedaan antara pecinta dunia dengan pecinta Allah Swt. Keduanya memang sama-sama sibuk untuk mengejar apa yang diinginkannya. Tapi bisa jadi dalam mengejar dunia, pecinta Allah-lah yang lebih sibuk daripada pecinta dunia. Karena bagi pecinta Allah, setiap hal yang dilakukannya di dunia adalah ibadah.

Ketika mengejar dunia, seorang pecinta Allah akan sangat menjaga nilai kemuliaannya sehingga dia mendapatkan dirinya lebih berharga dari dunianya. Jika dunianya habis, maka tidak akan hilang kemuliaan dari dirinya. Saat mendapatkan dunianya, seorang pecinta Allah akan mendistribusikannya untuk kepentingan akhiratnya. Dia akan mendorong orang lain agar sejahtera dengan kekayaan miliknya.

Sebaliknya, seorang pecinta dunia akan membelanjakan apa yang dimilikinya sekehendak nafsunya. Ia hanya akan mendahulukan kesenangan dan tidak peduli sama sekali terhadap orang lain.

Seorang pecinta dunia akan semangat mencari kekayaan namun tidak berempati apalagi sekedar peduli jika perilakunya merugikan orang lain. Ia menghalalkan berbagai cara. Kedhaliman yang dia lakukan tidak ia sesali. Dengan demikian, kedudukan pecinta dunia ini adalah lebih hina daripada dunianya. Buktinya adalah dia hanya bisa menjadi budak dari dunia yang dimilikinya.

Sumber : smstauhid.com

Pesan Berharga Dari Permen

Saya pacu sepeda motor bebek yang saya kendarai secepat mungkin. Bukan tanpa alasan saya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kala itu saya mengejar waktu dan berburu tiket kereta api. Saat itu sedang musim liburan, dan pada tanggal itu juga saya harus berangkat ke Jogja. Jika tidak cepat-cepat memesan tiket pasti kehabisan.

Sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba bermasalah. Gas nya sudah tidak berfungsi dan jalannya tersendat-sendat. Ini pasti bensin nya habis, tebak saya dalam hati. Dalam posisi itulah saya berusaha mencari tempat jualan bensin eceran. Tepat di warung penjual bensin eceran itu pula sepeda motor itu terhenti.

Setelah dibuka dan dicek, ternyata betul. Bensin nya kering kerontang. Saya langsung membeli bensin. Kebetulan penjaga warung nya langsung paham. Langsung membawa satu botol bensin yang isinya satu liter, tak lupa di tangan kirinya menggenggam corong yang sudah disambung dengan selang.

Selesai menuangkan bensin, uang pecahan sepuluh ribu saya serahkan kepada ibu penjaga warung. Sebentar ia masuk dan keluar lagi. Di tangan ibu itu ada uang kembalian dan dua buah permen yang didominasi dengan warna merah. Uang itu saya terima dan dimasukan kedalam kantong, saya penasaran dengan dua buah permen tadi.

Begitu saya lihat, ternyata ada tulisan yang membuat saya merasa diingatkan. Ternyata tulisan yang ada di permen itu bisa memberikan dampak yang positif. Tulisan dari dua permen itu "sabar... dan belum terlambat"

Dua permen ini sengaja saya simpan dan akhirnya saya abadikan. Ternyata sesuatu yang bentuknya sekecil ini mampu memberikan dampak yang sangat besar. Kala itu saya sedang terburu-buru dan mengejar tiket kereta supaya tidak kehabisan. Tapi setelah membaca dua tulisan dari permen tersebut, saya pun langsung tersadar.


Memaknai Kemeredekaan Yang Sesungguhnya

Pada tanggal 17 Agustus kita biasa mengadakan upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak terasa saat ini kita merdeka sudah 68 tahun, selama itu pula  kita hanya mampu mempringatianya melalui serangkaian upacara bendera (seremonial). Tanpa mampu untuk memaknai kemerdekaan yang hakiki.

Dalam kamus online, merdeka itu diartikan bebas, yaitu bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Atau bebas juga dapat diartikan berdiri sendiri. Merdeka juga diartikan tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu atau disebut juga leluasa.

Pengertian-pengertian yang terdapat dalam kamus seperti di atas menunjukan dengan jelas bahwa itulah makna kemerdekaan secara garis besarnya. Tetapi, dalam  ruang lingkup kecil seperti di sekeliling (lingkungan) kita, nyatanya belum. Berapa banyak penduduk yang masih memiliki hambatan ekonomi, tuntutan dari sana-sini, dan mereka masih bergantung kepada pihak-pihak tertentu.

Berarti jika kita tarik kesimpulan sementara, kita ini belum merdeka 100 persen. Penjajah yang dulu dapat diusir dari negri ini telah kembali dengan wajah yang berbeda. Jika penjajah dahulu begitu tampak dan nyata adanya, tapi penjajah saat ini sangat sulit untuk dikenali. Ia berada disekeliling bahkan masih berkewarganegaraan Republik Indonesia. Siapakah dia??

Ya itulah mereka, Si KORUPTOR. Merekalah yang saat ini menjadi musuh kita bersama. Penjajah masa kini yang dengan sadis membantai dan membunuh masyarakat indonesia secara perlahan-lahan. Rakyat berteriak kesusahan, sedangkan ia duduk manis dengan segudang kemewahan. Rakyatnya mengalami kesulitan disana-sini tetapi hal itu ia jadikan sebagai ladang bisnis.

Jika negri ini dipenuhi penjajah-penjajah seperti mereka, maka sampai kapan kemerdekaan yang hakiki itu kita rasakan. Haruskah negri ini di bom atom lebih dulu... agar semuanya bisa kembali dan bangkit seperti negri sakura; jepang.

Atau,  cara yang kedua. Perketat pasal-pasal yang terdapat pada Undang-Undang. Siapa yang jelas-jelas korupsi, maka hukumannya adalah hukum mati. Karena korupsi yang saat ini melanda sudah sangat mengkhawatirkan. Terlebih uang yang mereka korupsi sama dengan menyangkut nyawa dan kehidupan (kemaslahatan) umat manusia. Dengan demikian maka efek jera pun akan terbangun.

Sedangkan cara yang ketiga, seluruh pejabat yang terindikasi kotor maka dipecat dari jabatannya, kemudian diganti dengan yang lebih bersih. Jika terbukti melakukan korupsi maka negara berhak untuk memiskinkan keluarganya seumur hidup.

Semoga secercah harapan ini masih ada... Selamat hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke 68 tahun. Mari mengabdi untuk negri, serta berantas korupsi sejak dini. (Zah/)

Puasa Melatih Kedewasaan Dan Keimanan Diri

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah [02] : 185)

Alhamdulilah pada kesempatan tahun ini kita diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa ramadhan. Tak bisa kita lupakan, salah satu kenangan yang begitu besar dalam sejarah negri ini yiatu kemenangan yang dinanti oleh seluruh rakyat indonesia (merdeka) didapatkan pada saat bulan ramadhan pula. Begitu bahagia kala itu bisa lepas dari penjajah yang ratusan tahun menjajah negri tercinta ini.

Jika kita menengok ke belakang, ternyata bulan ramadhan memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari negri kita ini, bahkan bulan ramadhan telah memberikan semangat dan kekuatan yang begitu besar bagi rakyat Indonesia. Meski jumlah pahlawan yang terbatas dan bersenjatakan bambu runcing, ternyata mampu mengusir penjajah dari negri ini.

Inilah salah satu kebesaran Allah swt yang telah menunjukan kebesarannya. Sebagai generasi bangsa, inilah yang harus kita ingat dan renungkan, tanpa campurtangan Allah semua ini tak akan pernah berhasil, bahkan bisa dikatakan mustahil. Tetapi ditangan Allah tak ada yang mustahil, meski bambu melawan peluru tak sulit bagi rabbku untuk memusnahkan musuh-musuhku.

Tak hanya itu, tentu keberhasilan kemerdekaan itu juga ditopang dengan kebersatuan, kebersamaan serta kekokohan diantara pejuang negri ini. Dengan menjunjung tinggi prinsip ini, mereka mengesampingkan ras dan golongan. Tujuan mereka satu, yaitu memperjuangkan kemerdekaan negri ini dengan tumpah darah mereka, tanpa tawar-menawar lagi.

Seandainya para pejuang itu masih hidup hingga saat ini tentu akan menangis, miris dan selalu bersedih. Bhineka tunggal ika hanya tinggal nama, tetapi faktanya kini sudah tak ada. Belum lagi dalam ajaran agama islam yang dianut oleh sebagian besar rakyat indonesia seolah lupa akan ajaran tuhannya. Padahal, sudah tertulis jelas dalam al-Quran : "Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali Imron [03] 103.)

Saat ini kita terjebak dalam ranah perbedaan pendapat yang akhirnya tidak menemukan titik temu. Fanatisme muncul dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling baik dan paling benar. Salah satu contoh ialah terkait penentuan kapan mulai dan akhir puasa, yang sering menjadi pembicaraan hangat diawal bulan ramadhan setiap tahun.

Jika meminjam istilah yang digunakan oleh Dr. Malik Madani, M.A., dalam pola keberagamaan kita hanya difokuskan pada pembetukan dan pembinaan sholih al-ibadah (keshalilahan dalam ibadah, keshalihan ritual). Kita hanya mengukir-ukir dan membagus-baguskan sholat saja, sehingga berujung pada perdebatan yang berlarut-larut hingga sampai sesat-menyesatkan.

Inilah kesalahan  yang terjadi, kebanyakan yang dituju dan yang dicari hanya shalih dalam ibadah saja (tata cara sholat). Padahal jika kita renungkan, dalam ajaran Rasulullah saw, tujuan akhirnya adalah untuk shalih al-akhlaq (keshalihan akhlaq). Agama itu datang untuk membetuk moral melalui ibadah, mislanya melalui sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Sehinga, jika sholatnya baik sudah pasti yang lainnya mengikuti.

Mensikapi Perbedaan

“Ya Allah, lunakkanlah hati kami sehingga kami bisa berlapang dada menghargai adanya perbedaan faham dan keyakinan, tanpa harus menghujat bahkan menyakiti hati orang lain yang tidak sefaham dengan kami, Aaamiiin.” Tulisan ini saya dapatkan dari jejaring sosial milik Dr. Junanah, MIS.

Kedewasaan dalam perbedaan itu sangat perlu, sikap ini telah ditunjukan oleh beliau sehingga kita harus menirunya. Semua memiliki argumentasi, dan semua memiliki pilihan untuk memilih yang sesuai dengan diri kita masing-masing. Tidak perlu saling menghujat atau malah lebih dari itu. Oleh karenanya mari kita renungkan bersama kaliamt ini, “Kalian ber-Tuhan satu, bernabi satu, berkitab satu, berkeyaknan satu, tapi kenapa dalam berkehidupan kalian bercerai-berai...?”

Alternatif yang kedua, ketika mensikapi perbedaan ini bisa dengan cara yang lain. Misalnya seperti Gus Nuil dalam sebuah tulisannya. “Kita ini memang bangsa bawel yang kurang proporsional, hanya gara-gara menentukan puasa ributnya setengah mati. Padahal setelah ditentukan harinya mereka juga kadang jarang berpuasa dan menggunakan alasan macam-macam untuk tidak berpuasa.

Sebenarnya puasa itu ada dalilnya; Shumu li ru'yati wa aftiru li ru'yati," berpuasalah kamu setelah melihat bulan dan ber-idul fitri-lah kamu dengan melihat bulan. Nah kalau dengan mata telajang tidak kelihatan maka genapkan sebulan penuh. Sederhana bukan? Jadi, mau berpuasa tanggal 9 sialahkan,  mau puasa tanggal 10 juga silahkan. Tidak puasa pun tidak masalah, wong perintah puasa itu untuk orang yang beriman, bukan untuk yang baru berkelas Islam syahadat tho...”

Puasa dan Mu’min
Ayat tentang puasa (Al-Baqarah  [02] : 183) dimulai dengan menyeru kepada orang-orang yang beriman (yâ ayyuha al-ladzîna âmanû...) dan tidak untuk yang lainnya. Jelas bahwa apa yang disampaikan oleh Gus Nuril, bahwa hanya orang-orang yang berimanlah yang mendapatkan perintah puasa, bukan kepada orang islam yang berkelas syahadat. Kedua kelas ini jelas sangat jauh berbeda.

Dalam agama islam, ada dua rukun yang wajib kita jalani. Rukun islam (arkanu al-islam) dan rukun iman (arkanu al-iman). Kedua rukun ini kita laksanakan secara berbarengan, rukun islam dikerjakan dalam bentuk dzohir (tampak). Misalnya syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan rukun iman yaitu mempercai hal-hal yang gaib (tidak tampak), Allah, Malaikat, Kitab (wahyu), Rasul (utusan Allah), Hari Qiyamat dan Qada-qadar.

Jika kita urutkan tingkatannya, islam (muslim) itu yang pertama, kedua ialah iman (mu’min) dan yang terakhir ialah ihsan (muhsin). Jadi, kedudukan iman itu lebih tinggi daripada islam. Iman itu artinya percaya. Orang yang beriman percaya kepada Allah dengan sepenuhnya, dan tidak setengah-setengah.

Iman itu tidak hanya dalam ucapan belaka, atau pun hati saja, tetapi iman itu dimplementasikan dengan tiga unsur tadi. “al-qoulu bi al-lisan, wa al-tasdiqu bi al-jinan wa al-‘amalu bi al-arkan” artinya : Diucapkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati dan dikerjakan dengan segenap anggota badan. Sehingga ucapan, hati dan tindakannya semuanya sudah didasarkan kepada Allah swt dan akhirnya melekat dalam dirinya dan menjadi sebuah sifat.

Inilah iman yang sesungguhnya. Tidak banyak orang yang mampu menggabungkan ketiganya, kadang baru sekedar tahu, tapi dalam hati belum bisa menerima. Bahkan ada juga yang sudah mantap dilidah, sudah diyakini dengan hati, tetapi belum mampu dalam tindakan. Artinya belum bisa sepenuhnya menjaga diri dari keburukan, maksiat, dan dosa-dosa kecil yang lainnya.

Jika sudah demikian, dimanakah level iman kita saat ini? Sudah sampai tahap mana? Apakah baru sekedar lidah, atau hati? Atu malah baru kelas syahadat. Kita renungkan kembali kualitas keimanan dalam diri masing-masing. Sebab keimanan seseorang menentukan kualitas ibadahnya.

Ikhhtitâm
Kedewasaan dalam mensikapi awal dan akhir ramadhan perlu dibudayakan. Sebab hal ini hanya ranah khilafiyah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah memiliki dasar yang jelas, tidak perlu mencari siapa yang paling benar ataupun sebaliknya. Sebetulnya yang salah adalah yang tidak menjalankan puasa.

Orang yang mengaku beriman, tetapi tidak berpuasa (tanpa sebab udzur), dipertanyakan keimanannya. Boleh jadi, keislamannya baru sampai kelas syahadat. Berarti ia belum beriman, orang islam (muslim) belum tentu beriman (mu’min), tetapi orang yang beriman (sesuai dengan arkanu al-iman) sudah pasti islam.

Ramadhan merupakan bulan yang paling ampuh dan tepat untuk menyucikan diri (tazkiyah an-nafs). Dengan berpuasa kita dituntut untuk menjaga diri dari sifat-sifat hewani dan mengumbar nafsu. Sebab dengan berpuasa semua sifat-sifat ini dapat dikendalikan dan diminimalisir. Pada bulan Ramadhan ini juga dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak kebaikan (amal shalih). Selain pahalanya dilipatgandakan, ternyata hal tersebut merupakan sebagai alat terapi, supaya terbiasa melakukan hal-hal yang baik akhirnya akan melahirkan pribadi yang baik pula.

Oleh karenanya, maka kebaikan itu seharusnya terus dijaga supaya terus istiqamah, meskipun ramadhan sudah lewat. Salah satu tolak ukur, untuk mengukur ramadhan itu berbekas atau tidak, cukup dengan melihat before dan after-nya saja. Apakah ada perubahan sebelum dan setelah ramadhan? Disinilah akan terlihat jelas dampaknya. Allahu’alam []

Amir Hamzah
Santri PONPES UII

Ramadan, Bulan Pendewasaan Diri

Ramadan kali ini tentu sangat berbeda bagi saya. Ini juga mungkin yang disebut sebagai pendewasaan diri. Bahkan jika kita kembali ke sejarah nabi Muhammad SAW, beliau diangkat menjadi rasulullah pada usia 40 tahun. Kenapa demikian? Jawaban sederhananya ialah karena pada usia 40 tahun tingkat kematangan seorang manusia betul-betul melekat dalam dirinya.

Setelah menjalani beberapa ibadah pusa dari tahun ke tahun rasanya puasa itu sama saja. Malahan, seolah tidak ada bekas ataupun perubahan yang saya rasakan sama sekali. Berdasarkan renungan, dan muhasabah diri akhirnya saya bertekad ramadan kali ini harus betul-betul bermakna buat saya, hingga bertemu dengan ramadan tahun depan (saya optimistis).

Kesempatan kali ini tidak boleh disia-siakan. Sebab ramadan kali ini merupakan momen yang tepat untuk "back to" jalan yang lurus. Saya tidak tahu bahwa tahun yang akan datang akan Allah berikan kesempatan lagi untuk bertemu dengan yang mulia ini. Saya sadar bahwa perubahan seseorang itu tidak dengan cara yang instan, tetapi butuh proses bahkan hingga membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Selain sebagai bulan pendewasaan diri, bulan ramadan kali ini bagi saya sebagai bulan pembelajaran. Saya sangat antusias menyaksikan kajian tafsir Al-Misbah yang dibawakan oleh Prof. Quraish Shihab. Dari pesan-pesan yang disampaikan oleh beliau saya seolah mendapatkan "amunisi" yang baru untuk lebih giat belajar lagi. Terutama belajar dengan kehidupan.

Banyak hal yang saya dapatkan pada ramadan kali ini. Ruh spiritual maupun jiwa sosial saya seolah terpanggil, keduanya seolah hidup. Terasa seperti dua bluetooth handphone yang sedang mengirimkan file dari satu handphone ke handphone yang lainnya.

Saya teringat dengan isi ceramah salah satu ustadz dalam satu kajian. Ustadz tersebut menyampaikan bahwa proses dari "âmanû" menuju ke "mu’minûn" itu butuh proses. Saat ini kita masih mengalami metamorfosa dari yang namanya âmanû (orang yang beriman) menuju kepada mu’minûn (orang yang sudah betul-betul beriman). Proses inilah yang harus kita sadari, sehingga sebisa mungkin proses ini dijaga dari sebab-sebab kerusakannya.

Oleh karenanya, ramadan merupakan bulan yang sangat tepat untuk melakukan "metamorfosis" diri agar menjadi lebih baik lagi. Saya baru menyadari bahwa kenapa pada saat ramadhan setiap muslim dianjurkan untuk berbuat baik, menahan amarah, manahan nafsu dan keburukan-keburukan yang lainnya, yang dikatakan dapat merusak pahala puasa.

Tujuannya hanya satu, yaitu sebagai pembiasaan diri dalam menjadi pribadi yang baik. Dengan kebiasaan-kebiasaan itulah secara otomatis akan menyatu dalam diri dan akhirnya menjadi sebuah sikap bahkan lebih dalam lagi bisa menjadi sebuah sifat. Sehingga sangat disayangkan jika taka da perubahan sedkit pun yang didapatkan dari bulan yang mulia ini. Allahu’alam.
____________
* Tulsian ini pernah dipos kan oleh okezone.com

Puasa; Amalan Yang Berdimensi Ganda

Puasa ramadan merupakan perintah Allah SWT yang dibebankan kepada manusia yang sudah memenuhi syarat, salah satunya yaitu sudah baligh. Baligh itu ada tendensinya, jika dilihat dari segi umur yaitu untuk laki-laki 15 tahun sedangkan untuk perempuan sembilan tahun.

Adapun parameter kedua setelah umur yaitu apabila sudah mengalami "mimpi basah" untuk laki-laki dan menstruasi untuk perempuan. Secara ilmu fiqih, puasa diartikan menahan diri dari segala yang membatalkan mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan diri dari makanan, tidak bersetubuh di siang hari dan hal-hal yang mampu membatalkan puasanya. Jika melihat kepada ilmu fiqih tentu siapapun sudah bisa dipastikan mampu melaksanakannya, dan inilah yang kebanyakan kita lakukan di bulan ramadhan sebelum-sebelumnya.

Maksudnya adalah puasa yang kita jalani hanyalah sebuah ritual yang menggunakan kacamata ilmu fiqih. Lalu bagaimana ketika kita berpuasa tetapi tidak pernah sholat lima waktu, selalu berkata kotor, dan keburukan-keburukan lainnya? Apakah puasa kita memiliki nilai? Apakah tidak berpengaruh dengan puasa kita?

Di sini lah kenapa kita tidak harus berpuasa hanya menggunakan kacamata ilmu fiqih saja. Dalam ilmu fiqih, ketika kita berpuasa tetapi tidak salat dan berkata kotor, selama tidak makan, minum dan yang dapat membatalkan lainnya, tentu puasanya tetap sah. Tetapi dalam ilmu tasauf puasa yang kita lakukan hanyalah perbuatan sia-sia. Allah SWT tidak butuh dengan puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga semata.

Dimensi Ganda
Jika ditinjau dari aspek lain, secara vertikal puasa itu merupakan keshalihan individual sedangkan secara horisontal mengarah kepada keshalehan sosial. Betapa tidak, ketika kita berpuasa secara tidak langsung rasa kepekaan sosial itu telah tumbuh. Sehingga para fuqaha menyebut puasa itu dengan amalan yang berdimensi ganda; yaitu vertikal dan horisontal.

Tak hanya puasa saja, banyak amalan yang memiliki dimensi ganda, salah satunya adalah berqurban, seperti yang kita lakukan pada hari raya ‘Id Al-Adha. Ibadah puasa tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah swt semata, tetapi bagaimana menumbuhkan sikap kepedulian kita terhadap sesama.

Kepedulian terhadap orang lain yang memiliki nasib yang tidak seberuntung dengan saudaranya yang lain. Mereka hidup dalam kekurangan, keterbatasan dan kesulitan. Itu lah kenapa Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang tidak mampu berpuasa supaya menggantinya dengan memberi makan orang miskin (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Berkenaan dengan orang tua yang sebelumnya biasa berpuasa lalu karena ketuaannya dia tidak mampu lagi berpuasa, dan wanita hamil yang tidak ada kewajiban puasa atasnya, maka bagi setiap orang dari kedua  golongan ini ada kewajiban memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang dilewatinya dalam bulan Ramadan.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang fidyah, tetapi mereka sepakat dengan memberi makan orang miskin (fidyah) ini. Hanya saya yang menjadi perbedaan di antara fuqoha dalam ukuran fidyah itu sendiri yang harus diberikan kepada orang miskin.

Selain itu, kita dianjurkan untuk membayar zakat (bagi yang mampu). Zakat ditunaikan guna mensucikan jiwa dari sifat kikir, tamak, dan cinta kepada harta (hubb ad-dunya) serta membersihkan harta dari hak orang lain yang melekat pada harta seseorang. Bahkan zakat juga membersihkan hati dari rasa dengki terhadap orang yang berharta, dan zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka.

Dalam al-Qur’an perintah untuk mengeluarkan zakat diulang sebanyak 33 kali yang hampir seluruhnya disebut setelah perintah melakukan salat. Hal ini mengisyaratkan bahwa perintah mengeluarkan zakat sejajar dengan perintah shalat, sehingga diharapkan terwujudlah keseimbangan antara manusia dengan Allâh dan manusia dengan sesamanya. (hablun min an-nas wa hablun min allâh) (At-Taubah [09] : 103).

Adapun mereka yang berhak menerima zakat ada delapan golongan (At-Taubah [09] : 60). Itulah hikmah kenapa perintah sholat disandingkan dengan printah berzakat. Sebab menurut Ust. Toto Tasmara, dalam bukunya. Ketika sholat yang kita lakukan dalam bentuk ibadah ritual formal (gerakan takbir hingga salam) selesai, tetapi sejatinya "salat aktual" (dalam bentuk ibadah sosial) kita belum selesai. Justru dengan salat aktual inilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan “tiket” masuk supaya bertemu denganNya. (Al-Kahfi [18] : 110)

Penutup

Seperti sudah disampaikan di awal, bahwa puasa memiliki nilai ibadah yang berdimensi ganda, salat, zakat pun demikian. Dengan ibadah-ibadah seperti ini seharusnya seorang muslim mampu menjadikan dirinya lebih baik lagi. Keshalihan individual tidak berguna jika keshalihan sosial kita abaikan. Keduanya harus berjalan berdampingan, tidak boleh dibiarkan terpisah.

Selain diperintahakan untuk mentaati Allah SWT dan Rasulullah saw kita juga diperintahakan supaya berbuat baik. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda: khair an-nas ‘anfa’uhum li an-nas “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Itulah kenapa dua keshalihan itu sangat dianjurkan.

Alhamdulillah saat ini kita berada dibulan ramadan, yang mana bulan ini merupakan pendidikan bagi diri kita. Mendidik supaya memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Tak hanya itu, di bulan yang suci ini kita seolah ditunjukan bahwa siapa sesunguhnya diri kita yang sebenarnya. Seberapa besar kualitas ibadah, kepedulian, dan seberapa kuat istiqamah yang kita miliki. Allahu’alam.[]

_______________________-
Tulisan ini, diterbitkan kampus.okezone.com dalam kolom Opini (sumber)

Puasa dan Pengorbanan

Berkorban merupakan tindakan yang sangat sulit dilakukan. Sudahkah kita berkorban untuk orang lain? Seberapa sering kita berkorban? Pertanyaan ini sebetulnya hanya menyentil sedikit saja tentang siapa sih diri kita ini. Salah satu contoh, misalkan uang yang dikantong pas-pasan, terus ada orang minta tolong, apakah kita rela dengan sepenuh hati terus dikasihkan. Atau malah bilang maaf gak punya...

Pengorbanan itu mudah, tapi sebetulnya sulit. Tadi, yang kita bahas ialah tentang pengorbanan terhadap orang lain, bagaimana dengan pengorbanan terhadap diri sendiri? Nah lho kena juga kan. Pengorbanan apa saja yang sudah kita lakukan terhadap diri sendiri?? Sudahkah mengorbankan uang jajan untuk membeli buku (tapi bukan paksaan dosen, pacara atau etc. lah).

Berkorban untuk orang lain maupun untuk diri sendiri ternyata sama tidak enaknya. Betul gak? Ya, sebab keduanya sama-sama berada pada posisi yang bertentangan. Kedua hal yang bertetangan inilah yang akhirnya membuat bingung, batin atau hati kecil kita dipertaruhkan. Tetapi yang dominan justru hawa nafsu yang mampu mengendalikannya.

Puasa ramadhan merupakan bulan pelatihan diri (training to self). Melatih diri supaya lebih matang dalam bersikap. Bahkan menumbuhkan kembali kekuataan spiritual yang telah lama dikuasai oleh hawa nafsu. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits rasulullah saw dinyatakan “apabila telah datang bulan ramadhan, syetan-syetan diikat...” (HR. Muslim)

Syetan-syetan diikat maksudnya, hawa nafsunya (keburukan) menjadi lemah. Sehingga godaan-godaan itu tidak ada lagi. Tetapi karena nafsunya kebal dan kuat, tak jarang meski bulan ramadhan masih banyak yang tidak berpuasa. Inilah salah satu alasan kenapa bulan ramadhan disebut juga sebagai bulan kejujuran.

Bulan kejujuran, maksudanya bukan bulan yang terbebas dari kata-kata bohong. Tetapi yaitu dimana bulan yang menunjukan siapasih diri kita yang sesungguhnya. Jika ingin tahu siapa diri kita yang sesungguhnya maka lihatlah diri kita pada bulan ramadhan, apa sajakah yang kita lakukan, manakah yang lebih dominan. Kebaikankan ataukah sebaliknya.

Jika kita mau berubah, tentu semuanya bisa berubah. Tergantung lagi dengan kesiapan terhadap pengorbanan tadi. Siap berkorban untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap manis dan memilih jalan yang pahit, ataukah tetap memilih si manis. Seberapa besar pengorbanan itu ada dalam diri kita saat ini. Anda berani??... Alahu’alam[]  


Refleksi Isra Mi’raj; Apakah Allah Membersamai Kita Dalam Sholat…??

Kala itu, pasca ditinggalkan oleh istri tercinta, Rasulullah SAW mengalamai kesedihan yang bagitu dalam. Sehingga peristiwa itu disebut dengan tahun kesedihan (‘am alhuzn). Rasulullah manusia biasa, seperti halnya manusia yang lain, maka wajar beliau mengalami kesedihan tatkala sang istri tercinta telah tiada. Akhirnya Allah SWT menghibur beliau dengan cara Isra wa almi’raj.

Konsep Isra itu banyak yang menafsirkan sebagai hablun min annas atau hubungan dengan sesama manusia (hubungan sosial). Sedangkan konsep Mi’raj adalah hablun min allah. Dengan kata lain keduanya disebut dengan hubungan horisontal dan vertikal. Dalam agama islam kedua-duanya harus betul-betul saling berkaitan, sehingga muncul istilah kesalehan sosial dan kesalehan individual.

Kesalehan individual yaitu kesalehan seseorang terhadap ajaran agama dan tuhannya. Jika seseorang sudah betul-betul baik agamana maka sudah bisa dipastikan baik masalah ke-sosial-annya. Karena ajaran agam itu sejatinya mengajarkan untuk berbuat baik dengan sesama, saling menolong, memberi, mengingatkan dan lainnya.

Kesalehan sosial merupakan kesalehan yang berada di “luar”. Bagaimana bergaul, bertetangga, bersikap dan lain sebagainya. Lebih detail lagi mislanya bagaimana kita menghormati tetangga tanpa melihat agamanya dan juga bukan status sosialnya. Dalam sebuah syair …kelawan konco, dulur lan tonggo… kang padha rukun padha ngasio.. iku sunahe rasul kang mulyo nabi muhammad panutan kito….

Untuk itulah rasulullah SAW setelah isra mi’raj “dihadiahi” sholat lima waktu. Sholat itu merupakan obat bagi Rasulullah supaya tidak terus-terusan sedih, karena dengan sholat seseorang akan merasa tenang (semuanya dikembalikan kepada allah Qs. Thaha : 14). Tak hanya itu sholat juga mempu menciptakan seseorang jadi lebih baik bahkan keshalihan sosial dan individualnya bertambah baik (Al Ankabut : 45 ).

Yuk sama-sama kita perbaiki sholat dan introspeksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjadi pribadi yang terus bertambah baik setelah menunaikan sholat?? Setiap hari kita sholat lima waktu, tetapi apakah Allah membersamai kita dalam sholat??…..

Selamat pagi, dan semoga bermanfaat…

Nasihat Hidup

Bulan April kemarin menyimpan banyak kenangan. Ada dua sosok yang fenomenal yang begitu menggelitik untuk di telisik lagi. Sekitar tanggal 18 April 2013 salah satu sosok yang luar biasa dengan karyanya yiatu Mbah Warson. Siapa yang tidak kenal dengan kamus Indonesia – Arab yang diberi nama Kamus Al- Munawwir.

Bagi pondok-pondok pesantren kamus tersebut begitu familiar setelah kamus Munjid, karangan orang non muslim. Ada yang mengatakan bahwa kamus Al-Munawwir merupakan kamus kritik bagi kamus Munjid yang begitu kental dengan ‘misionaris’. Salah satu contoh yang paling bisa disaksikan adalah tidak ada lafadz basmalah dalam kitab Munjid. Tak hanya itu, kosa kata tentang ketauhidan selalu disandarkan pemahaman Nasrani.

Kembali kepada topik awal, tepat seminggu setelah Mbah Warson wafat. Salah satu artis, penceramah, model, ikon, ustadz, tetapi saya lebih pas menyebutnya dengan sebutan penceramah, ia adalah Uje. Gayanya yang khas membuat dirinya diberikan gelar “Ustadz Gaul.” Beliau wafat karena kecelakaan dari sepeda motor dalam perjalanan menuju ke rumah.

Ada yang menarik dari Uje ini, sebelum meninggal ia sempat membuat firasat. Tetapi tak ada sau pun yang menangkap bahwa hal tersebut merupakan tanda-tanda perpisahan terakhir dengan orang-orang yang dicintainya. Uje sempat menuliskan kata-kata terakhirnya dalam twitter :
 "Pada akhirnya.. Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yg terbaik.. Kembali pada siapa..??? Kpd "DIA" pastinya.. Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut..”
Semoga keduanya berada disisi Allâh swt. Atas semua amal kebaikan yang pernah mereka lakukan semasa hidupnya. Semoga kelak kita semua kembali kepada Allah dengan khusnul khotimah. Amin.

Inilah kematian, kita tidak pernah tahu kapan akan datang menghampiri. Hari ini, esok, lusa, minggu depan atau bahkan bulan depan, sekali lagi kita tidak tahu semua itu. Untuk itu maka perbanyaklah amal shaleh untuk bekal nanti. Karena hanya dengan bekal itulah kita akan selamat dari semua siksaan Allâh swt.

Setiap diri yang bernyawa akan menemui kematian. Manusia tidak ada yang bisa lari dari yang namanya mati. Dimana pun bersembunyi tetap saja kematian itu akan mendatangi kita. “Dimana pun kamu berada, kelak kematian akan menemukan mu. Meskipun kamu bersembunyi di benteng yang sangat kokoh.... ” ayat lain menjelaskan bahwa “Apabila ajal seseorang sudah tiba, maka ia tak mampu menundanya maupun mempercepatnya....”

Untuk itu jelas sudah, bahwa cukuplah kematian sebagai nasihat bagi yang hidup. Tak ada yang perlu dibangggakan dalam hidup ini, karena semuanya tidak akan dibawa mati. Duni hanyalah tempat persinggahan sementara, sedangkan tempat yang baik dan lagi abadi adalah akhirat. “Dan alam akhirat adalah tempat yang paling baik lagi abadi.wallâhu ‘alam []


Kisah-Kisah Teladan Hidup

Belajar dari Ghandi
Suatu hari ada seorang ibu membawa anaknya datang kepada Gandhi, dan berkata,”gandhi maukah engkau menasehati anak saya ini? Dia mempunyai sebuah penyakit yang untuk kesembuhannya ia tidak boleh mengkonsumsi garam. Tolong beri nasehat kepadanya untuk tidak makan garam. Saya dan keluarga bahkan dokternya pun sudah berulang kali menasehatinya, namun dia masih tetap masih makan garam. Saya sudah kehabisan kata-kata, tolong saya siapa tahu dia akan menurutimu.”

Dengan senyum dan suara lembut Ghandi berkata “ibu sekarang saya tidak bisa berkata apa-apa, silakan Ibu pulang dan bawa anak ibu kesini minggu depan.

Ghandi,  kata ibu itu, “anak itu di depanmu sekarang, tidak bisakah kamu sekarang menasihatinya? Ghandi dengan senyum yang selalu di bibirnya hanya menggelengkan kepalanya yang menandakan tidak.

Dengan perasaan campur aduk, ibu itu pulang dan tepat satu minggu mereka berdua ada di hadapan Ghandi. Saya sudah menunggu satu minggu, kata Ibu itu kepada Ghandi. Sekarang berikan nasiahat itu. Kemudian Ghandi datang dan mendekati ke anak itu dan menasehatinya untuk tidak makan garam. Apa yang dikatakan Ghandi tidaklah istimewa, tidak ada satu pun yang baru, hanya sebuah nasihat yang sederhana, tidak lebih.

Pada saat itu sang Ibu merasa sedikit kecewa karena dalam penantiannya satu minggu dia  berharap Ghandi akan melakukan sesuatu yang lebih daripada kata-kata yang biasa.

Tidak lama kemudian Ghandi meminta Ibu dan anak itu untuk pulang, kali ini perasaan ragu-ragu menyelimuti si ibu. Si ibu tidak yakin ini akan berhasil. Namun yang terjadi sebaliknya, anak ini berhenti makan garam. Ibunya berpikirr mungkin ini hanya akan terjadi satu atau dua kali hari, tetapi kenyataannya lebih dari itu, anak tersebut total berhenti makan garam selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Didorong rasa penasaran yang tinggi seorang diri ibu itu datang menghadap Ghandi untuk ketiga kalinya dan langsung bertanya “Ghandi rahasia apa yang kamu miliki sehingga kamu bisa membuat anak saya berhenti makan garam? Tanya si ibu. “kata-katamu yang kamu ucapkan adalah kata-kata biasa saya sering menasehatinya dengan cara yang sama menurut saya dokternya menasehati dengan cara yang lebih baik, tapi mengapa anak saya menurut kepadamu?

Dengan lembut Ghandi menjawab pertannyaan ibu dengan jawaban “ibu masih ingat pada saat pertama kali ibu kesini dan saya meminta ibu datang satu minggu kemudian “?

Ya itu kenapa, terus terang saya masih penasaran” sahut ibu itu dengan cepat.

Pada saat itu saya belum bisa menasehati anak ibu untuk makan garam, karena saat itu saya masih  mengonsumsi nya. Sepulang ibu saya saya berhenti makan garam, sampai kemudian ibu datang lagi, baru saya bisa berbicara untuk tidak makan garam ke anak ibu.

Banyak Tanya Tidak Baik

Seorang buta jatuh kedaam sumur.seseorang kebetulan lewat  disana dan krena meras kasihan melihat keadaan orang yang menyedihkan itu, ia menawarakn jasa untuk menarik orang buta itu kelauar dari sumur tersebut.untuk maksud tersebut, dia kemudian melemparkan seutas tali yang  panjang ke dalam sumur dan menyuruh orang buta itu untuk memegangnya agar dapat di tarik keluar.

Orang buta itu tidak langsung memegang tali itu tapi malah mengajak sang penolong itu berdebat secara panjang lebar yang tidak ada gunanya. Orang yang buta itu bertanya bagaimana ia bisa sampai jatuh kedalam sumur yang begitu dalam, siapa orang yang pertama kali mempunyai ide membuat sumur, mengapa orang yang baik hati itu mau menariknya keuar, apakah ia memiliki maksud tertentu dengan menolongnya, apa jaminan kalau ia tidak akan jatuh lagi kedalam sumur itu atau sumur yang lain, dan sebagainya.

Semua omong kosong itu membuat kesabaran penolong yang baik hati itu habis, tetapi dengan tenang ia menjawab bahwa dia sekarang harus memegang tali itu demi kebaikannya sendiri. penolong itu juga mengtakan bahwa setelah ia di tarik keluar, ia boleh mempelajari keadaannya dan mencari jawabannya sendiri dengan tenang. Sekali lagi si buta itu mengajukan pertanyaan yang buak-bukan. Dia bertanya mengapa orang yang membawa tali itu tidak jatuh kedalam sumur, sang penolong itu kemudian mengatakan bahwa dia masih memiliki banyak tugas lain dan bahwa dia akan terpaksa  meninggalkan orang buta itu di dalam sumur bila ia tidak mau keluar dengan segera.

Baiklah, kata orang buta itu, tapi sebelum itu, tapi katakanlah pada saya berapa dalam sumur ini dak kapan ia  dibuat.

Yah ia cukup dalam untuk dapat menjadi kubur bagi orang seperti engkau, kata si penolong sambil meninggalkan dia.

Awas Jangan Salah
Ada seorang usahawan yang bertemu dengan seorang nelayan  yang sedang santai duduk di pinggir pantaidan terlihat sanagt menikmati suasana saat itu.

“mengapa engkau tidak pergi untuk menangkap ikan? Tanya usahawan itu.

Karena iakn yang ku tangkap telah menghasilkan banyak uang untuk makan hari ini, jawab nelayan itu dengan polosnya.

Kenapa engkau tidak menangkap lagi lebih banyak dari pada yang kau perlukan? Tanya sang usahawan.

Untuk apa? Tanya nelayan sesederhana itu.

“engkau akan mendapatkan uang lebih banyak, jawabnya. “dengan uang itu engkau dapat membeli jala yang lebih besar sehingga tangkapanmu ebih banyak, terus engkau akan mendapatkan banyak uang sehingga bisa membeli perahu motor. Dan dengan perahu motor engkau akan melaut lebih jauh dan akan mendapatkan ikan yang lebih banyak lagi... nah segera uangmu cukup untuk membeli dua buah kapal. Lalu kaupun akan kaya seperti aku.”

“selanjutnya akau mesti berbuat apa

Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup, kata si pengusaha. “menurut mu sekarang aku ini sedang berbuat apa?” kata nelayan puas.

Elang Yang Malang
Suatu hari seorang petani menemukan telur burung elang setelah di bawa pulang, sang petani meletakan telur burung elang itu dikandang ayam bersama telur ayam yang lainnya. Beberapa hari kemudian telur elang itu menetas, si elang kecil tumbuh dan menikmati dunia sekitarnya, dia berjalan seperti induknya, si ayam, mematuk-matuk makanan seperti saudara-saudaranya dan bermain dengan ayam-ayam yang lainnya.

Sewaktu yam itu sudah menjadi dewasa, dia melongok keatas langit dan melihat ada sebuah makhluk terbang membelah langit dengan gagahnya, elang dewasa itu bertanya kepada orang tua nya, makhluk pakah itu?

Induknya menjawab ”oh ituraja dari segala raja burung, namanya burung elang, kita hanya seekor ayam tidak mungkin bisa terbang seperti itu.”  Hingga ajalnya, elang tersebut mati sebagai ayam.

Raja Salah Kaprah
Ada seorang raja yang menderita sakit kepala berkepanjangan, sehingga sulit untuk disembuhkan dan memanggil juru sembuh,  raja tersebut berkeliling ke beberapa negara untuk memperoleh kesembuhannya. Sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang tabib yang sangat sederhana tetapi kesaktiannya tidak diragukan lagi. Ketika sang raja mengeluhkan sakitnya, tabib itu dengan enteng menjawab “yang di perlukan paduka adalah sering-sering melihat warna hijau” setelah berucap begitu sang tabib dan juga petapa itu dengan santainya membalikan badan dan mennggalkan raja.

Karena kesohornnya, raja percaya kepada tabib itu,dan dia kembali kekerajaannya dan mengintruksikan agar semua benda di sekelilingnya di ganti warna hijau, dari cat tembok, seragam tentara, sampai gelas dan piring. Setelah itu, benar, ternyata sakit yang di derita sang paduka raja sembuh. Raja sangat bahagia dengan kesembuhannya, walaupun ada beberapa kerabat yang tidak suka dengan apa yang terjadi, karena kini tidak ada warna lain selain hijau.

Beberapa bulan kemudian, raja mendengar bahwa tabib yang pernah menyembuhkan nya berada di kota mana dia tinggal. Raja meminta perajurit untuk menjemput tabib sakti itu ke kerajaannya. Setelah bertemu, raja memberikan hadiah serta menjamu orang yang berjasa ini. Raja mengajak tabib berkeliling sambil memperlihatkan bahwa apa yang dinasihatkan nya telah dilaksanakan dan benar terbukti menyembuhkannya.

Tabib itu dengan sangat tenang dan muka yang datar berkata “baginda, apa yang anda lakukan? Mengapa anda mengubah istana menjadi satu warna?” dalam kebingungan baginda menjawab, “bukankah itu yang kau sarankan, agar saya banyak melihat warna hijau?”

“ya, saya memang bilang begitu, namun mengapa anda ganti semuanya yang ada di sekitar dengan warna hijau, bukankah lebih bijak bila anda sendiri yang memakai kacamata berwarna hijau.”

Harta Bukanlah Segalanya
Sebuah berita berhembus di penduduk desa tentang sebuah batu permata bernilai selangit yang dimiliki seorang petapa sederhana yang tinggal di pinggiran hutan. Setelah bertahun-tahun, seorang pemuda pembernai mendatangi petapa tersebut, bukan hanya ingin bertanya, namun ingin meminta batu mulia itu. “ini ambil, ini untukmu,” kata petapa itu tanpa beban.

Pemuda itu kegirangan dan pergi setelah mengucap terima kasih. Malam datang, namun pemuda yang beruntung ini tidak bisa tidur, pikirannya tidak bisa diam. Tanpa mampu menunggu matahari terbit, pemuda ini pergi kembali ketempat petapa itu dengan batu di tangan dan jesesakan di pikirannya. Di depan petapa itu, dia menyodorkan kembali benda yang belum genap 24 jam menjadi miliknya itu, sambil berkata, “hai orang suci, ambilah permata ini kembali, namun berikan hati penuh ikhlas yang mampu memberikan intan ini.”

Sungguh Memilukan
Tersebutlah seorang pahlawan besar persia bernama Rustam dan Sohrab. Mereka adalah ayah dan anak, namun mereka tidak pernah bertatap muka sampai suatu hari mereka harus beradu pedang, berjuang mati-matian di area pertempuran. sebagai dua komandan dari dua pasukan yang saling bermusuhan.

Cerita ini dimulai saat Rustam harus meninggalkan rumah beberapa saat setelah kelahiran putranya, Sohrab, untuk pergi mengemban tugas sebagai komandan dari sang raja persia. Tugas itu adalah menaklukan dunia. Sebelum meninggalkan kedua orang yang di cintainya Rustam memberiakn jimat kepada isterinya, dan berpesan agar jimat itu di ikatkan di tangan kanan anaknya sehingga dia akan mengenali anaknya bila suatu saat bertemu.

Sejak usia belia putra komandan persia ini menggabungkan diri nya dengan pasukan yunani. entah karena bakat turunan atau faktor lainnya, karir Sohrab dalam ketentaraan melejit bagaikan rising star. Kemampuan dan kekuatanya menghantarkan dirinya menjadi komandan pasukan yunani dalam waktu singkat.

Ketika suatu hari  kedua negara tersebut bertemu di medan pertempuran, berjumpalah sang anak dan ayah, mereka tidak menegnali satu sama lain. Mereka bertempur habis-habisan selama lima belas hari tanpa berhenti. Rustam mulai kehabisan tenaga dan dengan cara yang licik berhasil membuat putranya tersandung dan terjatuh. Kemudian dengan sekuat segera kesempatan baik itu tidak di sia-siakan, Rustam menikam Sohrab tepat di dadanya. Sohrab menjerit” hai orang malang! Berhati-hatilah terhadap balas dendam Rustam, ayahku. Untuk perbauatn keji ini, dia pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal kepadamu.”

Bagai disambar petir di siang bolong, Rustam terhuyung-huyung ketika mengenali jimat yang ada di lengan kanan Sohrab. Tubuh Rustam seakan menggigil bisu, dia mendekap Sohrab dan mencium dahinya,”anakku... anakku. Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan? Ampun..ampun..ya tuhan.”

Luka yang diderita putranya sangat berbahaya.secepat kilat dia menunggang kuda nya dan menuju sang raja, satu-satunya orang yang mempunyai obat penyembuh untuk luka yang  tergolong berat. Tetapi, sangraja yang telah mendengar kehebatan Sohrab menolak  permintaan Rustam. Bagikan pengemis Rustam mengiba menjatuhkan diri dikaki sang Raja, sambil meyakinkan raja bila kelak anaknya sembuh, anaknya akan menggantikan dirinya dan lebih berhasil dalam misi menklukan dunia. Sang raja tetap bergemaing. Sementara itu, Sohrab telah meninggal sebelum ayahnya kembali. Sewaktu Rustam melihat jenazah anaknya, dia jatuh pingsan dan kehilangan ingatan.

Diambil dari buku;Happiness Inside - Penulis Gobind Vashdev, Penerbit: Hikmah, Jaksel